Akhlak terhadap orang tua adalah salah satu pilar utama dalam ajaran moralitas universal dan agama mana pun. Kedudukan orang tua sangatlah tinggi, sebab merekalah perantara datangnya kita ke dunia ini. Setelah ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua seringkali disebut sebagai kewajiban yang mendesak. Memahami akhlak ini bukan sekadar menjalankan ritual, melainkan penghayatan mendalam terhadap pengorbanan yang telah mereka berikan sejak kita tidak berdaya.
Pengorbanan seorang ibu, misalnya, dimulai sejak mengandung sembilan bulan, melalui perjuangan melahirkan, hingga menyusui dan merawat tanpa lelah. Sementara ayah berjuang membanting tulang demi menafkahi dan memastikan masa depan yang layak bagi anak-anaknya. Mengingat perjuangan ini seharusnya memicu rasa syukur yang besar dalam diri setiap anak, yang kemudian termanifestasikan dalam bentuk perilaku yang mulia.
Berbakti kepada orang tua mencakup spektrum yang luas, meliputi perkataan, perbuatan, hingga niat dalam hati. Secara lisan, kita harus menjauhi segala bentuk perkataan kasar, bentakan, atau bahkan nada bicara yang meremehkan. Sebagaimana diajarkan, kita diperintahkan untuk menggunakan kata-kata yang paling mulia (qaulan karima) dan ucapan yang lemah lembut (qaulan mayyusa). Ini menunjukkan bahwa kesopanan dalam komunikasi adalah fondasi awal akhlak.
Dalam ranah perbuatan, berbakti berarti mendahulukan kebutuhan mereka di atas kebutuhan diri sendiri (kecuali dalam hal kemaslahatan agama). Ketika mereka sudah memasuki usia senja, kebutuhan akan kesabaran dan pendampingan akan semakin besar. Kita harus siap melayani mereka, membantu urusan sehari-hari, dan memastikan kenyamanan serta kesehatan mereka terjamin. Jika mereka meminta sesuatu yang wajar, maka menunda tanpa alasan yang kuat adalah tindakan yang kurang terpuji.
Bakti juga diwujudkan melalui doa. Mendoakan kesehatan, kemudahan, dan rahmat bagi mereka adalah bentuk kepedulian abadi yang tidak terputus meskipun fisik kita terpisah jarak. Bahkan setelah mereka wafat, meneruskan amal jariyah mereka dan memohonkan ampunan adalah bagian integral dari tanggung jawab seorang anak yang berakhlak.
Tidak jarang, dalam perjalanan hidup, anak dan orang tua memiliki perbedaan pandangan, terutama terkait gaya hidup modern atau pilihan karier. Dalam situasi seperti ini, akhlak yang luhur menuntut kita untuk bersikap bijaksana. Sikap argumentatif yang agresif atau membantah secara terbuka dapat melukai perasaan mereka. Kelembutan dalam menyampaikan pendapat, disertai dengan penghormatan atas pengalaman hidup mereka, jauh lebih efektif daripada paksaan.
Kita harus selalu ingat bahwa nasihat dan arahan orang tua seringkali didasari oleh cinta dan pengalaman pahit yang mungkin belum kita alami. Menghormati otoritas mereka, meskipun kita tidak sepenuhnya setuju, adalah bentuk penghormatan terhadap peran pengasuhan yang telah mereka jalankan dengan susah payah.
Akhlak yang baik terhadap orang tua memiliki konsekuensi langsung terhadap kualitas hidup spiritual dan sosial kita. Dalam banyak tradisi, kunci keberkahan hidup sering dikaitkan dengan kualitas bakti kita. Anak yang berbakti cenderung mendapatkan ketenangan batin karena telah menunaikan kewajiban suci. Sebaliknya, menyia-nyiakan orang tua sering dikhawatirkan akan membawa dampak buruk di masa depan, termasuk potensi ketidakberkahan dalam keturunan kita sendiri.
Lebih jauh lagi, cara kita memperlakukan orang tua akan menjadi cerminan utama bagi lingkungan sosial dan bagi anak-anak kita kelak. Anak-anak adalah peniru ulung; mereka akan meniru bagaimana kita berbicara dan bersikap terhadap figur otoritas yang paling dekat dengan kita. Oleh karena itu, memperbaiki akhlak terhadap orang tua adalah investasi jangka panjang bagi perbaikan karakter diri sendiri dan generasi penerus. Kewajiban ini adalah sebuah siklus kasih sayang yang harus dijaga kemurniannya seumur hidup.