Representasi Visual Inspirasi dan Bertasbih Gambar abstrak yang menunjukkan cahaya menyebar dari titik pusat (inspirasi) dan bentuk kaligrafi sederhana yang melambangkan tasbih. سبح (Pujian)

Makna Mendalam Al-Hijr Ayat 98: Perintah Bersyukur dan Bertasbih

Surat Al-Hijr (Batu Karang) merupakan salah satu surat Makkiyah yang kaya akan pelajaran tentang keesaan Allah, keagungan ciptaan-Nya, serta konsekuensi dari iman dan kekafiran. Di penghujung surat ini, terdapat ayat yang sangat penting, yaitu ayat ke-98, yang menjadi penutup yang kuat dan pengingat abadi bagi umat manusia.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ

(QS. Al-Hijr: 98)

Ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad ﷺ, namun memiliki implikasi universal bagi seluruh kaum Muslimin. Ayat ini secara ringkas namun padat berisi dua perintah utama: "Maka bertasbihlah (dengan memuji) Tuhanmu dan jadilah termasuk orang-orang yang bersujud." Perintah ini menegaskan bahwa setelah melalui berbagai peringatan, kisah para nabi, dan penjelasan tentang kebesaran Allah, puncak dari respons seorang mukmin adalah pengabdian total melalui pujian dan ibadah fisik.

1. Perintah untuk Bertasbih dengan Memuji (Fasabbih Bihamdi Rabbika)

Kata "Fasabbih" (maka bertasbihlah) berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan dan kelemahan. Sementara "Bihamdi Rabbika" (dengan memuji Tuhanmu) menekankan bahwa penyucian tersebut harus disertai dengan pengakuan atas kesempurnaan dan kebaikan-Nya. Ini bukanlah sekadar pengulangan lisan, melainkan sebuah kesadaran hati.

Mengapa pujian harus mendampingi tasbih? Karena dalam pandangan tauhid, kesempurnaan Allah adalah sumber dari segala pujian. Ketika kita melihat keindahan alam semesta, ketepatan hukum alam, atau bahkan ketika menghadapi kesulitan yang ternyata berakhir dengan hikmah, refleksi terbaik adalah memuji Dzat yang mengatur semua itu. Pujian ini berfungsi sebagai penyeimbang. Ketika seseorang mengalami ujian berat atau godaan kesombongan karena keberhasilan, perintah untuk bertasbih dan memuji selalu menjaga hati agar tetap rendah hati dan mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Sang Pencipta. Ini adalah pengakuan akan kebesaran-Nya tanpa henti.

2. Keutamaan Bersujud (Wakun Minas Sajidin)

Perintah kedua adalah menjadi bagian dari golongan orang-orang yang bersujud. Sujud (dalam shalat) adalah puncak ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya. Dalam sujud, dahi yang merupakan bagian tertinggi dari tubuh diletakkan di tempat terendah (tanah), melambangkan penyerahan diri total dan penghinaan diri di hadapan keagungan Allah.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perintah ini sangat ditekankan pada Rasulullah ﷺ, terutama dalam periode dakwah yang penuh tantangan. Ketika menghadapi penolakan atau kesedihan, perintah untuk bersujud adalah jalan keluar spiritual. Sujud adalah momen di mana komunikasi langsung terjalin antara hamba dan Khalik. Rasulullah ﷺ bersabda: "Keadaan terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang bersujud." (HR. Muslim).

Dengan menggabungkan tasbih (pujian lisan dan hati) dengan sujud (penyerahan fisik), ayat 98 Al-Hijr mengajarkan sebuah formula keberhasilan spiritual: mengakui keagungan Allah secara verbal dan merealisasikannya dalam tindakan ketaatan tertinggi. Ini adalah kunci untuk meraih ketenangan batin di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Konteks Penutup Surat Al-Hijr

Ayat 98 ini menutup surat yang sebelumnya telah banyak membahas tentang bagaimana kaum kafir Mekkah menolak keras ajaran tauhid dan bahkan meminta mukjizat yang tidak masuk akal. Mereka mengejek Nabi Muhammad ﷺ. Dalam konteks ini, perintah untuk bersabar dan terus beribadah (tasbih dan sujud) menjadi tamparan lembut namun tegas. Pesannya jelas: Fokus pada perintah Allah, bukan pada respons negatif orang lain.

Pujian kepada Allah tidak berhenti karena ada yang tidak memuji-Nya. Ibadah shalat dan sujud tidak ditinggalkan hanya karena penolakan. Ayat ini menegaskan bahwa konsistensi dalam tasbih dan sujud adalah bentuk kesabaran terbaik (sabr jamīl) dan pembuktian keimanan yang kokoh, terlepas dari kondisi eksternal. Ketika kita memuji Allah, kita mengingat nikmat-Nya; ketika kita bersujud, kita menegaskan kembali posisi kita sebagai hamba. Kedua tindakan ini memastikan bahwa hati selalu terikat pada sumber kemuliaan yang sejati.

Oleh karena itu, mempelajari dan mengamalkan makna dari Al-Hijr ayat 98 bukan hanya sekadar ritual, melainkan sebuah orientasi hidup yang mengajarkan kita untuk selalu menjaga kesadaran spiritual. Pujian yang tulus dan ketaatan dalam sujud adalah mercusuar yang membimbing seorang mukmin menuju keridhaan Ilahi, sebagaimana diwahyukan kepada Nabi terakhir.

🏠 Homepage