Setiap tahun, bulan September seringkali menjadi momen refleksi mendalam mengenai warisan budaya yang kita miliki. Salah satu warisan terindah dari tanah Jawa adalah aksara Jawa atau Hanacaraka. Bulan ini, terutama bagi para pegiat budaya dan akademisi, menjadi periode yang sangat relevan untuk menggaungkan kembali pentingnya pelestarian aksara yang kaya akan sejarah dan filosofi ini. Mempelajari dan menggunakan aksara Jawa bukan sekadar tentang mengenali bentuk huruf, melainkan menyelami kekayaan intelektual dan spiritual nenek moyang kita.
Di era digital yang serba cepat ini, pertanyaan mengenai relevansi aksara tradisional seringkali muncul. Namun, aksara Jawa menawarkan dimensi yang lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia adalah jendela menuju pemahaman mendalam tentang falsafah hidup masyarakat Jawa, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap bentuknya, serta sejarah peradaban yang telah membentuk Indonesia. Aksara Jawa bukan hanya media tulis, melainkan rekaman budaya yang hidup, penuh makna, dan sarat dengan ajaran kebajikan.
Filosofi yang terkandung dalam urutan huruf Hanacaraka sendiri, misalnya, mengajarkan tentang kehidupan: Hanacaraka (ada utusan), Datasawala (mereka saling berdatangan), Padajayanya (mereka menjadi jaya), Magabathanga (mereka bersatu padu). Ini adalah sebuah narasi ringkas tentang bagaimana kehidupan berjalan, bagaimana sebuah permulaan terjadi, bagaimana perjuangan dimenangkan, dan bagaimana persatuan mencapai kejayaan. Ajaran semacam ini, yang terintegrasi dalam elemen bahasa dan tulisan, sulit ditemukan pada sistem penulisan modern.
Bulan September sering dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi. Seminar, lokakarya penulisan, lomba kreasi aksara Jawa, hingga pameran seni yang mengangkat tema aksara Jawa, biasanya marak diselenggarakan. Ini adalah upaya penting untuk mengenalkan kembali aksara ini kepada generasi muda yang mungkin lebih akrab dengan alfabet Latin. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat aksara Jawa terasa menarik dan relevan bagi mereka. Penggunaan teknologi, seperti aplikasi belajar aksara Jawa, desain grafis berbasis aksara Jawa, atau bahkan konten media sosial yang kreatif, menjadi kunci.
Di sekolah-sekolah, upaya memasukkan aksara Jawa sebagai muatan lokal terus digalakkan. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketersediaan guru yang kompeten dan metode pengajaran yang inovatif. Di luar lingkungan formal, komunitas-komunitas pegiat aksara Jawa berperan vital dalam menjaga denyut nadi pelestarian ini. Melalui pertemuan rutin, diskusi daring, dan proyek-proyek kolaboratif, mereka menciptakan ekosistem belajar yang dinamis.
Setiap karakter dalam aksara Jawa memiliki keunikan visual yang memanjakan mata. Bentuknya yang meliuk, kadang menyerupai tumbuhan merambat atau hewan, mencerminkan kedekatan masyarakat Jawa dengan alam. Banyak penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk aksara Jawa ini tidak hanya estetis, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam, terkait dengan kepercayaan dan kosmologi Jawa. Misalnya, aksara 'ha' yang menyerupai manusia berdoa, atau aksara 'na' yang digambarkan seperti makhluk yang sedang bersujud.
Mempelajari aksara Jawa juga membuka pintu untuk memahami berbagai karya sastra klasik Jawa, naskah kuno, prasasti, hingga relief candi yang ditulis menggunakan aksara ini. Tanpa penguasaan aksara Jawa, kekayaan intelektual dan historis tersebut akan sulit diakses dan dipahami secara otentik. Bulan September ini, mari kita jadikan momentum untuk lebih giat lagi dalam mempelajari, menghargai, dan melestarikan aksara Jawa, warisan berharga yang harus terus hidup untuk generasi mendatang.