Dalam lembaran Al-Qur'an, setiap ayat menyimpan hikmah yang mendalam, berfungsi sebagai panduan, penghibur, dan pengingat akan kuasa Sang Pencipta. Salah satu ayat yang seringkali menjadi renungan penting bagi hamba-hamba-Nya adalah firman Allah dalam Surah Al-Hijr, tepatnya pada ayat ke-86. Ayat ini memiliki konteks ilahi yang luas, menyentuh aspek penciptaan, rezeki, dan sifat Maha Tahu Allah SWT.
Ayat ini singkat namun sarat makna. Ia merangkum dua atribut fundamental Allah yang saling melengkapi: Al-Khallāq (Maha Pencipta) dan Al-'Alīm (Maha Mengetahui). Memahami kedua sifat ini adalah kunci untuk menata pandangan hidup seorang Muslim terhadap alam semesta dan takdirnya sendiri.
Penyebutan Al-Khallāq menegaskan bahwa Allah adalah sumber segala keberadaan. Ia bukan sekadar memulai penciptaan, tetapi Ia terus-menerus menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Dari atom terkecil hingga galaksi terjauh, semua berada dalam skema penciptaan-Nya yang sempurna. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta membawa ketenangan. Ketika kita menghadapi kesulitan atau merasa terbatas oleh kemampuan diri, kita diingatkan bahwa sumber daya dan solusi datang dari Zat yang Maha Mampu menciptakan hal yang tadinya tidak ada. Ini adalah panggilan untuk berserah diri setelah berusaha, meyakini bahwa daya upaya manusia hanyalah setitik kecil dari potensi penciptaan-Nya.
Melengkapi sifat penciptaan-Nya, Allah SWT memperkenalkan diri sebagai Al-'Alīm. Ini berarti pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu—yang tampak maupun yang tersembunyi, yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Tidak ada satu pun bisikan hati, niat tersembunyi, atau kejadian di sudut bumi yang luput dari pengamatan-Nya. Sifat ini memberikan jaminan keadilan tertinggi. Ketika manusia merasa teraniaya atau ketika amal kebaikan tidak terlihat oleh mata manusia, ayat ini mengingatkan bahwa Allah mengetahui segalanya. Keyakinan ini mendorong seorang mukmin untuk selalu berbuat baik, bahkan dalam kesendirian, karena pertanggungjawaban akhir hanya kepada Yang Maha Mengetahui.
Kedua sifat ini bekerja secara simultan. Karena Dia adalah Pencipta, maka Dia mengetahui secara detail mekanisme ciptaan-Nya. Tidak mungkin seseorang menciptakan sesuatu tanpa memahaminya secara mendalam. Ketika Allah menciptakan manusia, Dia juga mengetahui potensi, kelemahan, kebutuhan rezeki, hingga ajal mereka. Ayat 86 Surah Al-Hijr ini seringkali datang setelah ayat-ayat yang membahas rezeki, pemberian, dan ketakutan orang musyrik. Penempatan ini sangat strategis: meskipun manusia sibuk mencari rezeki dan takut akan kekurangan, Allah menegaskan bahwa Dialah yang mengatur semua itu dengan sempurna karena Dia Pencipta yang Maha Tahu setiap celah kebutuhan.
Bagi seorang Muslim yang sedang dalam perjalanan spiritual, Al-Hijr ayat 86 berfungsi sebagai jangkar keimanan. Ini membebaskan kita dari beban kepanikan berlebihan. Jika kita percaya bahwa Dia Pencipta segalanya, maka tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diatasi oleh kuasa-Nya. Jika kita percaya bahwa Dia Maha Mengetahui, maka kita tidak perlu khawatir akan penilaian manusia yang dangkal. Marilah kita jadikan kesadaran akan dua sifat agung ini sebagai motivasi untuk hidup penuh ketenangan, integritas, dan syukur yang tak terhingga kepada Rabbul 'alamin.