Surah Al-Ma'idah (Hidangan) adalah salah satu surah Madaniyah yang memiliki kedalaman ajaran luar biasa, menduduki posisi kelima dalam mushaf Al-Qur'an. Sesuai dengan ciri khas surah-surah Madaniyah, Al-Ma'idah sarat dengan penetapan hukum-hukum syariat, perjanjian, etika sosial, hingga pembahasan mendalam mengenai akidah dan kisah para nabi terdahulu.
Nama "Al-Ma'idah" sendiri diambil dari ayat 112 hingga 115, yang mengisahkan permintaan para pengikut Nabi Isa (AS) kepada beliau untuk diturunkan hidangan dari langit sebagai bukti keesaan Allah SWT. Kisah ini menjadi titik fokus penting yang membahas isu mukjizat dan keyakinan.
Pembukaan surah ini sangat tegas mengenai pentingnya menepati janji dan akad. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad (perjanjian) itu." (QS. 5:1). Ayat ini menjadi landasan etika sosial dan personalitas seorang Muslim. Pemenuhan janji, baik janji kepada Allah maupun sesama manusia, adalah cerminan integritas iman.
Lebih lanjut, Surah Al-Ma'idah menegaskan prinsip keadilan yang mutlak, bahkan ketika harus berhadapan dengan permusuhan. Ayat 8 menjadi pedoman moral tertinggi dalam hubungan antarmanusia:
Prinsip ini menekankan bahwa keadilan harus tegak tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau kedekatan hubungan personal. Ini adalah pondasi bagi masyarakat yang harmonis dan bebas dari tirani.
Surah ini memperkenalkan atau menguatkan berbagai ketentuan hukum yang relevan bagi kehidupan komunitas Muslim, termasuk:
Penyebutan hukum wudhu dan tayamum di sini sangat penting karena menghubungkan kesucian ritual dengan praktik sehari-hari jamaah. Ini memperlihatkan bagaimana Al-Qur'an mengatur aspek spiritual dan fisik secara simultan.
Al-Ma'idah juga melanjutkan narasi tentang Bani Israil, menyoroti peristiwa penting seperti turunnya hidangan (Ma'idah) kepada Hawariyyin (pengikut setia Nabi Isa). Melalui kisah ini, Allah SWT mengingatkan umat Nabi Muhammad SAW untuk tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama—yaitu melampaui batas dalam permintaan dan menguji kenabian.
Surah ini secara eksplisit membahas penyimpangan akidah yang dilakukan oleh sebagian kelompok dari Ahli Kitab, seperti klaim ketuhanan terhadap Nabi Isa AS atau perubahan terhadap teks Taurat dan Injil yang asli. Konten ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi umat Islam agar menjaga kemurnian tauhid.
Secara keseluruhan, Surah Al-Ma'idah adalah konstitusi mini yang mengatur tata kelola masyarakat Muslim. Ia menuntut keteguhan iman, kepatuhan terhadap aturan Ilahi dalam berbagai aspek kehidupan—mulai dari ritual ibadah, interaksi sosial, penegakan hukum, hingga menjaga keadilan universal. Mempelajarinya berarti menyelami tuntutan nyata untuk menjadi Muslim yang kaffah (menyeluruh) dalam pengabdian kepada Sang Pencipta.