Dalam khazanah ilmu Al-Qur'an, setiap ayat memiliki bobot dan makna yang mendalam. Salah satu ayat yang seringkali menjadi penutup dari suatu pembahasan penting adalah Surah Al-Isra' ayat 111. Ayat ini, meskipun singkat, mengandung perintah agung yang mencakup seluruh spektrum kehidupan seorang Muslim, dari hubungan vertikal (dengan Tuhan) hingga hubungan horizontal (dengan sesama manusia). Ayat ini berfungsi sebagai penutup yang merangkum esensi ajaran Islam.
Ayat 111 Surah Al-Isra' dibuka dengan perintah tegas untuk mengucapkan, "Katakanlah: Segala puji bagi Allah." Ini adalah bentuk Tahmid yang paling murni. Segala bentuk pujian, syukur, dan sanjungan harus diarahkan hanya kepada Allah SWT. Setelah perintah memuji, Allah langsung menegaskan keesaan-Nya dengan meniadakan tiga asumsi kesyirikan utama yang seringkali dilakukan oleh umat manusia di berbagai zaman.
Pertama, penolakan terhadap konsep memiliki anak ("Yang tidak mempunyai anak"). Penegasan ini meluruskan pemahaman terhadap keagungan ilahi, menolak segala bentuk penyekutuan yang berupa keturunan atau keterikatan biologis. Allah adalah Dzat yang mandiri dan tidak membutuhkan pewaris.
Kedua, penolakan terhadap sekutu dalam kekuasaan ("dan tidak pula mempunyai sekutu dalam kekuasaan-Nya"). Ini adalah inti dari Tauhid Rububiyah. Tidak ada satu pun entitas, baik itu malaikat, nabi, dewa, atau kekuatan alam, yang memiliki andil dalam pengelolaan alam semesta ini. Hanya Allah yang Maha Menguasai.
Bagian ketiga dari penolakan ini sangat menarik secara filosofis: "dan tidak (pula) mempunyai penolong karena kelemahan-Nya." Ini adalah bantahan terhadap antropomorfismeākecenderungan untuk menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat kekurangan makhluk. Ketika manusia membutuhkan penolong, itu karena mereka lemah dan terbatas. Allah SWT, sebaliknya, adalah Al-Ghani (Maha Kaya) dan Al-Qawiy (Maha Kuat). Karena kesempurnaan-Nya, Dia tidak memerlukan bantuan siapa pun untuk menjalankan kehendak-Nya.
Ayat ini secara implisit mengajarkan bahwa sumber kekuatan sejati hanya ada pada Allah. Menggantungkan harapan pada selain-Nya adalah bentuk kekeliruan fatal karena pada dasarnya, semua yang selain Dia adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan.
Setelah memurnikan keyakinan (Tauhid) dengan membersihkan nama Allah dari segala cacat dan sekutu, ayat diakhiri dengan perintah yang klimaks: "dan agungkanlah Dia sebesar-besar pengagungan." Kata Takbir (pengagungan) di sini menekankan tingkatan tertinggi dalam penghormatan dan pemujaan.
Pengagungan ini bukan sekadar ucapan verbal, melainkan harus terwujud dalam seluruh aspek kehidupan. Jika seseorang benar-benar meyakini bahwa Allah tidak beranak, tidak berserikat, dan tidak membutuhkan penolong, maka konsekuensinya adalah ketaatan total dan pengagungan yang melampaui batas nalar manusia biasa. Pengagungan ini mencakup pelaksanaan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta membersihkan hati dari segala bentuk syirik kecil maupun besar. Ayat ini menutup Surah Al-Isra' dengan sebuah deklarasi keesaan yang paripurna, menjadi penanda bagi kesempurnaan iman yang telah dibahas sepanjang surah tersebut.