Ilustrasi: Fondasi akidah menjadi sumber cahaya bimbingan bagi umat.
Akidah Islam membimbing umatnya agar memiliki landasan keyakinan yang kokoh dan tak tergoyahkan terhadap prinsip-prinsip dasar agama. Akidah, yang secara harfiah berarti ikatan yang menguatkan, adalah inti spiritual yang menjadi poros seluruh aktivitas seorang Muslim. Tanpa akidah yang benar, ibadah dan amal perbuatan lainnya akan kehilangan makna fundamentalnya. Islam menuntut kejelasan mutlak mengenai siapa Tuhan kita (Allah SWT), apa sifat-Nya, siapa utusan-Nya (Nabi dan Rasul), apa kitab suci-Nya, hingga keyakinan pada hari akhir dan qada (ketentuan) Allah.
Pilar pertama dan paling utama adalah keimanan kepada Tauhid, mengesakan Allah. Ini adalah pondasi yang membedakan Islam dari sistem kepercayaan lainnya. Ketika seorang Muslim teguh pada tauhid, ia memahami bahwa segala sesuatu bermula dan berakhir pada kehendak-Nya. Pemahaman ini secara otomatis membentuk cara pandang (paradigma) seorang mukmin terhadap kehidupan, membebaskannya dari ketergantungan pada selain Allah, baik itu materi, jabatan, maupun takhayul. Akidah yang murni inilah yang menjadi kompas moral dan spiritual.
Fungsi krusial dari akidah Islam membimbing umatnya agar senantiasa berperilaku sesuai dengan tuntunan ilahi. Keyakinan bahwa setiap perbuatan dicatat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT adalah mekanisme pengawasan internal yang paling efektif. Iman kepada hari kiamat menciptakan kesadaran akan konsep ganjaran (pahala) dan hukuman (dosa). Ini mendorong umat untuk menjauhi maksiat dan berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan karena takut pada otoritas duniawi semata, tetapi karena kesadaran akan keadilan ilahi yang absolut.
Selain itu, akidah membentuk sikap mental yang resilien. Ketika seseorang meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi—baik musibah maupun nikmat—adalah bagian dari ketetapan Allah (Qada dan Qadar), ia akan mampu menghadapi kesulitan dengan kesabaran (sabr) dan rasa syukur (syukur). Ia tidak akan jatuh ke dalam keputusasaan yang destruktif, karena ia percaya bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah yang belum terungkap, dan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melampaui batas kemampuannya.
Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai ideologi yang saling bertentangan di era modern, akidah Islam membimbing umatnya agar memiliki filter spiritual yang kuat. Tantangan sekularisme, hedonisme, dan relativisme moral seringkali mengikis pegangan hidup seseorang. Akidah Islam memberikan jawaban definitif atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial: dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan pergi? Jawaban yang jelas ini menjadi jangkar di tengah badai keraguan.
Dengan akidah yang tertancap kuat, seorang Muslim mampu membedakan mana ajaran yang benar dan mana yang menyesatkan. Ia tidak mudah terombang-ambing oleh tren sesaat yang bertentangan dengan prinsip syariat. Akidah ini mendorong upaya pencarian ilmu pengetahuan (termasuk ilmu agama dan dunia) sebagai bagian dari ibadah untuk semakin mengenal kebesaran Allah yang termanifestasi dalam ciptaan-Nya.
Secara ringkas, akidah Islam membimbing umatnya agar menjalani kehidupan secara utuh dan bermakna. Ia bukan sekadar serangkaian dogma yang dihafal, melainkan sumber energi batin yang mengarahkan seluruh perspektif hidup, mulai dari cara bersikap terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, hingga alam semesta. Akidah yang sahih menghasilkan ketenangan jiwa (sakinah), keberanian moral, dan tujuan hidup yang mulia, yaitu meraih keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu, pemeliharaan dan penguatan akidah adalah prioritas utama setiap Muslim sepanjang hayatnya.