Kutipan dari surat Al-Isra ayat 103 ini merupakan respons langsung dari Allah SWT melalui lisan Nabi Muhammad SAW terhadap tuntutan kaum musyrikin Mekkah. Permintaan ini muncul karena ketidakpuasan mereka terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW yang merupakan seorang manusia biasa. Mereka merasa bahwa jika yang datang membawa wahyu adalah utusan Allah, seharusnya utusan tersebut adalah makhluk yang lebih tinggi derajatnya, seperti malaikat. Tuntutan ini mencerminkan kedangkalan pemahaman mereka tentang hikmah pemilihan rasul dan sifat-sifat risalah kenabian. Fokus utama ayat ini adalah menjelaskan prinsip dasar kerasulan yang ditetapkan oleh Allah SWT, yaitu kesesuaian antara pemberi pesan dan penerima pesan.
Ayat ini menegaskan sebuah prinsip fundamental dalam kenabian. Jika Allah mengutus malaikat untuk menjadi rasul di muka bumi, maka para malaikat tersebut harus berinteraksi dengan manusia dalam bentuk yang dapat mereka pahami dan terima. Namun, sifat dasar malaikat diciptakan dari cahaya dan memiliki cara hidup yang berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah. Interaksi langsung antara manusia dengan malaikat dalam wujud aslinya sering kali menimbulkan ketakutan atau kesulitan penerimaan. Oleh karena itu, ketika Allah mengutus rasul, Dia memilih manusia yang paling mulia, yaitu para nabi dan rasul, agar pesan ketuhanan dapat disampaikan dengan cara yang kontekstual dan mudah dicerna oleh umat manusia.
Pemilihan Al Isra ayat 103 ini juga menyiratkan bahwa misi kenabian sangat terikat pada kondisi dan kapasitas penerima risalah. Allah mengetahui batas kemampuan manusia. Jika saja penduduk bumi saat itu hidup layaknya malaikat—yakni tanpa hawa nafsu, selalu taat, dan berinteraksi dalam suasana yang damai tanpa konflik batin—maka mungkin saja pengutusan malaikat sebagai rasul menjadi hal yang logis. Namun, kondisi sosial dan spiritual masyarakat jahiliyah menuntut adanya perantara yang sesama jenis mereka.
Tuntutan untuk mengutus malaikat adalah manifestasi dari kesombongan intelektual dan spiritual kaum Quraisy. Mereka meremehkan kedudukan Nabi Muhammad SAW karena beliau makan, minum, dan berjalan di pasar layaknya manusia biasa. Mereka lupa bahwa risalah kenabian bukan tentang bentuk fisik pembawa pesan, melainkan tentang kebenaran dan keotentikan pesan yang dibawa. Keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia adalah bukti kasih sayang Allah, yang memilih perantara yang paling menyerupai penerima risalah agar umat tidak merasa terasing atau terintimidasi oleh utusan ilahi.
Ayat ini secara implisit mengajarkan tentang pentingnya melihat substansi daripada penampilan. Kaum musyrikin terperangkap dalam formalitas dan penampilan luar. Mereka gagal melihat kebenaran yang dibawa oleh akhlak mulia dan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika Allah menjawab, "seandainya di bumi ada malaikat...", hal ini berfungsi sebagai pembuktian bahwa Allah telah memilih format risalah yang paling tepat dan paling sesuai dengan realitas kehidupan manusia di planet bumi.
Hikmah yang bisa kita petik dari pemahaman Al Isra ayat 103 sangatlah mendalam. Pertama, risalah Islam ditujukan untuk semua lapisan manusia, dan metode dakwah harus disesuaikan dengan kondisi audiens. Kedua, keberatan terhadap kenabian manusia menunjukkan penolakan terhadap wahyu itu sendiri, bukan sekadar penolakan terhadap bentuk fisik utusan. Ketiga, Allah selalu memilih jalan yang paling mudah dan paling efektif untuk menyampaikan petunjuk-Nya. Jika manusia membutuhkan rasul dari kalangan mereka, maka Allah penuhi, bukan karena manusia lebih mulia dari malaikat, tetapi karena konteks komunikasi risalah menuntut demikian.
Kesimpulannya, ketika kita merenungkan ayat ini, kita diingatkan bahwa tuntutan yang datang dari nafsu sering kali bertentangan dengan kebijaksanaan ilahi. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Pemilihan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia adalah rahmat terbesar, memastikan bahwa ajaran Islam mudah diakses, dicontoh, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari umat manusia, sebagai penutup dari rangkaian kenabian yang telah dimulai sebelumnya. Kita harus menerima kerasulan ini sebagaimana adanya, yaitu sebagai rahmat yang kontekstual dan sempurna.
Memahami Al Isra ayat 103 membantu kita menghargai kesempurnaan Islam dalam pendekatannya kepada manusia. Ayat ini adalah penegasan bahwa Islam adalah agama yang membumi, namun bersumber dari langit, disampaikan oleh manusia terbaik untuk seluruh umat manusia.