Signifikansi Kisah Isra' Mi'raj dalam Al-Isra Ayat 1 dan 2

Perjalanan Malam Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi perjalanan malam (Isra').

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, menempati posisi penting dalam Al-Qur'an. Ayat pertama dan kedua dari surah ini menyimpan sebuah mukjizat agung yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebuah peneguhan iman, penyegaran spiritual, dan pengangkatan derajat Nabi di hadapan Allah SWT.

Teks dan Terjemahan Ayat Inti

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra: 1)

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا (2)

Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (seraya Kami berfirman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku." (QS. Al-Isra: 2)

Pembahasan Mendalam Ayat Pertama: Perjalanan Mukjizat

Ayat pertama dibuka dengan kalimat tasbih (Subhanallah), yang secara otomatis menunjukkan keagungan dan kesucian Allah SWT. Penggunaan kata "Abdih" (hamba-Nya) merujuk kepada Nabi Muhammad SAW. Ini adalah penekanan penting bahwa meskipun Nabi melakukan perjalanan luar biasa, ia tetaplah seorang hamba Allah, bukan ilah yang disembah. Perjalanan ini, dikenal sebagai Isra', adalah perpindahan fisik dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Alasan utama disebutkan secara eksplisit: "agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Perjalanan ini berfungsi untuk menguatkan hati Nabi yang saat itu sedang menghadapi tekanan berat dari kaumnya. Melihat kebesaran Allah secara langsung di dua pusat spiritual utama (Mekkah dan Yerusalem), serta melihat tanda-tanda di langit dan bumi, memberikan energi spiritual yang tak tertandingi.

Ayat ini juga menegaskan sifat Allah, yaitu "Maha Mendengar lagi Maha Melihat". Ini menunjukkan bahwa seluruh peristiwa agung tersebut disaksikan dan didengar secara sempurna oleh Allah SWT, menegaskan keabsahan mukjizat tersebut di hadapan pencipta alam semesta.

Konteks Ayat Kedua: Hubungan Spiritual dan Peringatan

Ayat kedua secara tiba-tiba beralih membahas Nabi Musa AS dan Taurat. Transisi ini bukan tanpa alasan. Surah Al-Isra seringkali mengaitkan nasib umat terdahulu dengan umat Nabi Muhammad SAW. Dengan menyebutkan pemberian Taurat kepada Bani Israil, ayat ini mengingatkan bahwa mereka pernah menerima petunjuk agung sebagai pedoman hidup.

Pesan sentral dari ayat kedua adalah peringatan keras: "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku." Ini adalah inti tauhid. Setelah mukjizat besar (Isra' Mi'raj) dijelaskan sebagai peneguhan iman bagi Nabi dan umatnya, Allah mengingatkan bahwa sumber kekuatan, pertolongan, dan perlindungan sejati hanyalah dari Allah semata. Peringatan ini ditujukan kepada siapapun yang menjadi penerus risalah, termasuk umat Islam, agar tidak menggantungkan harapan pada selain Sang Pencipta.

Secara kontekstual, penempatan ayat tentang Bani Israil setelah kisah Isra' menunjukkan bahwa meskipun Nabi Muhammad SAW diangkat derajatnya melalui mukjizat yang tiada tara, umat harus tetap berpegang teguh pada prinsip dasar agama, yaitu mengesakan Allah. Kisah Nabi Musa AS menjadi cermin pengingat akan pentingnya loyalitas total kepada wahyu dan Ilah yang memberikan wahyu tersebut.

Implikasi Teologis Isra' Mi'raj

Peristiwa Isra' yang termaktub dalam Al-Isra ayat 1 adalah fondasi penting bagi seluruh umat Islam. Perjalanan ini membuktikan kedudukan istimewa Nabi Muhammad SAW. Lebih lanjut, dari Masjidil Aqsa, Nabi melanjutkan Mi'raj menuju langit tertinggi, tempat beliau menerima perintah shalat lima waktu. Shalat inilah yang menjadi tiang agama, sebuah ibadah personal yang langsung berhubungan antara hamba dan Tuhannya—sebuah manifestasi sempurna dari tauhid yang ditekankan pada ayat kedua.

Ayat 1 dan 2, meski singkat, menyajikan narasi lengkap: sebuah perjalanan agung yang meneguhkan kebesaran Ilahi, diikuti dengan penegasan kembali prinsip dasar keimanan, yaitu tidak menyekutukan Allah dan selalu menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sandaran. Kedua ayat ini berfungsi sebagai jembatan antara mukjizat fisik yang dialami Rasulullah dan tuntunan spiritual berkelanjutan bagi umatnya.

🏠 Homepage