Simbol Aksara Cia-Cia
Di tengah gemuruh arus globalisasi yang seringkali menggerus kekayaan budaya lokal, terdapat cerita-cerita inspiratif tentang bagaimana sebuah komunitas berjuang untuk melestarikan warisan leluhurnya. Salah satunya adalah kisah tentang Aksara Cia-Cia, sebuah sistem penulisan unik yang hidup di masyarakat Buton, Sulawesi Tenggara.
Aksara Cia-Cia bukan sekadar rangkaian simbol mati yang tersimpan dalam arsip sejarah. Ia adalah nadi kehidupan budaya masyarakat Buton yang masih berdenyut. Keberadaannya bukan hanya tentang pengenalan kembali tulisan leluhur, tetapi juga tentang upaya untuk menancapkan identitas di tengah dunia yang terus berubah. Upaya ini semakin relevan tatkala banyak aksara tradisional di seluruh dunia terancam punah karena minimnya pengguna dan pewaris.
Aksara Cia-Cia, atau yang juga dikenal sebagai Aksara Wolio, memiliki akar sejarah yang panjang dan kompleks. Sistem penulisan ini diperkirakan telah digunakan oleh masyarakat Buton sejak abad ke-17. Konon, aksara ini merupakan turunan dari aksara Pallawa yang berkembang di India dan kemudian menyebar ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama. Aksara Cia-Cia digunakan untuk menulis bahasa Wolio, bahasa asli masyarakat Kesultanan Buton. Namun, seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh bahasa Melayu serta Latin, penggunaan aksara tradisional ini perlahan memudar.
Menyadari potensi hilangnya warisan budaya yang tak ternilai ini, berbagai pihak mulai tergerak untuk melakukan revitalisasi. Perhatian lebih serius mulai diberikan pada awal tahun 2000-an. Para akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat Buton bersatu padu untuk menggali kembali, mendokumentasikan, dan mengajarkan kembali Aksara Cia-Cia kepada generasi muda.
Secara visual, Aksara Cia-Cia memiliki bentuk yang khas dan elegan. Bentuknya cenderung kurva dan membulat, memberikan kesan lembut namun tetap tegas. Berbeda dengan aksara Jawa atau Sunda yang banyak menggunakan garis tegas, Aksara Cia-Cia lebih mengalir. Setiap karakter mewakili suku kata, yang merupakan ciri khas aksara Brahmi (keluarga aksara yang melahirkan aksara-aksara di Asia Selatan dan Tenggara).
Sistem penulisan Aksara Cia-Cia dilakukan dari kiri ke kanan. Seperti aksara sejenis lainnya, ia memiliki gugus konsonan dan vokal. Tanda diakritik digunakan untuk mengubah bunyi vokal atau menambahkan konsonan tertentu. Keindahan Aksara Cia-Cia tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai alat tulis, tetapi juga pada nilai estetika dan filosofis yang terkandung di dalamnya. Setiap goresan bisa jadi memiliki makna simbolis yang mendalam bagi masyarakat yang menggunakannya.
Kisah keberhasilan Aksara Cia-Cia dalam bangkit kembali patut menjadi inspirasi. Salah satu tonggak penting dalam revitalisasinya adalah ketika aksara ini mulai diajarkan di sekolah-sekolah. Inisiatif ini dipelopori oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Liya di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Melalui program ini, anak-anak usia dini hingga remaja diajak untuk mengenal, membaca, dan menulis menggunakan Aksara Cia-Cia.
Program pembelajaran Aksara Cia-Cia tidak hanya sebatas di lingkungan sekolah. Berbagai kegiatan seperti workshop, seminar, dan pelatihan juga gencar dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap aksara tradisional di kalangan masyarakat luas, bukan hanya anak-anak. Di era digital ini, upaya adaptasi juga dilakukan. Mulai dikembangkan font digital Aksara Cia-Cia yang memungkinkan penggunaannya di komputer dan perangkat seluler.
Pemberitaan dan dokumentasi yang dilakukan oleh media juga turut berperan penting. Ketika Aksara Cia-Cia mulai dikenal oleh khalayak yang lebih luas, dukungan dari berbagai pihak pun mengalir. Hal ini membuktikan bahwa warisan budaya, sekecil apapun itu, memiliki potensi untuk hidup kembali jika ada kemauan dan upaya yang sungguh-sungguh.
Aksara Cia-Cia lebih dari sekadar alat komunikasi tertulis. Ia adalah penjaga memori kolektif masyarakat Buton. Melalui aksara ini, cerita rakyat, legenda, sejarah kesultanan, hingga kearifan lokal dapat diturunkan dari generasi ke generasi. Keberadaannya memperkaya khazanah linguistik dan kebudayaan Indonesia secara keseluruhan.
Dalam konteks global, pelestarian Aksara Cia-Cia juga sejalan dengan upaya internasional untuk melindungi keberagaman budaya. Setiap aksara yang berhasil diselamatkan adalah kemenangan melawan homogenisasi budaya. Ini adalah pengingat bahwa setiap suku bangsa memiliki kekayaan unik yang patut dihargai dan dilestarikan.
Kisah Aksara Cia-Cia adalah bukti nyata bahwa warisan budaya dapat dihidupkan kembali melalui kesadaran, pendidikan, dan partisipasi aktif masyarakat. Ia mengajarkan kita bahwa identitas dan kebanggaan terhadap akar budaya adalah pondasi penting dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan terus merawat dan mengembangkan Aksara Cia-Cia, masyarakat Buton tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga membangun masa depan yang lebih kaya akan warisan.