Al-Qur'an adalah kitab suci yang sarat dengan petunjuk, peringatan, dan janji bagi umat manusia. Di antara sekian banyak ayat yang membentuk fondasi keyakinan, **Al Isra ayat 107** menempati posisi penting. Ayat ini secara eksplisit menjelaskan reaksi orang-orang yang ketika mendengarkan kebenaran wahyu Ilahi (Al-Qur'an), mereka menunjukkan sikap tunduk dan mengakui kebenaran yang dibawa olehnya. Pemahaman mendalam mengenai ayat ini esensial untuk mengukur kedewasaan spiritual seseorang dalam menerima pesan ketuhanan.
Konteks Penurunan dan Signifikansi Ayat
Ayat ini seringkali dikaitkan dengan periode awal turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat yang membicarakan keagungan Allah, hari kebangkitan, dan sifat-sifat mukjizat Al-Qur'an, memiliki dampak psikologis dan spiritual yang luar biasa pada pendengarnya, terutama mereka yang mencari kebenaran sejati. Dalam konteks ini, Al Isra 107 menjadi cerminan ideal bagaimana seharusnya seorang hamba merespons firman Allah.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "merendahkan diri sambil menangis" (*yakhirrūna lil-adhqāni bukkā*) dan "bertambah khusyu'" (*wa yazīdūhum khushūʿā*). Kedua frasa ini tidak hanya merujuk pada tindakan fisik berupa sujud atau menundukkan kepala, tetapi lebih kepada kondisi batiniah—sebuah pengakuan total atas kebenaran mutlak yang disampaikan. Menangis di sini bukanlah tangisan kesedihan biasa, melainkan air mata penyesalan atas kelalaian masa lalu, rasa syukur atas petunjuk yang ditemukan, dan kekaguman yang melampaui batas nalar.
Kerendahan Hati sebagai Gerbang Ilmu
Mengapa kerendahan hati menjadi syarat utama penerimaan wahyu? Dalam perjalanan mencari kebenaran, kesombongan intelektual atau ego pribadi sering kali menjadi penghalang terbesar. Ketika seseorang merasa dirinya sudah tahu segalanya atau menganggap dirinya lebih superior, sulit baginya untuk menerima koreksi atau petunjuk baru, apalagi jika petunjuk tersebut menuntut perubahan radikal dalam pandangan dunia.
Al Isra 107 mengajarkan bahwa ilmu yang sejati (ilmu yang berasal dari Yang Maha Tahu) hanya akan meresap ke dalam hati yang lapang dan rendah diri. Kerendahan hati ini adalah manifestasi kesadaran bahwa manusia sangat terbatas, sementara sumber wahyu (Allah SWT) adalah Maha Luas dan Maha Mengetahui. Ketika kesadaran ini muncul, hati secara otomatis akan tunduk, dan respons yang muncul adalah tangisan penuh penghormatan.
Khusyu': Peningkatan Kualitas Spiritual
Frasa "bertambah khusyu'" menunjukkan bahwa interaksi dengan Al-Qur'an bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan sebuah proses dinamis. Setiap kali kebenaran Ilahi dihayati, tingkat ketenangan, fokus, dan kedekatan spiritual seorang mukmin seharusnya meningkat. Khusyu' dalam shalat, misalnya, sangat dipengaruhi oleh seberapa dalam kita memahami dan merenungkan ayat-ayat yang kita baca. Ayat 107 ini menjadi tolok ukur spiritual: jika kita sering membaca Al-Qur'an namun hati tetap keras dan tidak terpengaruh, maka kita perlu mengevaluasi kembali kadar kerendahan hati kita.
Para mufassir menjelaskan bahwa tangisan dan kerendahan hati ini adalah reaksi alami jiwa yang tersentuh oleh janji-janji surga, ancaman neraka, serta keajaiban penciptaan yang disebutkan dalam wahyu tersebut. Mereka menyadari betapa kecilnya diri mereka di hadapan keagungan yang dijelaskan. Ini adalah siklus positif: semakin rendah hati, semakin dalam pemahaman, semakin besar pula khusyu' yang dirasakan.
Relevansi Kontemporer Al Isra 107
Di era modern di mana informasi membanjiri dan skeptisisme mudah timbul, pelajaran dari **Al Isra ayat 107** menjadi semakin vital. Banyak orang menganggap ajaran agama hanya sebagai seperangkat dogma kaku tanpa menyentuh esensi kebenaran yang mendasarinya. Untuk benar-benar merasakan kedamaian dan arah yang dibawa oleh ajaran suci, diperlukan penanggiran ego dan pembukaan hati.
Mengamalkan semangat ayat ini berarti membaca Al-Qur'an, mendengarkan ceramah, atau mempelajari tafsir dengan niat murni untuk tunduk dan berubah menjadi lebih baik. Ini bukan tentang mencari celah argumen atau membandingkan dengan pandangan lain, melainkan menyerah sepenuhnya pada otoritas wahyu. Ketika kita melakukannya, kita akan menemukan bahwa air mata penyesalan dan rasa syukur akan sering mengalir, menandakan bahwa hati kita sedang diperbaharui dan koneksi spiritual kita semakin kuat. Ayat ini adalah undangan abadi untuk selalu bersikap rendah hati di hadapan keagungan Ilahi.