Ilustrasi Ayat: Tanda-tanda Keagungan
Surah Al-Hijr (secara harfiah berarti "Batu Karang") adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an. Surah ini tergolong Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah. Ayat-ayat awal, khususnya ayat 1 hingga 15, memberikan penekanan kuat pada kebenaran Al-Qur'an, status kenabian Muhammad SAW, dan peringatan bagi mereka yang menolak kebenaran tersebut.
Fokus utama dari ayat-ayat awal ini adalah penegasan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang otentik dan pemeliharaannya dijamin oleh Allah SWT. Bagian ini juga menyentuh kisah-kisah para nabi terdahulu sebagai pelajaran bagi umat yang datang belakangan.
Ayat-ayat ini dibuka dengan huruf-huruf terpisah (muqatta'at) yang menyimpan misteri ilahiah. Kemudian, Allah langsung menegaskan bahwa ayat-ayat yang dibacakan adalah tanda-tanda Kitab yang nyata dan Qur'an yang menerangkan kebenaran. Peringatan keras diberikan pada ayat 3, menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang kafir kelak di akhirat, betapa mereka berharap seandainya di dunia mereka memilih untuk tunduk (Islam).
Allah SWT mengingatkan bahwa sebelum umat Nabi Muhammad SAW, umat-umat terdahulu telah dibinasakan karena kekafiran mereka. Hal ini berfungsi sebagai ancaman sekaligus penguat kebenaran risalah yang dibawa Nabi.
Setiap kehancuran memiliki batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah, tidak didahului dan tidak ditunda. Ini menunjukkan bahwa penghakiman ilahi selalu adil dan terukur.
Ayat-ayat berikutnya menjelaskan bagaimana Allah menciptakan alam semesta dan Bumi dengan tujuan, bukan sekadar main-main. Penciptaan langit dan bumi serta segala isinya adalah bukti kebesaran dan keesaan-Nya. Tujuannya adalah agar manusia mengambil pelajaran.
Setelah menegaskan kebenaran tujuan penciptaan, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar dan memaafkan dengan cara yang mulia ('ash-shafha al-jamīl'), sebuah pengajaran moral yang tinggi dalam menghadapi perlakuan kaum Quraisy yang keras.
Pada bagian akhir dari rentetan ayat ini, muncul tantangan tegas dari Allah kepada orang-orang yang ingkar, yang merasa bosan mendengar wahyu. Mereka disindir, seolah-olah mereka diciptakan begitu saja tanpa tujuan dan tanpa akan dibangkitkan.
Ayat-ayat ini menunjukkan betapa keras kepala dan tertutupnya hati orang-orang kafir. Bahkan jika Allah menunjukkan tanda-tanda yang luar biasa—seperti pintu langit terbuka dan mereka bisa naik ke sana—mereka tetap akan menolak untuk mengakui kebenaran. Mereka akan mencari alasan dangkal seperti "mata kami dikelabui" atau "kami terkena sihir," alih-alih mengakui keesaan Allah.
Sepuluh ayat pertama Al Hijr adalah fondasi keimanan yang kuat. Pertama, ia menegaskan status Al-Qur'an sebagai *Kitabun Mubīn* (kitab yang menjelaskan). Kedua, ia menanamkan prinsip keadilan ilahi; tidak ada kehancuran tanpa batas waktu yang ditentukan. Ketiga, ia mengajarkan kesabaran dan maaf yang mulia dari Nabi Muhammad SAW. Keempat, ayat-ayat ini berfungsi sebagai cermin bagi pendengar, menunjukkan bahwa penolakan terhadap kebenaran adalah bentuk kegelapan hati yang bahkan tanda-tanda kebesaran alam pun tidak akan mampu menyinarinya. Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, keyakinan pada Al-Qur'an haruslah teguh, tidak tergoyahkan oleh keraguan atau intimidasi.