Ilustrasi metaforis perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan Isra dan Mikraj merupakan salah satu peristiwa paling fenomenal dalam sejarah kenabian. Peristiwa ini melibatkan perjalanan malam (Isra) dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dilanjutkan dengan kenaikan (Mikraj) ke lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha.
Meskipun kisah detailnya banyak ditemukan dalam Hadis sahih, landasan utama dan validitas peristiwa agung ini bersumber langsung dari Al-Qur'an, yang menjadi sumber rujukan tertinggi umat Islam. Pencatatan peristiwa ini dalam Al-Qur'an menegaskan kebenaran janji Allah SWT kepada hamba-Nya yang paling utama.
Ayat sentral yang menjadi pijakan utama dalam membuktikan adanya Isra dan Mikraj terdapat dalam:
QS. Al-Isra' (Al-Isra) Ayat 1:
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Ayat isra miraj tersebut sangat ringkas, namun mengandung makna yang sangat luas dan mendalam. Ayat ini bukan sekadar narasi perjalanan fisik, tetapi juga merupakan penegasan atas status kenabian Muhammad SAW dan manifestasi kekuasaan Allah SWT yang melampaui batas-batas logika manusiawi.
Tanda Kebesaran Allah: Frasa "agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami" mengindikasikan bahwa tujuan utama perjalanan ini adalah untuk memberikan penguatan spiritual kepada Nabi Muhammad SAW setelah melewati masa-masa sulit (Amul Huzn, tahun kesedihan). Beliau diperlihatkan keajaiban alam semesta, struktur langit, dan rahasia penciptaan yang hanya dapat diakses melalui wahyu ilahi.
Konteks Waktu dan Tempat: Disebutkannya Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa secara eksplisit dalam ayat ini mengukuhkan hubungan historis dan spiritual antara tiga masjid suci dalam Islam (Mekkah, Yerusalem, dan Madinah, meskipun Madinah tidak disebut langsung, namun merupakan bagian dari perkembangan Islam setelah Isra).
Ada pula ayat-ayat lain yang sering dikaitkan dengan bagian Mikraj (kenaikan ke atas), yaitu dalam QS. An-Najm ayat 13-18, yang menggambarkan pertemuan Nabi dengan Jibril di Sidratul Muntaha.
QS. An-Najm Ayat 13-14:
"Sesungguhnya (Muhammad) telah melihat Jibril itu pada yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekat surga tempat tinggal. (Ingatlah ketika) Kami mewahyukan kepada Nabi SAW sesuatu yang diwahyukan kepada (Jibril)."
Mengimani peristiwa Isra Miraj adalah bagian integral dari keimanan seorang Muslim terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat, menegaskan bahwa kekuatan waktu dan ruang tunduk pada kehendak Ilahi. Bagi kaum yang meragukan saat itu, kisah ini menjadi ujian keimanan yang memisahkan antara yang benar-benar beriman dan yang masih ragu-ragu.
Kisah ini mengajarkan tentang pentingnya keteguhan hati, bahwa di balik kesulitan terberat (seperti kehilangan orang terdekat dan penolakan kaum), Allah SWT selalu menyiapkan pertolongan dan penguatan yang luar biasa. Ayat-ayat yang menyinggung perjalanan ini berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa realitas spiritual jauh lebih luas daripada apa yang dapat dijangkau oleh indra manusia semata.
Dengan memahami konteks dan makna ayat isra miraj ini, umat Islam dapat mengambil pelajaran berharga mengenai keesaan Allah, kebenaran wahyu, dan kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup.
Peristiwa ini menjadi momentum puncak pembuktian mukjizat kenabian, yang sampai hari ini menjadi inspirasi bagi miliaran umat dalam menjaga spiritualitas mereka di tengah hiruk pikuk dunia modern.