Al-Qur'an adalah kalamullah, firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk, rahmat, dan cahaya bagi seluruh umat manusia. Memiliki sebuah kitab suci yang agung menuntut umat Islam untuk memiliki hubungan yang spesial, yang termanifestasi dalam bentuk **akhlak terhadap Al-Qur'an**. Akhlak ini bukan sekadar ritual ibadah formal, melainkan mencakup tata krama, penghormatan, pemahaman, dan pengamalan isinya dalam setiap aspek kehidupan.
1. Penghormatan dan Pemuliaan Lafazh
Langkah pertama dalam membangun akhlak yang benar adalah memuliakan mushaf Al-Qur'an. Penghormatan ini tampak dari cara kita memperlakukan fisik kitab suci itu sendiri. Mushaf harus diletakkan di tempat yang tinggi, bersih, dan terhormat, jauh dari kotoran, najis, atau tempat yang merendahkan. Adab ini menunjukkan pengakuan bahwa yang kita pegang adalah wahyu dari Sang Pencipta alam semesta.
Sebelum menyentuh atau membacanya, seorang Muslim dianjurkan untuk berwudhu. Ini adalah bentuk penyucian lahiriah sebagai cerminan kesiapan hati untuk menerima pesan ilahi. Tidak hanya itu, membaca Al-Qur'an dengan tartil (perlahan dan benar tajwidnya) juga merupakan bagian dari pemuliaan lafadz. Membaca dengan tergesa-gesa, meskipun sering, kurang menunjukkan penghormatan yang layak terhadap keagungan kalam tersebut.
2. Tadabbur dan Pemahaman Makna
Akhlak tertinggi terhadap Al-Qur'an melampaui batas bacaan fisik semata; ia menuntut pendalaman makna. Ayat-ayat Allah diturunkan untuk dipahami (*tadabbur*), direnungkan, dan diambil hikmahnya. Jika seseorang hanya rajin membaca tanpa pernah berusaha memahami apa yang dibacanya, maka ia belum sepenuhnya menunaikan hak Al-Qur'an.
Tadabbur membantu kita melihat ayat-ayat sebagai nasihat yang relevan dengan situasi kontemporer. Kita diajak merenungkan janji-janji Allah, ancaman-Nya, kisah-kisah umat terdahulu, serta hukum-hukum yang mengatur kehidupan sosial dan pribadi. Akhlak dalam konteks ini adalah kerendahan hati untuk menerima kebenaran yang mungkin bertentangan dengan hawa nafsu atau pandangan duniawi kita.
3. Pengamalan Sebagai Manifestasi Cinta
Apabila penghormatan adalah bagian lahiriah dan tadabbur adalah bagian intelektual, maka pengamalan adalah puncak dari akhlak Al-Qur'ani. Al-Qur'an adalah manual kehidupan, dan meneladaninya adalah bukti cinta sejati seorang hamba kepada Rabb-nya. Sahabat Nabi yang paling mulia, Aisyah RA, pernah berkata bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa Islam telah terinternalisasi sepenuhnya dalam tindak tanduk beliau.
Pengamalan mencakup:
- Mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya.
- Mengambil Al-Qur'an sebagai standar dalam mengambil keputusan hidup.
- Menyebarkan nilai-nilai keadilan, kasih sayang, dan moralitas yang terkandung di dalamnya kepada sesama.
Seseorang yang perilakunya mencerminkan nilai-nilai Qur'ani akan menjadi dakwah berjalan yang paling efektif dan elegan. Ia menjadi bukti hidup bahwa Al-Qur'an bukan sekadar teks kuno, melainkan sumber hukum dan etika yang hidup.
4. Menjaga Batasan dalam Diskusi dan Kritik
Dalam era modern, di mana diskusi mengenai teks suci sering terjadi, akhlak terhadap Al-Qur'an juga mencakup cara kita membahasnya. Membawa nama Al-Qur'an dalam perdebatan harus selalu dilandasi rasa hormat dan keilmuan yang memadai. Menggunakan ayat-ayat secara sembarangan, di luar konteks (out of context), atau dengan tujuan provokasi adalah bentuk pengabaian terhadap kemuliaan wahyu.
Ketika kita tidak memahami suatu ayat, akhlak yang baik adalah bertanya kepada ahlinya (ulama atau ahli tafsir yang kredibel), bukan membuat interpretasi pribadi yang menyesatkan. Kehati-hatian ini penting agar kehormatan Al-Qur'an tetap terjaga dari penafsiran yang menyimpang.
Kesimpulan
Akhlak terhadap Al-Qur'an adalah sebuah spektrum hubungan total antara pembaca dan kitab sucinya. Mulai dari kesucian fisik saat memegang mushaf, ketekunan dalam membaca dan mentadabbur maknanya, hingga yang paling puncak, yaitu menjadikan setiap ayat sebagai pedoman hidup yang diimplementasikan dalam setiap gerak dan diam. Membangun akhlak ini adalah investasi abadi, karena sesungguhnya, Al-Qur'an adalah pemberi syafaat bagi mereka yang benar-benar menjadikannya sahabat sejati.