Ilustrasi representatif pohon akasia.
Pohon akasia adalah salah satu genus tumbuhan yang paling dikenal dan tersebar luas di seluruh dunia, dihargai karena kayunya yang kuat, getahnya yang berharga (seperti gom arab), dan kemampuannya untuk bertahan hidup di lingkungan yang kering. Namun, ketika kita bertanya, "pohon akasia berasal dari mana?", jawabannya tidak sesederhana satu lokasi tunggal. Genus Acacia (sekarang sebagian besar diklasifikasikan ulang menjadi Vachellia dan Senegalia) adalah salah satu yang terbesar dalam famili Fabaceae (polong-polongan), dengan lebih dari 1000 spesies yang tersebar di berbagai benua.
Secara historis, para ahli botani membagi asal usul akasia menjadi dua wilayah utama yang sangat kaya akan spesies endemik: Australia dan Afrika. Kedua wilayah ini menjadi rumah bagi evolusi akasia selama jutaan tahun, menghasilkan adaptasi yang sangat berbeda namun sama-sama tangguh.
Australia adalah rumah bagi mayoritas spesies yang dulunya secara kolektif disebut akasia, kini banyak yang diklasifikasikan ulang dalam genus Acacia sensu stricto. Diperkirakan lebih dari 900 spesies asli Australia. Akasia Australia seringkali memiliki daun berbentuk filoda (batang daun pipih seperti daun) dan dikenal karena ketangguhannya di iklim kering benua tersebut. Contoh paling terkenal adalah Acacia pycnantha (Golden Wattle), yang merupakan bunga nasional Australia. Keanekaragaman di sini menunjukkan bahwa akasia berasal dari Australia dalam jumlah yang sangat besar dan telah beradaptasi dengan ekosistem uniknya, mulai dari hutan hujan hingga gurun pasir.
Sementara itu, di Afrika, khususnya di sabana dan daerah semi-kering, akasia (sekarang sering disebut Vachellia atau Senegalia) adalah spesies kunci. Pohon-pohon akasia Afrika, seperti Acacia tortilis (Umbrella Thorn), menjadi ikon lanskap benua tersebut, menyediakan tempat berteduh penting bagi satwa liar dan menjadi sumber makanan penting. Kehadiran mereka yang dominan menunjukkan bahwa akasia berasal dari Afrika dalam keragaman evolusioner yang berbeda, dengan fitur khas seperti duri panjang yang melindungi mereka dari herbivora besar.
Meskipun Afrika dan Australia adalah pusat keragaman utama, akasia telah berhasil menyebar dan beradaptasi di benua lain. Di Amerika Utara dan Selatan, beberapa spesies asli ditemukan, seringkali dengan karakteristik yang mirip dengan akasia Afrika. Misalnya, spesies yang menghasilkan gom arab, yang sangat penting secara komersial, sebagian besar akasia berasal dari wilayah Sudan di Afrika (seperti Senegalia senegal), namun spesies terkait juga ditemukan di tempat lain.
Penyebaran global ini terjadi secara alami melalui migrasi geografis atau, dalam beberapa kasus, melalui intervensi manusia untuk tujuan pertanian atau kehutanan. Namun, penting untuk dicatat bahwa spesies yang paling sering kita lihat di kebun raya atau sebagai tanaman hias di zona subtropis mungkin merupakan keturunan dari spesies yang awalnya akasia berasal dari Afrika atau Amerika Selatan.
Perlu dipahami bahwa klasifikasi genus Acacia telah mengalami perombakan signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Studi genetik menunjukkan bahwa kelompok akasia Australia sangat berbeda secara genetik dari kelompok Afrika/Amerika. Akibatnya, sebagian besar spesies di luar Australia dipindahkan ke genus baru seperti Vachellia dan Senegalia. Meskipun demikian, secara umum dalam bahasa sehari-hari, nama "akasia" masih digunakan secara luas untuk merujuk pada semua anggota yang memiliki bunga pom-pom khas tersebut.
Kesimpulannya, ketika menelusuri dari mana akasia berasal dari, kita harus melihat peta ganda: Australia menyumbang jumlah spesies terbesar dan paling unik, sementara Afrika memainkan peran vital dalam sejarah ekologis dan komersial (terutama terkait getah). Akar evolusioner mereka sangat dalam dan tersebar luas, menjadikan akasia sebagai genus kosmopolitan dengan pusat evolusi yang jelas di Belahan Bumi Selatan.