Ilustrasi: Keterputusan nilai dalam interaksi sosial.
Kita hidup di era informasi yang serba cepat, di mana kemajuan teknologi dan materi seringkali mendominasi narasi kehidupan sehari-hari. Dalam hiruk pikuk modernitas ini, seringkali kita merasakan ada kekosongan esensial, sebuah kerinduan akan kualitas hubungan antarmanusia yang lebih hangat dan tulus. Fenomena ini sangat relevan dengan kajian mendalam tentang akhlak, sebuah tema sentral yang sering diangkat oleh cendekiawan Muslim terkemuka, Prof. Dr. Quraish Shihab.
Menurut Quraish Shihab, inti dari ajaran Islam bukan semata-mata ritualistik formal, melainkan manifestasi konkret dari nilai-nilai luhur dalam perilaku sehari-hari—yaitu akhlak. Beliau seringkali menekankan bahwa ibadah yang benar harus tercermin dalam perbuatan baik, kejujuran, kasih sayang, dan empati kepada sesama. Namun, pengamatan kontemporer menunjukkan bahwa akhlak ini seolah mengalami erosi signifikan dalam sendi-sendi kehidupan kita.
Salah satu indikasi paling nyata dari hilangnya akhlak adalah defisit empati. Dalam interaksi daring maupun luring, kita menyaksikan peningkatan sikap saling menghakimi, cepat marah, dan minimnya kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain. Quraish Shihab mengingatkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi konsep rahmat (kasih sayang) sebagai sifat dasar Tuhan yang harus dicontoh oleh hamba-Nya. Ketika empati menghilang, maka batas-batas kesopanan dan toleransi menjadi kabur. Kebenaran seringkali dikorbankan demi kepentingan sesaat, sebuah cerminan dari krisis kejujuran kolektif.
Perkembangan pesat media sosial turut memperparah situasi ini. Budaya instan menuntut respons cepat, seringkali tanpa proses perenungan yang mendalam. Dalam ruang digital, anonimitas memberikan izin sosial bagi banyak orang untuk melontarkan kata-kata kasar atau menyebarkan informasi tanpa verifikasi, hal yang sangat bertentangan dengan etika berinteraksi yang ditekankan dalam Islam. Quraish Shihab seringkali mengkritik fenomena ini, mengingatkan bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban. Hilangnya akhlak dalam bermedia sosial adalah pengkhianatan terhadap nilai ihsan (kebaikan paripurna).
Lalu, bagaimana kita bisa memulihkan akhlak yang terasa kian memudar? Quraish Shihab menawarkan solusi yang kembali pada akar ajaran: penguatan pemahaman kontekstual terhadap Al-Qur'an dan teladan Rasulullah SAW. Akhlak mulia tidak diajarkan melalui ceramah semata, tetapi melalui praktik nyata dan keteladanan. Pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan terdekat—keluarga—di mana nilai-nilai dasar seperti hormat kepada orang tua, tanggung jawab, dan integritas ditanamkan sejak dini.
Pemulihan akhlak juga menuntut introspeksi diri secara berkelanjutan. Kita perlu secara sadar mengurangi kecenderungan narsistik yang menempatkan diri sendiri sebagai pusat segalanya, dan mulai memprioritaskan kemaslahatan bersama. Ketika kita mulai peduli pada dampak ucapan dan tindakan kita terhadap lingkungan sekitar, di situlah benih akhlak yang hilang mulai tumbuh kembali. Ini adalah proses yang panjang dan membutuhkan kesabaran, sebagaimana ditekankan oleh para ulama, bahwa pembentukan karakter sejati tidak terjadi dalam semalam.
Pada akhirnya, refleksi Quraish Shihab mengenai akhlak yang hilang adalah sebuah panggilan urgensi. Ini bukan sekadar kritik terhadap kondisi sosial, melainkan undangan untuk kembali pada esensi kemanusiaan dan keagamaan. Ketika kita berhasil menata akhlak kita, maka wajah peradaban kita akan turut membaik.