Refleksi Mendalam: Al-Hijr Ayat 49 dan 50

نَبِّئْ Rahmat Kabar Gembira Ilustrasi Rahmat dan Kabar Gembira dari Surga

Surah Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah, proses penciptaan, dan bagaimana seharusnya seorang hamba berinteraksi dengan Rabb-nya. Di antara ayat-ayat yang kaya makna tersebut, terdapat ayat 49 dan 50 yang secara khusus menyoroti dua aspek fundamental dalam hubungan manusia dengan Allah: sifat kasih sayang-Nya yang luas (rahmat) dan janji akan balasan yang menyenangkan bagi orang-orang yang beriman.

Ayat-ayat ini sering kali dipandang sebagai penutup yang menenangkan setelah serangkaian perintah dan peringatan yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW terkait kaumnya. Kedua ayat ini berfungsi sebagai penegasan bahwa meskipun dakwah itu sulit dan tantangan datang silih berganti, Allah adalah sumber segala kebaikan yang tak pernah berhenti mengalir kepada hamba-Nya yang taat.

Ayat 49: Pemberitahuan Mengenai Hamba-hamba-Nya

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Perintah dalam ayat 49 ini sangat kuat: "Beritakanlah (يَا مُحَمَّدُ)!". Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan sebuah berita yang fundamental kepada seluruh umat manusia, yang disebut sebagai "hamba-hamba-Ku" (ʿibādī). Pemberitahuan ini bukanlah berita tentang hukuman atau ancaman, melainkan kabar surgawi tentang dua sifat utama Allah yang selalu terbuka: **Al-Ghafur (Maha Pengampun)** dan **Ar-Rahim (Maha Penyayang)**.

Sifat Al-Ghafur menunjukkan bahwa pintu ampunan Allah selalu terbuka lebar, tidak peduli seberapa besar dosa yang telah dilakukan seseorang. Selama ada penyesalan yang tulus dan niat untuk kembali ke jalan yang benar, pengampunan itu tersedia. Ini adalah penegasan bahwa Allah tidak ingin hamba-Nya terpuruk dalam keputusasaan akibat dosa masa lalu. Sebaliknya, Dia mendorong mereka untuk kembali dengan harapan dan keyakinan penuh.

Ayat 50: Kabar Gembira Bagi Mereka yang Mengerjakan Kebaikan

وَنَبِّئْ عِبَادِي أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ
"Dan beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang pedih."

Ayat 50 ini terasa kontras, namun sebenarnya saling melengkapi dengan ayat sebelumnya. Setelah menegaskan pengampunan dan kasih sayang-Nya, Allah kemudian memerintahkan Nabi-Nya untuk memberitakan tentang azab-Nya yang pedih (*al-'adzāb al-alīm*).

Mengapa berita tentang azab disampaikan setelah berita tentang rahmat? Para mufassir menjelaskan bahwa penyebutan azab ini bukan untuk menakut-nakuti tanpa harapan, melainkan untuk memberikan keseimbangan dan mendorong manusia agar tidak menyalahgunakan kemurahan Allah. Rahmat Allah yang tak terbatas sepatutnya memotivasi seseorang untuk taat, bukan menjadikannya berani berbuat maksiat dengan dalih "Allah pasti mengampuni."

Ayat ini berfungsi sebagai penyeimbang iman. Seorang mukmin sejati menggabungkan antara Raja’ (Harapan) akan rahmat Allah (seperti dalam ayat 49) dan Khauf (Rasa Takut) akan azab-Nya (seperti dalam ayat 50). Keseimbangan inilah yang menghasilkan ketaatan yang konsisten dan tulus. Ketika seseorang tahu bahwa Allah Maha Pemaaf, ia akan bertaubat; ketika ia tahu bahwa Allah Maha Adil dan azab-Nya pedih, ia akan berusaha keras untuk tidak mengulangi kesalahan.

Kombinasi Rahmat dan Peringatan

Dinamika antara Al-Hijr 49 dan 50 adalah inti dari metodologi dakwah Islam. Allah mendahulukan kabar baik (rahmat) sebagai daya tarik utama, membuka pintu hati dengan janji pengampunan yang membebaskan jiwa dari beban dosa. Baru kemudian, diperkenalkan konsekuensi serius dari penolakan terhadap rahmat tersebut.

Bagi Nabi Muhammad SAW, ayat ini memberikan ketenangan bahwa tugas beliau telah selesai dengan menyampaikan pesan utama: Allah mencintai mereka yang kembali kepada-Nya dan menyediakan surga bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, namun Dia juga Maha Adil bagi mereka yang memilih jalan kesesatan dengan kesadaran penuh.

Oleh karena itu, mengingat Al-Hijr 49 dan 50 dalam kehidupan sehari-hari adalah pengingat konstan untuk senantiasa memohon ampunan, berharap penuh pada kasih sayang-Nya, sambil tetap waspada dan menjaga amal perbuatan agar selalu berada di jalur yang diridhai-Nya.

🏠 Homepage