Memahami Kekuatan dan Keagungan dalam Al-Hijr (Ayat 15-40)

Ilustrasi Keajaiban Penciptaan Alam Gambar abstrak yang mewakili pegunungan, langit berbintang, dan aliran sungai, melambangkan keagungan ciptaan Allah SWT.

Peringatan dan Penegasan Kebenaran (Al-Hijr 15-22)

Surah Al-Hijr, yang berarti "Batu Karang," membawa peringatan keras dan janji perlindungan bagi orang-orang yang beriman. Dalam rentang ayat 15 hingga 40, Allah SWT secara gamblang menegaskan kekuasaan-Nya melalui penciptaan alam semesta, sekaligus memberikan penegasan tentang konsekuensi mendustakan ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat pembuka di segmen ini menekankan bahwa orang-orang yang tidak beriman tidak perlu ditunggu-tunggu azabnya, karena mereka akan segera mengetahui hasil dari keingkaran mereka.

Perhatikan peringatan tegas dalam Al-Hijr ayat 15, "Sesungguhnya Kami telah menghamparkan bumi dan Kami telah menempatkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami telah menumbuhkan segala sesuatu menurut ukuran tertentu." Ini adalah pengingat fundamental bahwa segala sesuatu di alam semesta berjalan sesuai dengan ketetapan dan ukuran ilahi. Mereka yang menolak kebenaran seolah menolak bukti nyata di hadapan mata mereka sendiri.

Bukti Kekuasaan Melalui Hujan dan Kehidupan (Al-Hijr Ayat 23-32)

Allah SWT kemudian mengalihkan perhatian kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam siklus kehidupan. Ayat-ayat ini membahas proses penurunan hujan sebagai sumber kehidupan. Hujan tidak hanya sekadar air, tetapi merupakan sarana untuk menghidupkan kembali bumi yang mati, suatu metafora kuat untuk kebangkitan (ba'ts) yang akan dialami semua makhluk.

Penekanan lebih lanjut diberikan pada penciptaan manusia dan penciptaan jin. Al-Hijr ayat 27 menyebutkan tentang jin yang diciptakan dari api yang sangat panas, menunjukkan perbedaan mendasar dalam asal usul penciptaan antara manusia (dari tanah liat) dan jin. Puncak dari penggalan ini adalah kisah penolakan Iblis (syaitan) ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Adam.

Penolakan ini, sebagaimana diabadikan dalam Al-Hijr ayat 32, adalah akar dari kesombongan dan pembangkangan. Iblis berkata, "Aku tidak akan bersujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering, dari lumpur hitam yang dibentuk." Penolakan ini menggarisbawahi bahaya kesombongan intelektual dan penolakan terhadap perintah yang berasal dari Yang Maha Pencipta.

Kisah Nabi Shaleh dan Kehancuran Kaum Tsamud (Al-Hijr Ayat 33-40)

Setelah mengulas tentang penciptaan dan kesombongan Iblis, narasi berlanjut pada kisah profetik yang relevan dengan kaum Quraisy pada masa itu, yaitu kisah Nabi Shaleh AS dengan kaum Tsamud. Kaum Tsamud diberi mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu sebagai bukti kebenaran ajaran Nabi Shaleh.

Namun, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya, kaum Tsamud memilih untuk membunuh unta tersebut, melampaui batas yang diizinkan. Mereka melakukan kezhaliman terbesar, yaitu membunuh tanda kebesaran Allah. Respons Ilahi sangat jelas dan menghancurkan: Al-Hijr ayat 34 menegaskan bahwa Iblis adalah penguasa mereka yang mendorong mereka pada kesesatan.

Ayat-ayat terakhir dalam rentang ini (37-40) adalah janji perlindungan bagi para rasul dan pengikutnya, serta ancaman bagi musuh-musuh mereka. Allah menetapkan waktu bagi Syaitan untuk memiliki pengikut, namun batasannya jelas: "Sesungguhnya kamu (syaitan) tidak mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, kecuali terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat." Ayat penutup di segmen ini, Al-Hijr ayat 40, merupakan kalimat perlindungan mutlak: "Dan bagi mereka itu ada tempat kembali yang buruk, yaitu Jahannam; mereka memasukinya, dan itulah tempat yang paling buruk."

Refleksi Akhir

Segmen Al-Hijr ayat 15 hingga 40 adalah kumpulan peringatan yang kuat mengenai integritas iman. Mulai dari keindahan keteraturan alam semesta sebagai bukti kuasa Pencipta, bahaya kesombongan yang menjerumuskan Iblis, hingga konsekuensi fatal dari mendustakan atau menyakiti tanda-tanda kebenaran (seperti unta Nabi Shaleh). Pesan utamanya adalah bahwa kepatuhan mutlak kepada ketetapan Allah adalah jalan menuju keselamatan, sementara kesombongan dan penolakan adalah jalan menuju kehancuran abadi.

🏠 Homepage