Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surah penting dalam Al-Qur'an yang memuat banyak pelajaran historis dan spiritual. Tiga ayat pertamanya merupakan pembukaan yang kuat, mengisahkan keagungan Allah SWT dan memberikan fondasi penting mengenai status Muhammad SAW sebagai Rasulullah.
Signifikansi Ayat Pertama: Isra’ Mi’raj
"Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra: 1)
Ayat pertama ini menegaskan peristiwa agung dalam sejarah Islam, yaitu perjalanan malam (Isra') Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini dimulai dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Tujuan utama dari perjalanan ini bukanlah sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah mukjizat ilahi untuk menunjukkan kepada Nabi tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Peristiwa ini menjadi penguat iman beliau di tengah tantangan dakwah yang dihadapi.
Konsep "berkah" yang melingkupi Masjidil Aqsa menunjukkan pentingnya tempat tersebut dalam narasi kenabian. Ayat ini juga menekankan bahwa Allah Maha Mendengar setiap doa dan Maha Melihat setiap peristiwa, termasuk mukjizat yang dialami Nabi. Ini adalah penegasan langsung dari kuasa dan pengawasan ilahi.
Ayat Kedua: Pentingnya Kitab Suci
"Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat), dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (dengan firman): 'Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.'" (QS. Al-Isra: 2)
Ayat kedua mengalihkan fokus kepada Nabi Musa AS dan Taurat. Allah SWT menegaskan bahwa Kitab suci yang diturunkan kepada Musa adalah petunjuk utama bagi Bani Israil. Penekanan di sini adalah pada tauhid—perintah untuk tidak mengambil pelindung atau pembuat hukum selain Allah. Ini adalah pesan mendasar yang berulang dalam kisah-kisah para nabi: ketaatan mutlak hanya kepada Sang Pencipta.
Bagi Bani Israil, ayat ini berfungsi sebagai pengingat keras akan perjanjian mereka dengan Allah melalui Musa. Pelanggaran terhadap petunjuk ini, sebagaimana dicatat dalam sejarah mereka, sering kali berujung pada kesesatan. Hal ini menjadi pelajaran bagi umat Islam bahwa memegang teguh Al-Qur’an sebagai petunjuk adalah esensial.
Ayat Ketiga: Keturunan yang Bersyukur
"Hai keturunan orang-orang yang Kami angkut bersama Nuh, sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang sangat bersyukur." (QS. Al-Isra: 3)
Ayat ketiga menghubungkan narasi Bani Israil dengan kisah Nabi Nuh AS. Allah memanggil keturunan orang-orang yang diselamatkan bersama Nuh di bahtera—sebagian besar penafsir menghubungkan ini dengan Bani Israil, karena mereka adalah keturunan dari mereka yang diselamatkan dari banjir besar.
Pujian khusus diberikan kepada Nabi Nuh AS sebagai "hamba yang sangat bersyukur." Sifat syukur adalah kunci kebahagiaan dan keselamatan. Dalam konteks ini, Allah mengingatkan keturunannya—termasuk Bani Israil dan umat Nabi Muhammad SAW—bahwa rasa syukur adalah sifat yang terpuji dan merupakan hakikat seorang hamba yang sejati di hadapan Allah. Sikap bersyukur membedakan antara orang yang beriman dan mereka yang kufur nikmat.
Kesimpulan Spiritualitas Tiga Ayat
Tiga ayat pertama Surah Al-Isra memberikan landasan teologis yang kaya. Ayat pertama menegaskan mukjizat dan kebesaran Allah melalui perjalanan Nabi Muhammad. Ayat kedua menggarisbawahi pentingnya mengikuti wahyu Ilahi (Taurat di masa lalu, Al-Qur'an kini) dan konsekuensi dari penyimpangan dari tauhid. Sementara ayat ketiga menyoroti pentingnya mensyukuri nikmat Ilahi, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Nuh AS.
Secara kolektif, ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat agar umat Islam senantiasa waspada, bersyukur, dan teguh memegang petunjuk Allah, sambil merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta dan sejarah peradaban terdahulu.
Memahami konteks dan pesan utama dari Al-Isra ayat 1 sampai 3 memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang bagaimana wahyu berfungsi sebagai panduan bagi kehidupan manusia, baik dalam menghadapi tantangan spiritual maupun dalam menghayati keagungan Sang Pencipta.