Pesona Surat Al-Hijr: Pelajaran dari Kaum Thamud

Ilustrasi Batu ukir dan Gurun Keras Benteng Keras Kaum Thamud

Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam urutan mushaf, menyimpan kisah-kisah penting yang menjadi pelajaran abadi bagi umat manusia. Nama surat ini diambil dari kata "Al-Hijr" yang merujuk pada lembah berbatu tempat tinggal kaum Nabi Saleh, yaitu kaum Thamud. Kisah mereka menjadi pengingat kuat akan konsekuensi dari pembangkangan terhadap seruan tauhid dan penolakan terhadap mukjizat yang nyata.

Ketika Allah mengutus Nabi Saleh untuk membimbing kaum Thamud, kaum ini dikenal sebagai masyarakat yang sangat maju dalam teknik pembangunan. Mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam memahat rumah-rumah megah langsung dari perbukitan batu yang keras. Kemakmuran dan kekuatan fisik ini sayangnya membuat mereka sombong dan kufur. Mereka meremehkan kerasulan Nabi Saleh dan menuntut bukti nyata yang tidak dapat mereka sangkali.

Tantangan Mukjizat Al-Baqarah (Unta Betina)

Mukjizat yang diberikan kepada kaum Thamud adalah seekor unta betina yang keluar dari celah batu besar, atas izin Allah. Unta ini adalah ujian keimanan. Mereka diperintahkan untuk tidak menyakiti unta tersebut, dan unta itu memiliki hak untuk minum dari sumur mereka secara bergantian. Namun, kesombongan dan kedengkian akhirnya mengalahkan akal sehat mereka. Sekelompok tokoh utama dari kaum tersebut merencanakan pembunuhan unta tersebut.

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu sebagai mukjizat, lalu mereka berlaku zalim terhadap unta itu..." (QS. Al-Hijr ayat 80)

Pembunuhan unta betina itu, yang dilakukan dengan cara memotong urat-uratnya, adalah puncak dari pengingkaran mereka. Konsekuensinya datang dengan cepat dan dahsyat. Nabi Saleh memberikan peringatan bahwa mereka hanya memiliki tiga hari untuk menikmati hidup sebelum azab Allah menimpa. Sesuai dengan janji-Nya, Allah menurunkan siksa yang menghancurkan mereka. Lembah yang dulu menjadi pusat peradaban megah mereka berubah menjadi kehancuran yang sunyi, sebuah monumen peringatan bagi siapapun yang datang setelah mereka.

Pelajaran dari Kesombongan dan Kekuatan Materi

Al-Hijr mengajarkan bahwa kemahiran teknis, kekayaan materi, atau kekuatan fisik tidak memberikan kekebalan dari pertanggungjawaban ilahi. Kaum Thamud merasa aman di balik rumah-rumah ukiran mereka yang kokoh, seolah-olah benteng batu itu bisa melindungi mereka dari Murka Tuhan. Surat ini menekankan bahwa ketakwaan jauh lebih berharga daripada kemegahan duniawi.

Selain kisah kaum Thamud, Al-Hijr juga memuat ayat-ayat yang menekankan keagungan Al-Qur'an sebagai wahyu yang dijaga kemurniannya. Allah menegaskan bahwa Dialah yang menurunkan peringatan ini dan Dialah yang akan menjaganya dari segala bentuk perubahan atau distorsi. Ini memberikan ketenangan bagi Rasulullah SAW dan umatnya bahwa sumber petunjuk mereka adalah otentik dan terpelihara.

Tadabbur Keindahan Ciptaan

Di tengah peringatan keras tersebut, Surat Al-Hijr juga dipenuhi dengan ajakan untuk merenungkan keindahan ciptaan Allah. Ayat-ayatnya mengajak kita melihat pegunungan yang kokoh (seperti tempat tinggal kaum Thamud), langit yang bertabur bintang, dan siklus kehidupan. Hal ini bertujuan menyeimbangkan ketakutan akan azab dengan rasa syukur atas rahmat-Nya. Jika seseorang mampu menghargai seni pahat batu yang diciptakan oleh manusia, betapa seharusnya ia mengagumi Sang Pencipta batu itu sendiri?

Pelajaran terpenting yang bisa kita ambil dari Al-Hijr adalah tentang integritas respons kita terhadap kebenaran. Ketika mukjizat dan peringatan disampaikan, pilihan ada di tangan kita: tunduk dengan kerendahan hati atau menolak dengan kesombongan. Kaum Thamud memilih jalan penolakan yang berakhir dengan kehancuran, sementara mereka yang beriman akan menemukan kedamaian abadi. Surat ini menjadi pengingat abadi di antara bebatuan sejarah.

🏠 Homepage