Ilustrasi kepastian janji Tuhan.
Surah Al-Hijr (yaitu Gunung Batu) adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah kenabian, peringatan keras bagi kaum yang durhaka, serta penegasan akan kuasa dan kemahabesaran Allah SWT. Di tengah pembahasan mengenai ciptaan, tugas malaikat, dan kisah Nabi Ibrahim serta kaum Nabi Luth, terdapat ayat-ayat yang memberikan ketenangan dan kepastian bagi orang-orang yang beriman.
Salah satu ayat yang sangat fundamental dalam memberikan harapan dan menepis keraguan adalah ayat ke-55. Ayat ini muncul setelah serangkaian dialog antara para rasul dan kaum mereka, serta penegasan bahwa hari kiamat pasti akan datang.
"Dan berilah mereka (orang-orang kafir) berita tentang Ibrahim."
Ayat 55 Surah Al-Hijr memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan kabar atau berita tentang kisah Nabi Ibrahim AS kepada kaumnya (orang-orang musyrik Mekah saat itu). Perintah ini bukan sekadar menceritakan sejarah, melainkan mengandung makna pedagogis dan dakwah yang mendalam.
Mengapa harus Nabi Ibrahim? Nabi Ibrahim adalah simbol ketauhidan murni. Kaum Quraisy saat itu sangat menghormati warisan Ibrahim, bahkan mengklaim diri sebagai penerusnya dalam menjaga Ka'bah. Namun, dalam praktiknya, mereka telah menyimpang jauh dari ajaran tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim, dengan menyembah berhala.
Dengan mengingatkan mereka pada kisah Ibrahim, Allah SWT menunjukkan kontradiksi dalam keyakinan mereka. Ibrahim adalah figur yang berjuang keras melawan tradisi menyembah berhala, dan justru tradisi itulah yang kini mereka pertahankan. Kisah Ibrahim menjadi cermin bagi kaum musyrik bahwa klaim mereka sebagai pewaris Ibrahim hanyalah klaim kosong tanpa mengamalkan esensi ajarannya.
Dalam konteks dakwah, menyampaikan kisah para nabi terdahulu memiliki beberapa fungsi krusial:
Maka, perintah untuk "memberi berita tentang Ibrahim" adalah perintah strategis. Ia mengarahkan fokus audiens dari perdebatan teologis yang rumit menuju narasi sejarah yang kuat dan terpercaya. Berita ini menyiratkan: "Lihatlah leluhur yang kalian agungkan, ia menolak segala bentuk kesyirikan. Mengapa kalian justru berpegang teguh padanya?"
Meskipun konteksnya spesifik pada masa Nabi Muhammad SAW, relevansi ayat ini tetap abadi. Di era modern, di mana banyak budaya atau tradisi yang dipertahankan hanya karena warisan tanpa memahami esensinya, Al-Hijr ayat 55 mengajarkan pentingnya kembali pada sumber ajaran sejati.
Bagi umat Islam saat ini, ayat ini mengingatkan agar tidak terjebak pada ritualitas kosong tanpa penghayatan tauhid yang mendalam. Sama seperti kaum Quraisy yang mengidolakan Ibrahim namun menolak ajarannya, umat Muslim harus memastikan bahwa amal perbuatannya sejalan dengan prinsip keesaan Allah yang diusung oleh para nabi.
Al-Hijr ayat 55 adalah jembatan antara masa lalu kenabian dan tantangan masa kini. Ia menegaskan bahwa kebenaran selalu diwakili oleh mereka yang berani memurnikan iman, terlepas dari seberapa besar oposisi yang mereka hadapi. Ketegasan dan kejujuran dalam menyampaikan risalah adalah kunci, sebagaimana dicontohkan oleh kesabaran dan keberanian Nabi Ibrahim dalam menyampaikan kebenaran.
Oleh karena itu, setiap kali kita membaca ayat ini, kita diingatkan akan tanggung jawab kita untuk mempelajari warisan para nabi, bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai panduan praktis dalam menjalani kehidupan yang lurus di jalan Allah.