Kajian Mendalam Surat Al-Isra Ayat 12: Perintah dan Hikmahnya

Penerangan Wahyu Ilahi لِـ

Ilustrasi simbolis mengenai penerimaan petunjuk Ilahi.

Konteks dan Keutamaan Ayat

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran sejarah, etika sosial, dan prinsip-prinsip ketuhanan. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, terdapat Al-Isra 12, sebuah ayat yang sering kali menarik perhatian para mufassir karena mengandung perintah spesifik yang berkaitan dengan perilaku manusia terhadap waktu dan tanggung jawab.

Ayat ini secara langsung berkaitan dengan bagaimana seharusnya manusia memanfaatkan siang dan malam, serta bagaimana cara memohon rezeki. Memahami konteks ayat ini sangat krusial, sebab ia menghubungkan antara tawakal, usaha, dan pengakuan akan kekuasaan Allah SWT sebagai pemberi rezeki.

"Dan jika Kami hendak membinasakan sesuatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar taat kepada Allah), tetapi mereka berlaku fasik di negeri itu, lalu mereka pantas mendapat azab, maka Kami membinasakannya dengan pembinasaan yang sehancur-hancurnya." (QS. Al-Isra: 16). *Catatan: Teks di atas adalah konteks ayat sekitar Al-Isra 12 untuk memberikan gambaran menyeluruh, meskipun fokus utama kita adalah ayat 12 itu sendiri.*

Makna Perintah Mencari Rezeki di Siang Hari

Meskipun Al-Isra 12 secara literal berbicara tentang Allah sebagai Pemberi rezeki, dalam banyak tafsir, ayat-ayat di sekitarnya (terutama yang membahas siang dan malam) diperkuat untuk mengajarkan prinsip bekerja. Ketika membahas rezeki dan aktivitas manusia, para ulama sering merujuk pada perintah tersirat untuk memanfaatkan waktu siang hari.

Siang hari adalah waktu yang diberikan Allah SWT sebagai sarana dan kesempatan bagi hamba-Nya untuk berusaha mencari nafkah. Ini adalah bagian dari ajaran Islam bahwa iman harus diwujudkan dalam amal nyata. Tidak cukup hanya berdoa dan bertawakal tanpa menggerakkan anggota badan. Ketika matahari terbit dan siang menyinari bumi, umat Islam diperintahkan untuk menyebar di muka bumi, mencari karunia Allah. Ini adalah keseimbangan antara spiritualitas (doa di malam hari) dan pragmatisme (usaha di siang hari).

Dalam perspektif modern, perintah ini menekankan pentingnya etos kerja yang kuat. Siang hari melambangkan keteraturan, visibilitas, dan energi untuk melakukan tugas-tugas duniawi. Mengabaikan waktu siang untuk bekerja sering kali dianggap sebagai kelalaian terhadap amanah yang diberikan Allah untuk mengelola bumi (khalifah fil ardh).

Kontras dengan Malam Hari

Penting untuk membandingkan fungsi siang hari dengan malam hari. Sementara siang hari adalah waktu untuk beraktivitas mencari rezeki, malam hari memiliki fungsi utama untuk beristirahat (sebagai rahmat dan pemulihan) dan beribadah malam (Qiyamul Lail). Harmoni antara aktivitas duniawi dan spiritual inilah yang menjadi inti ajaran dalam surat ini. Jika seseorang menukar fungsi keduanya—bekerja keras di malam hari tanpa istirahat yang cukup, atau bermalas-malasan di siang hari—maka ia telah menyalahgunakan tatanan alam yang ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Para penafsir menekankan bahwa mencari rezeki di siang hari adalah bentuk ibadah itu sendiri, asalkan dilakukan dengan niat yang benar dan tidak melampaui batas syariat. Rezeki yang diperoleh dengan cara yang halal dan melalui usaha yang sungguh-sungguh akan membawa berkah yang jauh lebih besar daripada rezeki yang datang secara instan namun diiringi kelalaian dari kewajiban.

Hikmah di Balik Pemberian Rezeki

Kembali pada inti dari Al-Isra 12 (bahwa Allah adalah Pemberi rezeki), hikmah terbesarnya adalah menumbuhkan rasa syukur dan kerendahan hati. Kesuksesan materi yang diraih di siang hari seharusnya tidak membuat seseorang menjadi sombong atau lupa diri. Ayat ini mengingatkan bahwa sumber segala kekayaan dan kecukupan hanyalah dari Allah.

Jika manusia lupa bahwa Allah yang memberikan kekayaan, mereka cenderung menjadi zalim atau kufur nikmat. Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya di Al-Isra, Allah seringkali memperingatkan tentang kehancuran kaum yang hidup mewah namun menolak kebenaran (seperti yang disinggung pada ayat 16). Oleh karena itu, kesadaran bahwa rezeki itu titipan dan harus digunakan sesuai petunjuk-Nya adalah pilar utama dalam menafsirkan pesan-pesan tentang penghidupan dalam surat ini.

Implikasi Etika Kerja

Implikasi praktis dari pesan ini sangat luas. Pertama, mendorong profesionalisme dan ketekunan dalam bekerja. Kedua, menanamkan prinsip distribusi kekayaan (zakat dan sedekah), karena rezeki yang melimpah di siang hari juga mengandung hak orang-orang yang membutuhkan. Ketiga, menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Ketika siang hari telah usai, energi harus diarahkan kembali untuk menghadap Allah.

Dengan demikian, kajian terhadap konteks seputar Al-Isra 12 mengajarkan sebuah sistem kehidupan yang terstruktur: usaha keras di waktu yang tepat (siang hari) diiringi dengan keyakinan penuh bahwa hasilnya sepenuhnya berada di Tangan Allah, sambil selalu mempersiapkan diri untuk pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Ini adalah panduan komprehensif untuk menjalani kehidupan yang produktif dan religius.

🏠 Homepage