QS. AL-HIJR Simbol Kesabaran dan Keteguhan Iman

Ilustrasi Keteguhan Hati dalam Mengingat Allah

Fokus pada Al-Hijr Ayat 97-99: Kunci Ketenangan Jiwa

Surah Al-Hijr, yang dinamai berdasarkan lembah tempat kaum Tsamud bermukim dan dimusnahkan, adalah surah yang kaya akan pelajaran tentang keesaan Allah, kisah para nabi, dan petunjuk bagi kaum Mukminin. Di antara ayat-ayat yang sarat hikmah tersebut, tiga ayat penutup surah ini—Ayat 97 hingga 99—menawarkan inti ajaran tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya merespons tantangan hidup dan bisikan negatif. Ayat-ayat ini merupakan penutup yang sempurna, memberikan penekanan pada pentingnya kesabaran (sabr) dan pujian (tasbih).

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97)

Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka katakan. (97)

1. Memahami Kesempitan Dada (Ayat 97)

Ayat 97 secara langsung menyapa Nabi Muhammad SAW, mengakui beban psikologis dan emosional yang beliau rasakan akibat penolakan dan cemoohan kaum kafir. Frasa "يَضِيقُ صَدْرُكَ" (yadiqu shidruka) secara harfiah berarti "dadamu terasa sempit". Ini adalah pengakuan ilahi atas penderitaan mental yang dialami oleh seorang pemimpin besar.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ayat ini memberikan validasi mendalam bagi setiap individu yang merasa tertekan, diremehkan, atau terbebani oleh perkataan orang lain. Seringkali, tantangan terbesar bukanlah kesulitan fisik, melainkan tekanan psikologis dari lingkungan sosial. Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala kegelisahan hati kita, bahkan sebelum kita mengucapkannya. Ini menjadi sumber ketenangan pertama: Allah adalah Yang Paling Memahami.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ (98)

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilahlah di antara orang-orang yang bersujud. (98)

2. Solusi Spiritual: Tasbih dan Sujud (Ayat 98)

Sebagai respons terhadap tekanan yang diakui di ayat sebelumnya, Allah memberikan resep spiritual yang sangat ampuh. Solusinya bukanlah membalas cercaan dengan cercaan, melainkan mengalihkan fokus dari sumber masalah (manusia) kepada Sumber Solusi (Allah). Resep tersebut terdiri dari dua pilar utama: Tasbih dan Sujud.

Tasbih dengan memuji Tuhan (Fasabbih bihamdi Rabbik) berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan dan menyanjung-Nya dengan segala kesempurnaan-Nya. Ketika hati sempit karena hinaan, pujian kepada Allah mengingatkan bahwa keagungan-Nya jauh melampaui cacian makhluk-Nya. Ini adalah proses de-sentralisasi ego.

Sementara itu, menjadi di antara orang-orang yang bersujud (wa kun minas-sajidin) adalah puncak kerendahan hati. Dalam sujud, dahi—bagian tertinggi dari tubuh—diletakkan di tempat terendah (bumi), sebagai simbol penyerahan total. Dalam sujud, seorang hamba mendekat kepada Tuhannya, dan segala masalah duniawi menjadi kecil. Jika Nabi saja diperintahkan demikian, maka bagi kita, sujud adalah jangkar ketenangan saat gelombang kehidupan menerpa.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (ajal). (99)

3. Fondasi Kehidupan: Ibadah yang Berkelanjutan (Ayat 99)

Ayat penutup ini memberikan kerangka waktu bagi seluruh proses spiritual yang telah disebutkan. Perintahnya adalah: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (ajal)" (Wa'bud Rabbaka hatta ya'tiyakal yaqin). Kata "al-Yaqin" (kepastian) di sini ditafsirkan oleh para ulama sebagai kematian.

Ini mengajarkan prinsip fundamental Islam: ibadah bukanlah kegiatan musiman atau respons sementara terhadap masalah, melainkan gaya hidup yang berkelanjutan hingga akhir hayat. Tidak ada kata pensiun dalam ketaatan. Selama jiwa masih berada dalam raga, tugas utama seorang Muslim adalah menyembah (beribadah dalam arti luas, mencakup seluruh aktivitas baik) kepada Rabb-nya.

Ketika kita menggabungkan ketiganya—pengakuan atas beban (Ayat 97), pelepasan beban melalui tasbih dan sujud (Ayat 98), dan komitmen jangka panjang pada ibadah (Ayat 99)—kita mendapatkan formula kokoh untuk menghadapi tekanan modern. Ayat 97-99 Al-Hijr adalah manual ringkas untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual, mengingatkan bahwa di balik setiap kesulitan, terdapat perintah ilahi untuk meningkatkan kedekatan, bukan malah menjauh. Dengan ketenangan yang bersumber dari hubungan yang teguh ini, seorang Mukmin mampu menghadapi cemoohan duniawi, karena ia telah menemukan ketetapan hakiki dalam kekekalan-Nya.

🏠 Homepage