Makna Mendalam Al-Isra Ayat 40: Pengakuan Keesaan Allah

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat di Juz 15 Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran historis dan teologis. Di antara ayat-ayatnya, ayat ke-40 memiliki posisi penting dalam memperkuat prinsip dasar tauhid (keesaan Allah).

Ayat ini berbicara tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan Allah dalam posisi yang paling mulia, jauh dari kesalahan penempatan status kepada selain-Nya. Berikut adalah kutipan dari Al-Isra ayat 40:

أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِنَاثًا ۚ إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا
"Maka, apakah Tuhanmu telah mengkhususkan bagimu anak laki-laki dan Dia mengambil untuk diri-Nya anak-anak perempuan dari para malaikat? Sesungguhnya kamu mengucapkan perkataan yang sangat dusta."

Konteks dan Penekanan Tauhid

Ayat 40 Al-Isra ini secara langsung menanggapi tuduhan atau keyakinan sesat yang pernah dipegang oleh sebagian kelompok, baik dari kalangan musyrikin Arab kuno maupun kelompok-kelompok lain yang menyematkan sifat-sifat ketuhanan atau keterbatasan kepada Allah SWT. Inti dari ayat ini adalah sebuah pertanyaan retoris yang mengandung celaan keras terhadap mereka yang berani menetapkan bagi Allah sifat-sifat yang mustahil bagi kesempurnaan-Nya.

Pertanyaan kunci yang diajukan adalah:

Kedua pertanyaan ini merujuk pada praktik kaum musyrik Mekkah yang meyakini bahwa malaikat (seperti Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat) adalah putri-putri Allah. Keyakinan ini, dalam pandangan Islam, merupakan bentuk syirik terbesar, yaitu menyamakan Allah dengan makhluk ciptaan-Nya, bahkan dalam hal hubungan kekerabatan yang sangat mendasar.

Dusta yang Sangat Besar (Qawlan 'Adhīman)

Penutup ayat tersebut menegaskan bahwa ucapan atau keyakinan semacam itu adalah "perkataan yang sangat dusta" (qawlan 'adhīman). Kata "adzīm" (besar) di sini menunjukkan bobot kesalahan yang luar biasa. Ini bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan pelanggaran fundamental terhadap akidah tauhid karena merendahkan kesucian dan keesaan Allah.

Allah SWT Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan (sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Ikhlas). Menetapkan jenis kelamin, keturunan, atau membutuhkan penolong dalam penciptaan adalah sifat kekurangan yang hanya melekat pada makhluk yang terbatas, bukan pada Sang Pencipta Yang Maha Sempurna.

Ilustrasi Penegasan Keesaan

Untuk menggambarkan betapa tidak masuk akalnya asumsi tersebut, mari kita visualisasikan keagungan Allah yang tidak memerlukan penolong atau keturunan:

Ilustrasi Simbolis Keesaan dan Kemuliaan Allah Mustahil ALLAH

Pelajaran Praktis dari Al-Isra Ayat 40

Ayat ini mengajarkan kita beberapa pelajaran penting dalam kehidupan beragama:

  1. Kesempurnaan Sifat Allah: Allah adalah Al-Ahad (Yang Maha Esa) dan Al-Samad (Yang Maha Dibutuhkan). Dia tidak membutuhkan apa pun, termasuk keturunan, penolong, atau pasangan.
  2. Menjaga Batasan Akidah: Penting untuk selalu menjaga kemurnian akidah dan menghindari penyerupaan sifat-sifat makhluk kepada Sang Pencipta.
  3. Kritik Terhadap Kesalahan Fatal: Ayat ini berfungsi sebagai koreksi keras terhadap pandangan yang merendahkan keagungan Allah, menekankan bahwa ini adalah kebohongan yang sangat serius di hadapan-Nya.

Memahami Al-Isra ayat 40 memperkuat fondasi keimanan kita. Ketika kita mengakui keesaan dan kesempurnaan Allah tanpa cela, ibadah kita menjadi lebih murni dan fokus, karena kita menyembah Zat yang benar-benar layak disembah, bebas dari segala keterbatasan yang melekat pada ciptaan.

Semoga perenungan terhadap ayat ini senantiasa menjaga kemurnian tauhid kita.

🏠 Homepage