Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, membawa pesan-pesan yang kaya mengenai tauhid, sejarah nabi-nabi terdahulu, dan peringatan bagi mereka yang ingkar. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-48. Ayat ini secara khusus berbicara tentang kondisi akhirat dan janji Allah SWT bagi hamba-Nya yang bertakwa, terutama mengenai pembebasan dari kesulitan duniawi.
Terjemahan: "Dan Kami cabut segala macam dendam (permusuhan) yang ada di dalam dada mereka, (sehingga) mereka menjadi bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan."
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah mengenai suasana di dalam Surga Firdaus. Setelah melalui ujian dan perjuangan di dunia, termasuk menghadapi kebencian, iri hati, perselisihan, dan dendam yang mungkin tersimpan di hati manusia—baik karena persaingan duniawi maupun perbedaan pandangan—Allah membersihkan hati mereka sepenuhnya.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "Ghill" (غِلٍّ). Ibnu Katsir dan para mufassir lain menjelaskan bahwa "Ghill" adalah kebencian yang terpendam, rasa permusuhan yang tidak terungkapkan, atau iri hati yang bersarang di dalam hati. Dalam kehidupan duniawi, sangat sulit bagi manusia untuk hidup tanpa sedikit pun perasaan negatif terhadap sesamanya, meskipun telah berusaha keras untuk berlapang dada. Namun, janji Allah di akhirat adalah pembersihan total.
Ketika penghuni surga memasuki kenikmatan abadi, Allah menghilangkan segala bentuk penyakit hati tersebut. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan kebahagiaan sejati di akhirat tidak hanya terletak pada nikmat fisik (seperti makanan, minuman, dan tempat tinggal), tetapi juga pada kesempurnaan hubungan sosial dan spiritual antar sesama penghuni surga.
Hasil dari pencabutan "Ghill" adalah terwujudnya "Ikhwanan" (إِخْوَانًا), yakni rasa persaudaraan yang murni. Bayangkan sebuah perkumpulan di mana tidak ada lagi rasa dengki, permusuhan masa lalu, atau kesalahpahaman yang belum terselesaikan. Semua bersatu dalam harmoni yang sempurna. Ini adalah puncak dari kedamaian sosial yang diimpikan oleh setiap manusia.
Persaudaraan ini melampaui ikatan darah atau kesukuan di dunia. Mereka yang tadinya mungkin bersaing sengit atau bahkan saling memusuhi karena urusan duniawi, kini duduk bersama sebagai saudara yang saling mencintai karena Allah.
Ayat ini ditutup dengan deskripsi fisik: "Alaa sururim mutaqabilin" (عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ), yaitu duduk berhadapan di atas dipan-dipan (singgasana kemuliaan). Posisi duduk yang saling berhadapan ini mengisyaratkan interaksi yang akrab, percakapan yang menyenangkan, dan kebebasan untuk saling berbagi cerita dan kebahagiaan tanpa rasa canggung atau saling curiga.
Dipan-dipan (surur) adalah simbol kemuliaan dan kenyamanan tertinggi. Mereka tidak hanya duduk, tetapi duduk dalam posisi yang terhormat, menikmati hasil dari amal saleh mereka sambil menikmati persahabatan yang telah dimurnikan oleh Rahmat Tuhan.
Ayat ini memberikan motivasi kuat bagi umat Muslim untuk mulai membersihkan hati sejak di dunia. Meskipun pembersihan total terjadi di akhirat, usaha untuk memaafkan, menahan amarah, dan menghilangkan iri hati adalah bagian dari persiapan menuju surga.
Pertama, ini mengajarkan pentingnya islah dzatiyah (memperbaiki diri sendiri) dan musalahah (perdamaian) dengan sesama. Ketika kita berusaha keras menghilangkan "Ghill" dalam hati kita saat ini, kita sedang menanam benih persaudaraan yang akan menuai hasilnya kelak di surga.
Kedua, ayat ini menegaskan bahwa kedamaian sejati (internal dan eksternal) hanya sempurna di sisi Allah. Semua upaya perdamaian di dunia mungkin tidak 100% berhasil karena keterbatasan manusia, tetapi di akhirat, janji Allah adalah kesempurnaan tanpa cela.
Al-Hijr ayat 48 adalah sebuah visi yang menenangkan, janji bahwa segala kepahitan dan perselisihan duniawi akan hilang, digantikan oleh kemesraan abadi di hadapan Rahmat Ilahi. Ini adalah tujuan akhir dari setiap perjalanan iman.