Surat Al-Isra’ (juga dikenal sebagai Bani Isra’il) adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang mengandung banyak pelajaran penting mengenai sejarah, moralitas, dan tanggung jawab individu di hadapan Allah SWT. Di antara ayat-ayat yang sarat makna tersebut, rentang ayat 79 hingga 82 menyoroti urgensi melaksanakan ibadah, khususnya salat malam (Tahajjud), serta menjelaskan hakikat Al-Qur'an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Memahami konteks ayat-ayat ini sangat krusial. Ayat-ayat ini turun di periode ketika umat Islam di Makkah menghadapi tekanan berat, namun diperintahkan untuk terus memelihara hubungan spiritual mereka dengan Sang Pencipta, sebagai benteng pertahanan diri dari kelemahan duniawi.
Ayat 79 secara khusus memerintahkan Rasulullah SAW untuk melaksanakan salat di waktu malam, yang kemudian menjadi teladan utama bagi umat Islam untuk melaksanakan salat sunnah Tahajjud.
Ayat ini menekankan bahwa ibadah di malam hari memiliki keutamaan yang istimewa. Waktu malam adalah waktu yang sunyi, di mana hati lebih mudah fokus dan khusyuk. Pahala yang dijanjikan adalah "maqaman mahmuda" (tempat yang terpuji), yang diyakini banyak ulama merujuk pada kedudukan tertinggi di akhirat atau syafaat Nabi Muhammad SAW.
Kemudian, ayat 80 hingga 82 beralih membahas tujuan pengutusan Al-Qur'an dan janji perlindungan bagi Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalahnya.
Ayat 82 memberikan penegasan fundamental mengenai status Al-Qur'an. Ia bukan sekadar kitab hukum atau sejarah, melainkan sumber penyembuhan (syifa') dan rahmat (rahmah). Penyembuhan di sini mencakup penyembuhan spiritual, mental, dan bahkan fisik—ketika petunjuknya diamalkan dengan keyakinan. Ketika jiwa tertekan oleh fitnah dunia, Al-Qur'an hadir sebagai penenang yang membawa ketenteraman hakiki.
Namun, ayat ini juga memberikan peringatan keras. Bagi mereka yang zalim dan menolak kebenaran, Al-Qur'an justru tidak membawa keuntungan, melainkan menambah kerugian. Ini menunjukkan bahwa wahyu Ilahi membutuhkan hati yang terbuka dan mau menerima kebenaran untuk dapat memberikan manfaatnya secara penuh. Keimanan adalah kunci untuk membuka pintu rahmat dan penyembuhan yang terkandung di dalamnya.
Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, pelajaran dari Al-Isra’ 79-82 menjadi sangat relevan. Perintah salat malam mengingatkan kita bahwa kedekatan sejati dengan Allah seringkali membutuhkan pengorbanan waktu pribadi di tengah malam, menjauh dari gangguan dunia. Ini adalah investasi spiritual yang menghasilkan ketenangan luar biasa (maqaman mahmuda) di tengah tantangan hidup.
Selain itu, pengakuan Al-Qur'an sebagai penyembuh menuntut kita untuk kembali merujuk kepadanya bukan hanya saat sakit fisik, tetapi juga saat menghadapi krisis moral, kegelisahan batin, atau kebingungan arah hidup. Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa stabilitas sejati tidak datang dari kemajuan materi, melainkan dari fondasi spiritual yang kokoh yang diperkuat melalui ibadah yang konsisten dan pemahaman mendalam terhadap firman Allah. Ayat 80, dengan permintaan doa agar dimasukkan dan dikeluarkan dengan benar, adalah doa universal untuk keberkahan dalam setiap langkah kehidupan kita.