Ilustrasi: Simbol pencegahan terhadap perilaku negatif.
Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya memiliki karakter atau akhlak yang mulia (*akhlak mahmudah*). Sebaliknya, Islam secara tegas melarang dan mengutuk segala bentuk akhlak tercela (*akhlak madzmumah*). Akhlak tercela bukan hanya merusak hubungan individu dengan Tuhannya, tetapi juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial dan kedamaian batin seseorang. Memahami akhlak tercela adalah langkah pertama dalam membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada keridhaan Allah SWT.
Definisi dan Dampak Akhlak Tercela
Akhlak tercela adalah segala perilaku, ucapan, dan sifat batin yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Sifat-sifat ini seringkali berakar dari hawa nafsu, kebodohan spiritual, atau kurangnya kontrol diri. Dampaknya sangat luas; secara personal, akhlak tercela menyebabkan kegelisahan, rasa bersalah, dan hilangnya ketenangan hati. Secara sosial, akhlak ini memicu permusuhan, ketidakpercayaan, dan kehancuran tatanan masyarakat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Ini menunjukkan betapa fundamentalnya etika dalam Islam. Jika seseorang rajin beribadah tetapi perilakunya buruk, maka timbangan amalnya kelak akan berat sebelah.
Jenis-Jenis Akhlak Tercela yang Harus Dihindari
Terdapat banyak sekali jenis akhlak tercela, namun beberapa di antaranya sangat dominan dan sering menjadi cobaan bagi umat Muslim:
1. Kesombongan (Kibr)
Kesombongan adalah rasa merasa lebih unggul dari orang lain, baik dalam hal ilmu, harta, nasab, maupun penampilan. Ini adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Adam AS. Kesombongan menutup pintu seseorang untuk menerima kebenaran dan nasihat. Ciri utamanya adalah menolak kebenaran, meremehkan manusia lain, dan membanggakan diri sendiri.
2. Hasad (Dengki)
Hasad adalah perasaan tidak suka melihat kenikmatan yang dirasakan orang lain, dan berharap nikmat tersebut hilang darinya. Berbeda dengan *ghibthah* (iri hati yang sehat, yaitu berharap mendapatkan kenikmatan serupa tanpa mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain), hasad bersifat merusak. Hasad adalah racun yang membakar pahala dan menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah.
3. Riya’ (Pamer)
Riya’ adalah melakukan amal kebaikan dengan tujuan dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan semata-mata karena mencari ridha Allah. Riya’ sangat berbahaya karena ia dapat menggugurkan seluruh pahala amal ibadah yang telah dilakukan. Meskipun di permukaan terlihat taat, motivasi batinnya telah tercemar oleh keinginan akan pujian duniawi.
4. Ghibah (Fitnah) dan Namimah (Adu Domba)
- Ghibah: Mengungkit keburukan orang lain yang benar-benar ada, meskipun tanpa ada niat jahat, ia tetap dilarang keras. Al-Qur'an menyamakannya dengan memakan daging bangkai saudara sendiri.
- Namimah: Menyebarkan perkataan atau berita dari satu orang ke orang lain dengan tujuan memecah belah dan menimbulkan perselisihan. Namimah adalah jalan pintas menuju kehancuran hubungan sosial.
5. Sifat Tamak dan Kikir
Tamak (rakus) adalah keinginan yang berlebihan terhadap harta dunia tanpa pernah merasa puas. Sifat ini seringkali mendorong seseorang untuk mencari harta dengan cara yang haram. Berlawanan dengan tamak, kikir adalah keengganan untuk berbagi rezeki yang telah dimiliki, padahal kedermawanan adalah ciri utama orang bertakwa.
Jalan Menuju Pembersihan Akhlak
Mengatasi akhlak tercela memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Proses ini dikenal sebagai mujahadah an-nafs (perjuangan melawan hawa nafsu).
- Muhasabah (Introspeksi Diri): Senantiasa mengevaluasi perilaku sehari-hari. Tanyakan pada diri: "Apa yang telah kulakukan hari ini karena Allah, dan apa yang karena ingin dilihat manusia?"
- Tunduk pada Ilmu: Mempelajari secara mendalam dalil-dalil syar'i mengenai keburukan sifat-sifat tersebut. Ilmu yang benar akan menumbuhkan rasa takut (khauf) kepada Allah.
- Pergaulan yang Baik: Lingkungan sangat memengaruhi akhlak. Berkumpul dengan orang-orang yang baik dan saleh akan mendorong kita untuk meneladani kebaikan mereka.
- Memperbanyak Doa: Memohon pertolongan kepada Allah agar dijauhkan dari sifat-sifat buruk dan dianugerahi sifat-sifat terpuji.
Membersihkan hati dari akhlak tercela adalah jihad terbesar. Dengan berjuang melawan sifat-sifat buruk, seorang Muslim tidak hanya mendapatkan ketenangan di dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhiratnya.