Memahami Kedalaman Makna Al-Hijr Ayat 85

Ilustrasi Keseimbangan Alam Semesta Visualisasi keseimbangan antara bintang, bulan, dan bumi yang melayang harmonis. Bumi

Representasi visual tentang keteraturan ciptaan.

وَ مَا خَلَقْنَا السَّمٰوَاتِ وَ الْاَرْضَ وَ مَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَ اِنَّ السَّاعَةَ لَاٰتِيَةٌ ۚ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيْلَ

(QS. Al-Hijr [15]: 85)

Penjelasan Ayat Tentang Kepastian dan Pengampunan

Al-Hijr ayat 85 adalah salah satu penutup surah yang kaya akan pesan tauhid dan manajemen emosi dalam menghadapi penolakan atau kesulitan. Ayat ini secara ringkas namun mendalam menegaskan dua pilar utama dalam keyakinan Islam: kebenaran penciptaan dan keniscayaan Hari Kiamat, diikuti dengan perintah praktis mengenai sikap seorang mukmin.

Kebenaran Penciptaan Semesta

Ayat ini dimulai dengan penegasan: "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan kebenaran (haqq)." Kalimat ini menanamkan kesadaran bahwa seluruh alam semesta, dari galaksi terjauh hingga atom terkecil, diciptakan bukan tanpa tujuan atau secara sia-sia. Penciptaan ini didasarkan pada 'Al-Haqq', kebenaran mutlak, keadilan, dan hikmah Ilahi yang sempurna.

Bagi orang yang merenung (seperti ilustrasi di atas yang menunjukkan keseimbangan kosmik), ayat ini menjadi bukti nyata akan keagungan dan perencanaan Allah SWT. Setiap hukum fisika, siklus musim, dan keteraturan benda-benda langit adalah manifestasi dari kebenaran penciptaan tersebut. Ini menuntut manusia untuk tunduk pada kebenaran yang dibawa oleh para Rasul, karena yang menciptakan keteraturan alam semesta pasti menetapkan pula keteraturan dalam urusan agama dan moralitas.

Keniscayaan Hari Perhitungan (As-Sā'ah)

Pilar kedua yang ditekankan adalah kepastian datangnya Hari Kiamat: "Dan sesungguhnya saat itu (kiamat) pasti akan datang." Penegasan ini berfungsi sebagai pengingat keras bagi mereka yang mengingkari kebangkitan. Jika penciptaan awal saja begitu agung dan teratur, maka membangkitkan kembali makhluk setelah kematian hanyalah persoalan kemudahan bagi Allah.

Dengan adanya kepastian hari pembalasan dan pertanggungjawaban, maka segala tindakan di dunia memiliki konsekuensi abadi. Ini memotivasi umat Islam untuk beramal shaleh dan menjauhi maksiat, karena kesenangan sesaat di dunia akan segera digantikan oleh perhitungan yang adil.

Perintah untuk Memaafkan dengan Indah

Setelah meletakkan fondasi teologis yang kokoh (penciptaan yang benar dan kiamat yang pasti), Allah SWT memberikan perintah praktis yang sangat penting bagi interaksi sosial dan ketenangan jiwa: "Maka maafkanlah (mereka) dengan pemaafan yang baik (Shofhahul Jamila)."

Perintah ini turun dalam konteks ketika Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy. 'Shofhahul Jamila' (pemaafan yang indah) memiliki beberapa tingkatan makna:

  1. Pemaafan Tanpa Menyimpan Dendam: Memaafkan dengan tulus, tanpa ada niat untuk membalas di kemudian hari.
  2. Pemaafan yang Menjaga Kehormatan: Memaafkan tanpa perlu merendahkan diri sendiri atau merusak martabat kebenaran yang dibawa.
  3. Pemaafan yang Menghilangkan Gangguan: Menjauhi mereka yang menolak dengan cara yang baik, sebagaimana yang juga diajarkan di ayat-ayat sebelumnya dalam surah ini.

Inilah puncak kematangan spiritual. Ketika seseorang telah yakin sepenuhnya pada kebenaran rencana Allah (Al-Haqq) dan kepastian akhir (As-Sā'ah), maka masalah-masalah duniawi, termasuk kekasaran orang lain, menjadi relatif kecil. Ketenangan batin didapatkan bukan dari mengubah orang lain, melainkan dari mengendalikan respons diri sendiri dengan cara yang paling mulia, yaitu memaafkan dengan indah.

Implikasi Spiritualitas

Al-Hijr ayat 85 mengajarkan bahwa iman yang kuat menghasilkan karakter yang kuat pula. Iman kepada keteraturan alam semesta (ayat 85a) menuntut kita untuk menjalani hidup dengan teratur dan terarah. Iman kepada hari perhitungan (ayat 85b) mendorong kita untuk bertanggung jawab. Dan kemudian, kesadaran ini membebaskan kita dari beban emosional negatif, memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan sesama (termasuk yang menyakiti) melalui lensa pengampunan dan keindahan akhlak (ayat 85c).

Ayat ini adalah penyeimbang antara realitas akhirat dan tuntutan amal di dunia, sebuah panduan komprehensif untuk menjalani hidup yang terikat pada kebenaran Ilahi.

🏠 Homepage