Kisah Agung Isra' Mi'raj: Tafsir Al-Isra Ayat 1-10

Ilustrasi Perjalanan Malam Suci

Pengantar: Keajaiban Isra' Mi'raj

Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra' wal Mi'raj) adalah salah satu bab terpenting dalam Al-Qur'an yang mengabadikan mukjizat luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ. Ayat 1 hingga 10 dari surah ini memberikan fondasi utama mengenai peristiwa Isra' (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan menetapkan kerangka moral serta teologis bagi peristiwa yang lebih luas.

Perjalanan ini bukan sekadar kisah fisik semata, tetapi juga merupakan penegasan kenabian dan penghiburan bagi Nabi Muhammad ﷺ setelah mengalami tahun-tahun yang penuh kesulitan di Mekkah. Ayat-ayat awal ini menekankan kesucian Allah dan kemampuan-Nya yang tak terbatas untuk melakukan apa yang manusia anggap mustahil.

Al-Isra Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ayat pembuka ini langsung menyoroti aspek tauhid melalui kalimat "Subhana" (Maha Suci). Kata "Isra" (memperjalankan di malam hari) menunjukkan bahwa perjalanan agung ini dilakukan di bawah kekuasaan dan pengawasan penuh Allah. Masjidil Aqsa yang disebutkan di sini adalah titik pemberhentian pertama, yang lokasinya telah diberkahi Allah, menandakan pentingnya tempat tersebut dalam sejarah kenabian. Tujuannya jelas: untuk menunjukkan kepada Nabi ﷺ sebagian dari kebesaran dan keajaiban ciptaan serta kekuasaan-Nya.

Al-Isra Ayat 2 sampai 5: Tujuan dan Keutamaan

Ayat-ayat selanjutnya (2-5) beralih ke beberapa hikmah kenabian dan kisah-kisah umat terdahulu, yang berfungsi sebagai penguat bagi misi Nabi Muhammad ﷺ.

Ayat 2 menegaskan bahwa pemberian Taurat kepada Nabi Musa AS adalah petunjuk dan rahmat. Sementara itu, ayat 3 menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang memilih hidup boros atau berlebihan dalam segala hal. Ayat 4 dan 5 mengingatkan tentang kaum Bani Israil, nasib keangkuhan mereka yang pertama (dihukum dengan dikirimnya tentara kuat) dan kedua (diberi kesempatan kedua untuk kembali berbuat dosa).

Al-Isra Ayat 6 sampai 8: Siklus Sejarah dan Pertobatan

Ayat 6 menjelaskan bahwa Allah memberikan kesempatan kedua kepada Bani Israil untuk membalas dendam atas kekalahan pertama mereka dan menguasai kembali Yerusalem. Janji ini disertai peringatan: jika mereka berbuat baik, itu akan baik bagi diri mereka sendiri; namun jika mereka kembali berbuat kerusakan, Allah akan mengirimkan musuh yang lebih dahsyat.

Ayat 7 dan 8 menegaskan siklus ini: kerusakan pertama akan diikuti oleh kebangkitan, dan kerusakan kedua akan diikuti oleh pembalasan yang lebih berat, sehingga mereka tidak dapat melarikan diri dari konsekuensi perbuatan mereka. Ini menunjukkan bahwa rahmat dan hukuman Allah selalu berdasarkan keadilan dan tindakan nyata manusia.

Al-Isra Ayat 9 dan 10: Pedoman Utama

Dua ayat terakhir dari bagian awal ini memberikan prinsip dasar moralitas Islam:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar.

Ayat 9 menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk utama yang mengarahkan kepada jalan paling benar (Aqwam). Ayat ini menjadi jaminan bahwa siapa pun yang mengikuti petunjuk ini dan beramal saleh, mereka dijanjikan pahala yang agung dari Allah.

Kemudian, Ayat 10 secara spesifik menargetkan mereka yang tidak mau beriman, menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mempercayai Akhirat akan disiapkan azab yang pedih. Ini adalah kontras tegas antara konsekuensi ketaatan (pahala besar) dan kedurhakaan (azab pedih).

Kesimpulan dari Sepuluh Ayat Pertama

Sepuluh ayat pertama Surah Al-Isra berfungsi sebagai pengantar yang kuat. Ayat 1 membuka dengan mukjizat Isra', sementara ayat-ayat berikutnya menghubungkannya dengan sejarah kenabian, prinsip keadilan ilahi, dan tuntunan moral yang dibawa oleh Al-Qur'an. Perjalanan malam tersebut menjadi metafora bahwa di tengah kegelapan penolakan kaum kafir, Allah menunjukkan tanda-tanda keagungan-Nya dan menegaskan kebenaran risalah yang dibawa oleh hamba-Nya yang terkasih, Nabi Muhammad ﷺ. Semua pelajaran ini disampaikan agar manusia memahami bahwa setiap tindakan akan mendapatkan balasan yang setimpal di sisi Allah SWT.

🏠 Homepage