Tiga ayat terakhir dari Surah Al-Isra (Bani Israil) mengandung perintah penting yang berkaitan dengan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam: Shalat Malam atau Tahajjud. Ayat-ayat ini merupakan penutup yang kuat bagi bab yang banyak membahas tentang mukjizat Isra Mi'raj dan beberapa prinsip keimanan lainnya. Fokus utama dari Al-Isra 79 81 adalah membangun kedekatan spiritual seorang hamba dengan Rabb-nya di tengah kesibukan dunia.
Mari kita telaah bersama makna mendalam dari ayat-ayat tersebut:
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk melaksanakan shalat malam (Tahajjud) sebagai tambahan (nafilatan lak) di luar shalat fardhu. Tujuan yang dijanjikan sangat agung: Allah akan mengangkat derajat beliau ke Maqamul Mahmud (tempat yang terpuji), yaitu syafaat di hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa pengabdian ekstra di waktu yang sepi membawa balasan yang luar biasa tinggi di sisi Allah.
Ayat selanjutnya adalah doa yang diajarkan kepada Rasulullah, yang juga menjadi panduan bagi seluruh umat Islam. Doa ini mencakup tiga permohonan fundamental: kebenaran dalam masuk (ke dalam kebaikan/Islam), kebenaran dalam keluar (dari kesulitan/kewajiban), dan permohonan pertolongan yang nyata dari Allah. Permintaan ini sering dikaitkan dengan konteks dakwah dan perjuangan, di mana seorang mukmin memerlukan bimbingan konstan agar setiap langkahnya senantiasa berada di jalan yang benar.
Ayat penutup ini adalah deklarasi penuh keyakinan dan keteguhan iman. Ketika kebenaran (Tauhid dan ajaran Islam) datang, maka secara otomatis kebatilan (syirik, kesesatan, dan kezaliman) akan sirna. Pernyataan ini menegaskan bahwa Islam memiliki kekuatan inheren untuk menyingkirkan kegelapan. Meskipun kebatilan mungkin terlihat dominan sesaat, ujung akhirnya adalah kehancuran total, sesuai dengan janji Allah.
Visualisasi ketenangan malam yang dianjurkan dalam Al-Isra ayat 79.
Meskipun perintah spesifik Tahajjud dalam ayat 79 ditujukan kepada Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi, para ulama sepakat bahwa ini adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bagi seluruh umat Islam. Waktu antara setelah Isya hingga sebelum Subuh, khususnya sepertiga malam terakhir, adalah waktu yang diberkahi. Dalam keheningan malam, ketika mata dunia terlelap, hati seorang hamba memiliki kesempatan terbaik untuk fokus penuh kepada Sang Pencipta.
Melaksanakan perintah dalam Al-Isra 79 81 tidak hanya berdampak spiritual, tetapi juga memengaruhi karakter di siang hari. Seseorang yang berhasil menaklukkan kantuk demi shalat malam akan cenderung lebih disiplin dalam menghadapi tantangan hariannya. Kekuatan spiritual yang diperoleh di malam hari akan menopang langkahnya saat mengucapkan, "Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap." Ia memohon agar konsisten dalam kebenaran (ayat 80), dan shalatnya adalah manifestasi dari keinginan tersebut.
Disiplin spiritual ini sangat relevan dalam konteks kehidupan modern yang penuh distraksi. Dunia sering kali menarik kita ke dalam 'kebatilan' berupa kesibukan yang sia-sia atau godaan duniawi. Dengan mengamalkan apa yang diajarkan dalam Al-Isra 79 81, seorang Muslim memperkuat benteng imannya. Shalat malam berfungsi sebagai "reset" spiritual, membersihkan jiwa dari akumulasi dosa dan kelelahan emosional sehari-hari.
Janji Maqamul Mahmud bagi Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar balasan materi, melainkan pengakuan tertinggi atas pengorbanan dan ketekunan beliau dalam beribadah. Ini menjadi motivasi bagi umat untuk meneladani kegigihan tersebut. Ketika kita berdiri shalat di tengah malam, kita sedang menapaki jejak spiritual Sang Nabi.
Lebih lanjut, doa permohonan pertolongan (ayat 80) mengingatkan kita bahwa kebenaran (Islam) tidak akan tegak hanya dengan kekuatan manusiawi semata. Dukungan ilahi adalah kunci. Oleh karena itu, setelah menunaikan shalat malam, memohon pertolongan Allah adalah ritual yang menyempurnakan ibadah tersebut. Kemudian, penutup ayat 81 menjadi penegasan bahwa dengan bekal spiritual tersebut, seorang mukmin siap menghadapi realitas kehidupan dengan keyakinan teguh bahwa cahaya kebenaran pasti akan mengalahkan kegelapan kebatilan.
Memahami dan mengamalkan rangkaian Al-Isra 79 81 adalah kunci untuk mencapai ketenangan batin dan keberhasilan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.