Al-Hijr adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-54 dari surah ini mengandung pesan penting mengenai keadilan dan rahmat Allah SWT terhadap hamba-hamba-Nya, khususnya mengenai karunia dan rezeki.
Ayat ini sering disebut sebagai ayat kedekatan dan pengabulan doa. Dalam konteks di mana Nabi Muhammad SAW ditanya tentang jarak antara Allah dengan hamba-Nya, turunlah ayat ini untuk menegaskan bahwa tidak ada jarak pemisah dalam konteks komunikasi spiritual antara Pencipta dan makhluk-Nya.
Pesan utama dari Al-Hijr ayat 54 adalah penegasan bahwa Allah itu "Qarib" (Dekat). Kedekatan ini bukanlah kedekatan fisik, melainkan kedekatan ilmu, kekuasaan, dan perhatian-Nya. Ini memberikan rasa aman dan keyakinan bagi setiap Muslim yang memanjatkan doa. Ketika seorang hamba mengangkat kedua tangannya, Allah SWT mendengar bisikannya, bahkan yang tersembunyi di dalam hati.
Ayat tersebut secara eksplisit menyatakan, "Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." Ini adalah sebuah janji agung yang menuntut iman teguh. Pengabulan doa ini bisa dalam berbagai bentuk: Allah bisa mengabulkan permintaan persis seperti yang diminta, menunda pengabulan hingga waktu yang tepat, atau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik—sebuah pertukaran yang hanya diketahui hikmahnya oleh Allah.
Mengapa doa terkadang terasa tidak terkabul? Ayat ini memberikan kuncinya. Setelah menjanjikan pengabulan doa, Allah memberikan dua syarat penting bagi orang yang berdoa:
Tujuan akhir dari kepatuhan dan keimanan tersebut, sebagaimana disebutkan dalam akhir ayat, adalah agar mereka "yarshadūn", yaitu mendapatkan petunjuk atau berada dalam kebenaran. Petunjuk ini adalah puncak dari semua karunia. Jika seseorang telah patuh dan beriman, secara otomatis jalan hidupnya akan menjadi lurus, terhindar dari kesesatan dan keraguan.
Ayat ini secara kolektif mengajarkan tentang hubungan personal antara hamba dan Tuhannya. Al-Hijr 54 menegaskan bahwa Allah selalu mendengar dan siap merespons. Namun, respons terbaik dan pengabulan doa yang sesungguhnya datang bagi mereka yang menjadikan ketaatan dan keimanan sebagai prioritas utama dalam hidup mereka. Ini adalah pengingat bahwa doa bukanlah sihir, melainkan sebuah bentuk ibadah tertinggi yang memerlukan keselarasan tindakan dan keyakinan batin.
Ketika kita merenungkan ayat ini, kita diajak untuk memperbaiki kualitas doa kita—memastikan bahwa doa kita bersih dari keraguan, diiringi dengan usaha nyata untuk menaati-Nya, dan dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa kita berbicara langsung kepada Zat Yang Maha Mendengar, yang letak-Nya begitu dekat, meskipun Maha Tinggi. Kedekatan Ilahi ini adalah sumber motivasi terbesar untuk selalu kembali dan memohon pertolongan-Nya di setiap kesulitan hidup.