HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4, yang berfungsi melawan infeksi. Ketika sistem kekebalan tubuh menjadi sangat lemah akibat HIV, kondisi ini berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Bagi pria, pemahaman mendalam mengenai penyebab dan cara penularan HIV sangat krusial untuk pencegahan yang efektif.
Apa Itu HIV dan Bagaimana Penularannya?
HIV tidak menular melalui kontak kasual seperti berpegangan tangan, berpelukan, berbagi makanan, atau gigitan nyamuk. Virus ini hanya dapat ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh tertentu dari orang yang terinfeksi ke orang yang sehat. Cairan tubuh pembawa virus meliputi darah, air mani (sperma), cairan pra-ejakulasi, cairan vagina, dan ASI (Air Susu Ibu).
Meskipun penularan dapat terjadi melalui berbagai cara, ada tiga rute utama yang paling sering menyebabkan infeksi HIV pada populasi pria di seluruh dunia:
1. Hubungan Seksual Tanpa Kondom
Ini adalah jalur penularan HIV yang paling umum. Penularan terjadi ketika cairan tubuh yang mengandung virus (air mani atau cairan vagina) masuk ke dalam aliran darah melalui lapisan mukosa (selaput lendir) pada anus, vagina, atau penis, atau melalui luka kecil di area tersebut. Bagi pria, hubungan seksual anal tanpa kondom memiliki risiko penularan tertinggi dibandingkan hubungan seks vaginal tanpa pelindung.
Penting untuk dicatat bahwa risiko meningkat jika salah satu atau kedua pasangan memiliki Infeksi Menular Seksual (IMS) lain, karena IMS dapat menyebabkan luka kecil yang memudahkan virus HIV masuk ke dalam tubuh.
2. Penggunaan Jarum Suntik Bersama
Penggunaan jarum suntik, alat suntik, atau peralatan lain yang terkontaminasi darah dari penderita HIV adalah jalur penularan yang sangat berisiko tinggi. Risiko ini umumnya dihadapi oleh pria yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba suntik (intravena). Selain itu, berbagi alat tato atau tindik yang tidak disterilkan dengan benar juga dapat menjadi faktor risiko, meskipun kemungkinannya lebih kecil dibandingkan berbagi jarum suntik narkoba.
3. Transmisi dari Ibu ke Anak (PMTCT)
Meskipun lebih relevan pada konteks pasangan heteroseksual, pria juga bisa terinfeksi jika pasangannya (seorang wanita) terinfeksi HIV dan kemudian menularkannya kepada pasangannya saat berhubungan seksual. Selain itu, jika seorang ibu mengidap HIV, virus dapat ditularkan kepada bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Jika pria tersebut adalah pasangan seksual dari ibu tersebut, penularan awal seringkali terjadi melalui jalur seksual.
Faktor Risiko yang Meningkatkan Kerentanan pada Pria
Beberapa perilaku dan kondisi tertentu dapat secara signifikan meningkatkan risiko seorang pria terinfeksi HIV. Mengenali faktor-faktor ini adalah langkah pertama menuju pencegahan:
- Pasangan Seksual Berganda: Semakin banyak pasangan seksual yang dimiliki seseorang, terutama tanpa menggunakan kondom, semakin tinggi peluang terpapar virus.
- Pekerja Seksual: Pria yang bekerja sebagai pekerja seks komersial atau yang sering menggunakan jasa pekerja seks memiliki risiko paparan yang lebih tinggi karena frekuensi hubungan seks berisiko.
- Kurangnya Edukasi dan Akses Tes: Ketidaktahuan tentang cara penularan HIV dan keengganan untuk menjalani tes rutin membuat seseorang tidak menyadari status infeksinya, sehingga tanpa sengaja menularkannya kepada orang lain.
- Penyalahgunaan Zat: Penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk membuat keputusan yang aman, seperti menggunakan kondom atau menghindari berbagi jarum suntik.
Perbedaan HIV dan AIDS
Penting untuk membedakan antara terinfeksi HIV dan mengidap AIDS. Seseorang yang positif HIV (ODHA - Orang Dengan HIV/AIDS) belum tentu menderita AIDS. Tanpa pengobatan, infeksi HIV biasanya berkembang melalui beberapa tahap selama bertahun-tahun. Tahap terakhir dari infeksi HIV adalah AIDS. AIDS didefinisikan ketika jumlah sel CD4 seseorang turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah, atau ketika mereka didiagnosis menderita infeksi oportunistik tertentu.
Berkat kemajuan ilmu kedokteran, terutama terapi antiretroviral (ARV), pria yang terinfeksi HIV saat ini dapat hidup sehat dan memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan populasi umum, asalkan mereka secara rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran. Pengobatan yang efektif juga dapat menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah hingga level yang tidak terdeteksi, yang secara efektif menghilangkan risiko penularan virus melalui hubungan seksual (Undetectable = Untransmittable/U=U).