Al-Qur'an adalah pedoman hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan seorang Muslim, mulai dari ritual ibadah hingga etika sosial dan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Di antara ayat-ayat yang secara tegas menetapkan pondasi hubungan tersebut adalah Surah Al-Isra (Bani Israil), khususnya ayat ke-22 dan 23. Ayat ini merupakan pilar utama dalam ajaran tauhid, menolak segala bentuk kesyirikan, dan menekankan bahwa ketaatan tertinggi hanya milik Allah subhanahu wa ta'ala.
Ayat 22 dibuka dengan perintah yang sangat tegas: "La taj'al ma'allahi ilahan akhar" (Janganlah kamu jadikan di samping Allah tuhan yang lain). Ini adalah inti dari ajaran Islam, yaitu penegasan tauhid rububiyah dan uluhiyah. Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengesakan-Nya dalam segala bentuk peribadatan. Penempatan kata "janganlah" (larangan) di awal menunjukkan urgensi dan bahaya dari perbuatan tersebut.
Konsekuensi dari melanggar perintah ini disebutkan dengan jelas: "fataq'uda madzmuuman makhdzoolan" (karena kamu akan menjadi tercela dan terhina). Konsekuensi ini bersifat duniawi maupun ukhrawi. Di dunia, orang yang menyekutukan Allah akan dicela oleh hati nuraninya sendiri dan akan kehilangan kehormatan di mata hamba-hamba Allah yang beriman. Di akhirat, kehinaan tersebut adalah puncak dari kerugian, yakni siksa api neraka.
Transisi dari ayat 22 ke ayat 23 menunjukkan sebuah konstruksi hukum yang sangat logis dalam Islam. Setelah menetapkan bahwa ketaatan tunggal hanya untuk Allah, ayat 23 langsung melanjutkan dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua (Birrul Walidain). Ini bukanlah penyejajaran ibadah, melainkan penempatan prioritas dalam berbakti.
Ayat ini menggunakan kata "wa qadlaa Rabbuka" (Dan Tuhanmu telah menetapkan). Kata "menetapkan" (qadha) di sini mengandung makna perintah yang pasti dan hukum yang mengikat, setara dengan penetapan wajibnya ibadah kepada-Nya. Berbuat baik kepada orang tua ditempatkan segera setelah tauhid karena peran mereka yang instrumental dalam menciptakan dan memelihara eksistensi kita di dunia.
Islam mengajarkan bahwa birrul walidain harus dilakukan dengan cara terbaik, terutama ketika mereka memasuki usia lanjut (masa kritis yang rentan terhadap perubahan emosi dan kebutuhan fisik). Bentuk ketaatan tersebut meliputi:
Jika dilihat secara keseluruhan, Al-Isra ayat 22 dan 23 mengajarkan tentang bagaimana manusia seharusnya mengatur skala prioritas penghidupannya. Allah harus menjadi tujuan akhir dan satu-satunya objek ibadah. Setelah itu, bentuk ketaatan tertinggi yang bisa dilakukan manusia di dunia adalah berbakti kepada orang tua, karena keduanya adalah jalan yang menunjukkan kualitas iman seseorang.
Seseorang yang mampu menjaga tauhidnya (tidak menyekutukan Allah) secara otomatis akan memiliki fondasi moral yang kuat untuk menerapkan perintah-perintah sosial seperti berbakti kepada orang tua. Sebaliknya, kegagalan dalam menjaga tauhid seringkali diikuti dengan kerusakan akhlak, termasuk durhaka kepada orang tua. Ayat-ayat ini, walau terpisah oleh satu nomor, sesungguhnya saling menguatkan dalam membentuk karakter Muslim yang utuh: teguh dalam ibadah kepada Khalik, dan penuh kasih sayang kepada makhluk terdekatnya.
Memahami dan mengamalkan kedua ayat ini adalah kunci untuk mencapai keridaan Ilahi dan kehidupan yang damai serta terhormat di dunia maupun akhirat. Ketaatan yang benar dimulai dari pengakuan absolut terhadap keesaan Allah, yang kemudian diwujudkan melalui perlakuan terbaik kepada manusia, dimulai dari orang tua kita.