Surah Al-Isra ayat 85 adalah salah satu ayat yang paling mendalam dan sering menjadi bahan perenungan umat Islam, terutama karena ia membahas salah satu misteri terbesar eksistensi: Ruh. Ayat ini muncul setelah serangkaian peristiwa besar, termasuk kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, yang sering kali memicu pertanyaan filosofis dari para sahabat maupun musuh-musuh Islam.
Konteks Pertanyaan tentang Ruh
Pertanyaan mengenai hakikat ruh (spirit) telah ada sejak zaman dahulu. Ruh adalah esensi kehidupan, sesuatu yang menghidupkan jasad mati. Tanpa ruh, manusia hanyalah sekumpulan materi. Di Mekkah, baik kaum musyrik maupun Yahudi seringkali menguji Nabi Muhammad SAW dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab oleh akal manusia biasa. Salah satu pertanyaan tersebut adalah tentang apa itu ruh.
Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan sederhana tentang biologi atau fisika; ini adalah pertanyaan metafisik yang melampaui kemampuan sensorik dan intelektual manusia saat itu—dan bahkan hingga kini. Wahyu yang datang kepada Rasulullah SAW memberikan jawaban yang tegas, lugas, namun sekaligus membatasi ekspektasi manusia.
Jawaban Ilahi: Ruh Termasuk Urusan Tuhan
Jawaban dalam ayat tersebut sangat jelas: "Katakanlah: 'Roh itu termasuk urusan Tuhanku' (min amri Rabbī)."
Frasa "urusan Tuhanku" (أمر ربي - amri Rabbī) menunjukkan dua hal fundamental. Pertama, substansi ruh adalah murni domain ilahi. Manusia tidak diciptakan untuk memahami secara penuh bagaimana ruh bekerja, bagaimana ia dihembuskan, atau bagaimana ia kembali setelah kematian. Ini adalah bagian dari ghayb (hal gaib) yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya secara total.
Kedua, ini menegaskan bahwa upaya ilmiah atau filosofis manusia untuk mendefinisikan atau mengendalikan ruh akan selalu gagal jika dilakukan di luar kerangka wahyu. Ruh adalah ciptaan yang diciptakan melalui perintah langsung Allah, serupa dengan penciptaan alam semesta.
Keterbatasan Ilmu Pengetahuan Manusia
Bagian penutup ayat tersebut menjadi penekanan penting bagi seluruh disiplin ilmu pengetahuan: "dan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit (illā qalīlan)."
Ayat ini bukan berarti meremehkan pencapaian ilmiah manusia. Sebaliknya, ini adalah pengingat yang rendah hati bahwa meskipun manusia telah mencapai kemajuan luar biasa dalam memahami alam semesta, materi, dan energi, pengetahuan ini hanyalah setetes air di lautan ilmu Allah SWT yang tak terbatas. Ayat ini memberikan perspektif kosmik tentang posisi manusia di alam semesta.
Sejauh apa pun sains berkembang—mulai dari penemuan struktur DNA hingga teori kuantum—ia tetap terikat pada ranah syahadah (hal yang dapat diamati). Ruh, yang merupakan kunci kesadaran dan kehidupan itu sendiri, tetap berada di luar batas observasi langsung. Usaha untuk menganggap ilmu pengetahuan manusia setara dengan pengetahuan Tuhan adalah bentuk kesombongan intelektual yang secara eksplisit dikoreksi oleh ayat ini.
Implikasi Teologis dan Filosofis
Pemahaman terhadap Al-Isra 85 memberikan beberapa implikasi penting:
- Kewajiban Tawakkal: Karena ruh adalah urusan Tuhan, manusia didorong untuk menerima batasannya dan berserah diri kepada takdir Allah terkait kehidupan dan kematian.
- Fokus pada Ibadah: Daripada terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung tentang hakikat ruh yang tidak dapat dijangkau, energi manusia seharusnya difokuskan pada hal-hal yang diperintahkan Allah, yaitu ketaatan dan ibadah, yang mana ilmu tentangnya telah diberikan secara memadai.
- Menjaga Kerendahan Hati: Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual. Ilmu yang kita miliki, betapapun canggihnya, adalah anugerah terbatas dari sumber pengetahuan yang tak terbatas.
Pada akhirnya, Al-Isra ayat 85 berfungsi sebagai penanda batas (boundary marker) antara domain ilahi dan domain manusia. Sementara kita didorong untuk terus mencari ilmu dan memahami alam semesta yang kasat mata, kita juga diingatkan untuk selalu mengakui bahwa ada kebenaran yang lebih tinggi dan lebih dalam yang hanya dapat diakses melalui keimanan dan penyerahan diri kepada Yang Maha Mengetahui.