Ketika kita berbicara tentang kekayaan budaya Indonesia, aksara Jawa atau Hanacaraka tak dapat dipisahkan dari warisan luhur nusantara. Bahasa tulis kuno yang digunakan oleh masyarakat Jawa ini bukan sekadar kumpulan simbol belaka, melainkan cerminan peradaban, filosofi, dan sejarah yang mendalam. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul ketika membahas aksara Jawa adalah mengenai jumlahnya. Pertanyaan sederhana "Aksara Jawa jumlahe ana pira?" (Aksara Jawa jumlahnya ada berapa?) seringkali memicu rasa ingin tahu yang lebih dalam tentang struktur dan ragamnya.
Aksara Jawa termasuk dalam kategori aksara aksara abugida, di mana setiap konsonan memiliki vokal inheren /a/. Vokal ini dapat diubah atau dihilangkan dengan penambahan tanda baca atau sandhangan. Secara umum, aksara Jawa terdiri dari beberapa kategori utama, yaitu:
Ini adalah fondasi dari aksara Jawa. Terdapat 20 aksara nglegena yang utama, masing-masing mewakili bunyi konsonan yang berbeda. Aksara-aksara ini adalah: Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma, Ga, Ba, Tha, Nga. Masing-masing memiliki bentuk unik dan makna tersendiri. Konon, urutan ini bahkan memiliki cerita filosofis yang mendalam tentang penciptaan dan kehidupan.
Berbeda dengan aksara abugida pada umumnya yang mengandalkan vokal inheren, aksara Jawa juga memiliki aksara swara. Aksara swara ini digunakan untuk menuliskan vokal yang berdiri sendiri atau vokal di awal kata. Terdapat lima aksara swara utama: A, I, U, É, dan O. Keberadaan aksara swara ini memberikan fleksibilitas lebih dalam penulisan, terutama untuk kata-kata serapan atau penekanan pada vokal.
Ketika dua konsonan bertemu dalam satu suku kata tanpa vokal di antaranya, konsonan kedua biasanya ditulis dalam bentuk "pasangan". Bentuk pasangan ini kecil dan terletak di bawah aksara konsonan pertama, menandakan bahwa vokal inheren pada konsonan kedua dihilangkan. Terdapat berbagai bentuk pasangan untuk setiap aksara nglegena. Ini adalah salah satu fitur yang membuat aksara Jawa terlihat kompleks namun elegan.
Aksara murda berfungsi seperti huruf kapital dalam alfabet Latin. Aksara ini digunakan untuk menandai awal kalimat, nama orang, nama tempat, atau gelar kehormatan. Aksara murda memiliki bentuk yang berbeda dan lebih "agung" daripada aksara nglegena biasa. Terdapat delapan aksara murda.
Sama seperti alfabet Latin yang memiliki angka, aksara Jawa juga memiliki sistem penomoran sendiri. Angka Jawa memiliki bentuk yang khas dan digunakan dalam penulisan angka, baik untuk urutan maupun kuantitas. Terdapat sepuluh angka Jawa dasar, dari 0 hingga 9.
Sandhangan adalah tanda baca yang melekat pada aksara nglegena untuk mengubah bunyi vokal inheren /a/ menjadi vokal lain seperti i, é, o, u, atau untuk menghilangkan vokal sama sekali. Ada berbagai jenis sandhangan, termasuk sandhangan wyanjana (seperti keret, pengkal, layar, cecak) dan sandhangan panyigeg wanda (tanda mati).
Jika kita hanya menghitung aksara nglegena yang berjumlah 20, maka jawabannya adalah 20. Namun, pertanyaan ini menjadi lebih kompleks ketika kita mempertimbangkan semua elemen yang membentuk sistem penulisan aksara Jawa. Jika kita menghitung aksara nglegena (20), aksara swara (5), aksara murda (8), dan angka Jawa (10), jumlahnya sudah cukup banyak. Belum lagi ditambah dengan berbagai bentuk sandhangan dan pasangan yang jumlahnya bisa dibilang sangat banyak jika dihitung satu per satu.
Oleh karena itu, tidak ada satu angka pasti yang bisa menjawab "aksara Jawa jumlahe ana pira?" tanpa klarifikasi lebih lanjut. Namun, jika pertanyaan tersebut merujuk pada akar atau inti dari aksara konsonan yang digunakan sehari-hari, jawabannya adalah 20 aksara nglegena. Ini adalah fondasi yang memungkinkan pembentukan kata dan kalimat dalam bahasa Jawa. Fleksibilitas dan kekayaan aksara Jawa tidak hanya terletak pada jumlah dasarnya, tetapi juga pada bagaimana kombinasi dan modifikasi dari aksara-aksara dasar tersebut menciptakan sistem penulisan yang kaya dan ekspresif.
Mempelajari aksara Jawa adalah sebuah perjalanan yang mempesona. Memahami jumlah dan ragamnya membuka pintu untuk lebih menghargai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Aksara Jawa bukan hanya sekadar huruf, melainkan seni, sejarah, dan identitas yang terus hidup.