Tafsir dan Hikmah: Al-Hijr Ayat 18

Pendahuluan: Kekuasaan Allah atas Alam Semesta

Surah Al-Hijr, yang berarti "Batu", adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an. Surah ini kaya akan pelajaran mengenai keesaan Allah, peringatan bagi pendusta, dan janji bagi orang-orang yang beriman. Salah satu ayat yang menyoroti keagungan dan kekuasaan Allah dalam mengelola alam semesta adalah ayat ke-18.

Ayat ini memberikan penekanan kuat bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi berada dalam genggaman dan pengaturan sempurna dari Sang Pencipta. Ini adalah pengingat penting bagi manusia untuk tidak merasa sombong atau melampaui batas, karena semua rezeki dan ketetapan telah ditentukan oleh-Nya.

Ilustrasi Keseimbangan Langit dan Bumi Diagram sederhana yang menunjukkan bintang, awan, dan tanah di bawah kekuasaan satu entitas pusat. Bumi K

Teks Al-Hijr Ayat 18

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu."

Makna Mendalam: Khazanah dan Ukuran yang Pasti

Ayat ini mengajarkan dua pilar utama dalam teologi Islam terkait manajemen alam semesta:

1. Kepemilikan Mutlak (Khazanah)

Frasa "tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya" menegaskan bahwa Allah adalah Pemilik tunggal atas segala sumber daya yang ada. Khazanah di sini mencakup segala sesuatu: rezeki, hujan, tanaman, bahkan energi dan waktu itu sendiri. Manusia hanya diberi titipan dan kepercayaan untuk mengelolanya. Ketika kita memahami bahwa rezeki kita dikelola oleh Sumber yang tak terbatas, kekhawatiran akan kemiskinan atau kekurangan seharusnya berkurang, digantikan oleh rasa syukur dan tawakal.

Kekayaan bukanlah sekadar tumpukan materi, melainkan apa yang Allah tetapkan sebagai bagian kita. Jika Allah menahan sesuatu, itu bukan karena Dia pelit, melainkan karena kebijaksanaan-Nya menuntut demikian. Keberlimpahan yang dilihat manusia hanyalah sebagian kecil dari gudang penyimpanan Allah yang maha luas.

2. Ketentuan dan Ketepatan Ukuran (Qadar Ma'lum)

Poin kedua, "dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu," menekankan prinsip keseimbangan kosmik. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Setiap hujan yang turun, setiap tanaman yang tumbuh, setiap bernapas yang dilakukan, semuanya terukur dengan presisi ilahiah.

Konsep qadar ma'lum (ukuran yang diketahui) ini sangat vital. Dalam konteks rezeki, ini berarti setiap orang akan menerima bagian yang telah ditetapkan Allah, tidak kurang dan tidak lebih. Dalam konteks bencana alam, itu juga berarti ada batas dan tujuan tertentu di baliknya, meskipun akal manusia seringkali tidak mampu menangkap hikmahnya secara instan. Alam semesta bergerak berdasarkan hukum yang telah ditetapkan, sebuah mekanisme yang sempurna yang hanya diketahui oleh Penciptanya.

Implikasi Spiritual Ayat 18 Al-Hijr

Pemahaman terhadap Al-Hijr ayat 18 membawa beberapa implikasi mendalam bagi kehidupan seorang Muslim:

  1. Mengatasi Keserakahan: Menyadari bahwa sumber daya itu terbatas di tangan manusia namun tak terbatas di sisi Allah seharusnya mengurangi sifat serakah. Mengumpulkan dunia melebihi kebutuhan adalah sia-sia, sebab kepemilikan hakikinya ada di tempat lain.
  2. Peningkatan Tawakal: Jika kita yakin bahwa rezeki kita telah diukur dan dijamin oleh Allah, kita dapat bekerja keras dengan semangat yang tenang, tanpa dibebani kecemasan berlebihan tentang hasil akhirnya.
  3. Kepatuhan Terhadap Syariat: Karena segala sesuatu diatur dengan ukuran, manusia diperintahkan untuk hidup sesuai aturan-aturan (syariat) yang juga merupakan ukuran dari Allah agar kehidupan berjalan harmonis dan berimbang.

Ayat ini adalah penegasan bahwa di balik setiap kejadian di dunia—baik itu kelimpahan yang tak terduga maupun kekurangan yang dirasakan—terdapat kebijaksanaan Ilahi yang terukur dan terencana. Tugas kita adalah beriman pada perencanaan tersebut dan menjalani hidup sesuai petunjuk-Nya.

🏠 Homepage