Kisah-kisah dalam Al-Qur'an seringkali mengandung petunjuk praktis bagi kehidupan umat manusia. Salah satu bagian yang sarat makna dan memberikan arahan jelas bagi Nabi Muhammad SAW—dan secara universal bagi seluruh mukminin—terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 80 hingga 82. Ayat-ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah mandat ilahi mengenai sikap dan tujuan dakwah.
Ayat 80: Perintah untuk Melangkah dengan Tegas
"Dan katakanlah (Nabi Muhammad), 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku pada tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku pada tempat keluar yang benar pula, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau pertolongan yang benar (nyata).'"
Ayat 80 adalah doa permohonan yang mendalam. Ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi kesulitan besar, terutama terkait hijrah atau menghadapi musuh, beliau diperintahkan untuk memohon kepada Allah SWT tiga hal penting:
- Madkhal Shidq (Tempat Masuk yang Benar): Ini merujuk pada permulaan segala urusan yang harus dilandasi kebenaran, integritas, dan ridha Allah. Baik itu memulai dakwah, memasuki kota baru, atau mengambil keputusan besar, semuanya harus didasari kejujuran.
- Mukhraj Shidq (Tempat Keluar yang Benar): Ini adalah hasil akhir yang terhormat dan selamat, bebas dari aib atau kegagalan yang memalukan. Keluar dari kesulitan haruslah dengan kemenangan yang sesuai syariat.
- Sultanan Nashira (Pertolongan yang Nyata): Permohonan agar Allah memberikan dukungan yang kasat mata dan efektif untuk mengalahkan segala bentuk kezaliman atau keraguan.
Ayat 81: Kebenaran Melenyapkan Kebatilan
"Dan katakanlah, 'Kebenaran (Al-Haqq) telah datang, dan kebatilan (Al-Baathil) telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.'"
Ayat 81 adalah deklarasi tegas tentang sifat abadi kebenaran dan sifat sementara kebatilan. Ini adalah ayat yang sangat penting diucapkan ketika kaum Muslimin memasuki Mekkah (Fathu Makkah). Namun, maknanya jauh lebih luas. Ia menegaskan bahwa setiap kali ajaran Allah (Al-Haqq) diangkat dan ditegakkan, kebohongan, kesesatan, dan kemusyrikan (Al-Baathil) akan secara otomatis terdesak dan menghilang. Kehancuran kebatilan bukanlah karena usaha manusia semata, tetapi karena hakikat sifat kebatilan itu sendiri, yaitu ia tidak memiliki dasar yang kokoh dan pasti akan musnah.
Ayat 82: Al-Qur'an sebagai Obat dan Rahmat
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; dan Al-Qur'an itu tidak menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian."
Ayat terakhir dalam rangkaian ini, Al-Isra ayat 82, menjelaskan fungsi utama Al-Qur'an. Ayat ini menetapkan dua peran sentral Al-Qur'an:
1. Syifa’ (Penyembuh)
Al-Qur'an adalah penyembuh. Penyembuhan ini bersifat holistik, mencakup penyakit hati (keraguan, kemunafikan, keserakahan) dan juga dapat menjadi sebab kesembuhan fisik melalui ketenangan jiwa dan keyakinan yang teguh. Ketika hati bersih dari penyakit, ia akan lebih mudah menerima petunjuk.
2. Rahmah (Rahmat)
Sebagai rahmat, Al-Qur'an membawa kebahagiaan, kedamaian, dan janji pahala bagi orang-orang yang beriman. Ia adalah panduan hidup yang membebaskan manusia dari kegelapan takhayul dan tirani hawa nafsu.
Namun, bagi mereka yang zalim, Al-Qur'an justru menambah kerugian. Ini terjadi karena mereka menolak kebenaran yang jelas. Penolakan ini mengunci hati mereka, membuat mereka semakin jauh dari petunjuk, dan pada akhirnya menambah beban dosa mereka. Pemahaman terhadap Al-Isra 80 82 menegaskan bahwa keimanan yang sejati memerlukan langkah aktif (doa dan aksi), deklarasi kebenaran, serta penerimaan Al-Qur'an sebagai obat dan pedoman utama dalam setiap fase kehidupan.