Memahami Janji dan Peringatan dalam Al-Isra Ayat 60

Al-Qur'an adalah sumber petunjuk hidup umat Islam, dan setiap ayatnya mengandung hikmah serta pelajaran yang mendalam. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam konteks sejarah kenabian dan tantangan iman adalah Surah Al-Isra' ayat ke-60. Ayat ini secara spesifik berbicara mengenai respons kaum kafir Quraisy terhadap seruan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi janji ilahi mengenai batasan cobaan yang akan dihadapi.

Teks dan Konteks Al-Isra Ayat 60

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepadamu: 'Sesungguhnya Tuhanmu meliputi (ilmu dan kekuasaan-Nya kepada) semua manusia.' Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu itu melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon yang dikutuk (yang disebut) dalam Al-Qur'an. Kami memberikan ancaman kepada mereka, tetapi hal itu justru menambah mereka melampaui batas." (QS. Al-Isra: 60)

Ayat ini turun dalam konteks ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi penolakan keras dari kaum kafir Mekah. Ketika Nabi menyampaikan wahyu dan mukjizat, respon mereka sering kali berupa pengingkaran dan tantangan, termasuk mempertanyakan validitas wahyu yang diterima Nabi.

Ujian Melalui Mimpi dan Gambaran

Poin pertama yang disorot dalam ayat ini adalah penggunaan 'mimpi' (atau penglihatan kenabian) sebagai ujian. Dalam tradisi Islam, mimpi kenabian adalah wahyu yang benar. Namun, bagi orang-orang yang kufur, penglihatan atau mimpi yang dibawa Nabi dianggap sebagai sihir atau khayalan belaka. Allah menegaskan bahwa apa yang diperlihatkan kepada Nabi adalah ujian keimanan. Apakah manusia akan menerimanya sebagai kebenaran yang datang dari Tuhan, ataukah menolaknya karena hawa nafsu dan kesombongan?

Ujian ini bersifat universal, menyentuh aspek psikologis dan spiritual manusia. Bagi orang beriman, itu adalah peneguhan; bagi yang ingkar, itu adalah kesempatan untuk jatuh lebih dalam pada kekufuran mereka.

Pohon Terkutuk (Syajaratul La'nah)

Ayat ini juga menyebutkan "pohon yang dikutuk (yang disebut) dalam Al-Qur'an". Mayoritas mufassir menafsirkannya sebagai pohon Al-Gharqad. Pohon ini disebutkan dalam beberapa hadis sebagai pohon yang tumbuh di wilayah Syam (sekarang Palestina/Israel) yang akan tumbuh subur dan menjadi tempat persembunyian orang Yahudi saat mereka melawan umat Islam di akhir zaman. Penyebutan pohon ini dalam konteks ayat 60 berfungsi sebagai peringatan keras bahwa segala sesuatu yang disebutkan dalam Al-Qur'an, termasuk deskripsi tentang musuh-musuh kebenaran, adalah nyata dan akan terjadi.

Penyebutan simbolis ini menggarisbawahi bahwa Al-Qur'an bukan sekadar kumpulan kisah, melainkan juga berisi ramalan dan peringatan spesifik yang akan terwujud, menguji teguh pendirian mereka yang menolaknya.

Konsekuensi Penolakan: Melampaui Batas

Bagian akhir ayat ini menjelaskan dampak penolakan kaum kafir: "Kami memberikan ancaman kepada mereka, tetapi hal itu justru menambah mereka melampaui batas." Ini adalah fenomena psikologis yang sering terjadi pada orang yang keras kepala. Ketika dihadapkan pada bukti dan ancaman neraka, alih-alih bertobat, mereka malah semakin membangkang dan meningkatkan permusuhan mereka.

Penolakan terhadap ayat-ayat Allah—terlepas dari bentuk penyampaiannya, baik itu wahyu terang-terangan, mimpi kenabian, maupun penegasan melalui simbol seperti pohon Al-Gharqad—selalu berujung pada tindakan melampaui batas (isyraf). Ini menunjukkan kesempitan pandangan mereka yang hanya mau menerima apa yang sesuai dengan ego dan kepentingan duniawi mereka.

Pelajaran Universal dari Isra Ayat 60

Makna Al-Isra ayat 60 relevan hingga kini. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebenaran ilahi akan selalu diuji. Ujian tersebut bisa berupa hal-hal yang abstrak (seperti mimpi atau visi) maupun hal-hal yang bersifat konkret (seperti deskripsi masa depan yang kontroversial).

Bagi seorang mukmin, ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Meliputi, baik dalam ilmu maupun kekuasaan-Nya. Tidak ada satu pun kejadian yang terlepas dari pengawasan-Nya. Sementara bagi penentang kebenaran, penolakan yang berulang kali justru akan menutup hati mereka dari hidayah, mendorong mereka melakukan kezaliman yang lebih besar.

Memahami ayat ini membantu kita bersabar menghadapi penolakan terhadap dakwah, sambil terus meyakini bahwa segala janji dan ancaman Allah adalah benar dan pasti akan terwujud.

Ujian Kebenaran

Ilustrasi: Perjalanan iman menghadapi penghalang.

🏠 Homepage