Al Hijr Ayat 4: Peringatan Tentang Kehancuran Umat Terdahulu

Teks dan Terjemahan Al Hijr Ayat 4

Surah Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an. Ayat keempat dari surah ini mengandung peringatan keras dari Allah SWT mengenai nasib kaum-kaum yang mendustakan rasul-rasul-Nya, khususnya merujuk pada kisah kaum Nabi Luth.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ وَرَبُّكَ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
Artinya: "Dan berapa banyak kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya." (QS. Al Hijr: 4)

Ayat ini menegaskan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu, bahkan setelah era Nabi Nuh AS, adalah sebuah fakta sejarah yang telah ditetapkan oleh kehendak Ilahi. Allah mengingatkan bahwa Ia memiliki pengetahuan penuh dan pandangan yang tajam terhadap setiap perbuatan hamba-Nya.

Waktu Berlalu

Ilustrasi Konsep Kehancuran dan Pengawasan Ilahi

Pesan Kehancuran Setelah Kaum Nuh

Allah SWT tidak sembarangan dalam memberikan penghukuman. Penghancuran suatu kaum selalu didahului oleh peringatan dan kedatangan utusan (rasul). Ayat ini secara spesifik menyebut "setelah Nuh," menekankan bahwa banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh bukanlah akhir dari siklus peringatan Allah. Setelahnya, masih banyak generasi (qurun) yang hidup dalam kesombongan, perbuatan maksiat, dan penolakan terhadap ajaran tauhid.

Kaum Nabi Luth, yang kisahnya sangat relevan dalam konteks Surah Al Hijr, termasuk di antara mereka. Mereka dikenal karena penyimpangan seksual (homoseksualitas) yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara umat manusia. Penolakan mereka terhadap ajaran Nabi Luth, disertai dengan ejekan dan bahkan ancaman kepada tamunya (malaikat yang menyamar), memicu azab yang luar biasa.

Kehancuran yang menimpa Sodom dan Gomora, kota kaum Luth, adalah contoh nyata bagaimana Allah membinasakan sebuah peradaban yang telah melampaui batas-batas fitrah dan moralitas yang ditetapkan. Bumi dibalik, dan mereka dihujani batu dari langit, sebuah azab yang spesifik dan menyeluruh.

Kekuasaan dan Sifat Maha Mengetahui Allah

Bagian akhir ayat, "Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya," merupakan penegasan otoritas dan pengawasan Allah yang mutlak. Dua sifat mulia ini (Khobir/Maha Mengetahui dan Basiir/Maha Melihat) berfungsi sebagai penutup yang kuat bagi peringatan sebelumnya.

Al-Khobir (Maha Mengetahui): Ini berarti Allah mengetahui segala sesuatu secara detail, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tidak ada niat tersembunyi atau rencana jahat yang luput dari pengetahuan-Nya.

Al-Basiir (Maha Melihat): Ini menegaskan bahwa pengawasan-Nya tidak hanya bersifat pengetahuan batiniah, tetapi juga penglihatan nyata. Allah melihat setiap tindakan, setiap bisikan hati, dan setiap pelanggaran yang dilakukan oleh para pendurhaka.

Implikasinya bagi orang beriman adalah rasa aman bahwa kebaikan mereka diketahui dan dicatat. Sementara bagi mereka yang terus menerus melakukan kemungkaran, ini adalah ancaman bahwa tidak ada tempat untuk bersembunyi dari perhitungan-Nya. Ayat ini mengajarkan perlunya introspeksi diri dan kesadaran bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Zat yang Maha Sempurna dalam pengetahuan dan penglihatan-Nya.

Oleh karena itu, Surah Al Hijr ayat 4 berfungsi sebagai pelajaran sejarah yang abadi: peringatan terhadap umat yang mendustakan utusan Allah, dan penegasan bahwa ketetapan Allah untuk menghukum pelanggaran batas fitrah adalah pasti, didasari oleh pengetahuan-Nya yang meliputi segalanya.

🏠 Homepage