Tuliskan Surah Al-Ma'idah Ayat 119
Allah berfirman: "Inilah hari (pembalasan) di mana kejujuran orang-orang yang benar akan memberi manfaat kepada mereka. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar."
Ayat 119 dari Surah Al-Ma'idah (Al-Hidangan) ini merupakan bagian penutup dari dialog panjang antara Allah SWT dengan Nabi Isa Al-Masih 'alaihissalam (Nabi Isa putra Maryam) pada hari kiamat. Ayat-ayat sebelumnya membahas tentang pengakuan Nabi Isa bahwa ia tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menyembahnya selain Allah. Setelah semua kesaksian disampaikan, ayat ini menjadi penegasan akhir mengenai konsekuensi dari kejujuran (shidiq) dan kebenaran iman.
Poin sentral dari ayat ini adalah "يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ" (hari di mana kejujuran orang-orang yang benar akan memberi manfaat). Kata Shidiq di sini merujuk pada kebenaran total dalam perkataan, perbuatan, dan keyakinan mereka selama di dunia. Ini bukan hanya kejujuran lisan, tetapi kejujuran hati yang terwujud dalam keteguhan memegang akidah tauhid, terutama dalam mengikuti ajaran para nabi.
Pada hari perhitungan, ketika semua tipu daya duniawi telah berakhir, hanya kebenaran sejati yang akan menyelamatkan. Iman yang tulus yang diyakini oleh Nabi Isa dan pengikutnya yang setia akan dibalas dengan pengakuan langsung dari Allah SWT. Keimanan yang jujur ini menjadi jembatan menuju surga.
Balasan bagi orang-orang yang jujur imannya dijelaskan secara gamblang: "لَهُم جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا". Surga yang digambarkan melimpah dengan sungai-sungai adalah lambang kenikmatan abadi yang tak terputus. Keabadian ("khālidīna fīhā abadā") menegaskan bahwa kenikmatan ini tidak akan pernah berakhir, kontras dengan segala sesuatu di dunia yang bersifat fana.
Penutup ayat, "ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ" (Itulah keberuntungan yang besar), memberikan kesimpulan bahwa pencapaian surga abadi melalui kejujuran iman adalah puncak kesuksesan tertinggi yang bisa diraih seorang hamba. Keberuntungan ini melampaui segala bentuk kemenangan duniawi.
Ayat ini memberikan peringatan tegas agar umat Islam selalu menjaga integritas spiritual dan moral. Di tengah arus informasi dan godaan yang membuat batasan antara benar dan salah menjadi kabur, ayat ini mengingatkan bahwa pada akhirnya, kejujuran keyakinan kepada Allah adalah modal utama untuk keselamatan akhirat. Umat Islam dituntut untuk hidup konsisten, di mana apa yang diucapkan hati sama dengan apa yang ditunjukkan oleh perilaku. Pengakuan akan keesaan Allah dan ketaatan pada syariat-Nya harus menjadi pondasi yang tak tergoyahkan, sebab hanya itulah yang akan "bermanfaat" saat perhitungan tiba.