Representasi visual perjalanan dan pengetahuan.
Al Isra ayat 4 adalah bagian penting dari surah yang menyoroti dua kali pertentangan atau peristiwa penting yang dialami oleh Bani Israil dalam sejarah mereka. Ayat ini secara spesifik berbicara tentang janji Allah terhadap mereka setelah kehancuran pertama, yaitu pembebasan dan penguatan kembali kekuasaan mereka di bumi, setelah mereka terperosok dalam kezaliman dan kemaksiatan.
"Dan Kami tetapkan atas Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan berlaku sombong yang melampaui batas." (QS. Al-Isra: 4)
Ayat ini tidak hanya sekadar pemberitahuan historis, tetapi juga peringatan keras. Allah memberitahukan bahwa setelah menerima nikmat kekuasaan pertama (setelah keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa as.), mereka akan kembali jatuh dalam perilaku buruk. Perilaku buruk ini didefinisikan sebagai melakukan kerusakan (fasad) dan kesombongan (uluwwun kabir) yang melampaui batas.
Kerusakan (fasad) yang dimaksud mencakup berbagai bentuk penyimpangan sosial, politik, dan moral. Ini bisa berupa penindasan terhadap sesama, pengkhianatan terhadap perjanjian ilahi, dan penyebaran kemungkaran. Dalam konteks sejarah mereka, fasad ini seringkali memicu intervensi eksternal yang menghancurkan kekuatan mereka.
Sementara itu, kesombongan yang melampaui batas (uluwwun kabir) adalah akar dari banyak kerusakan tersebut. Ketika suatu kelompok merasa dirinya superior secara mutlak, mereka cenderung meremehkan ajaran agama, menganiaya pihak yang lemah, dan menolak kebenaran yang datang dari Allah. Kesombongan inilah yang membuat mereka lupa diri akan rahmat yang telah diberikan sebelumnya.
Bagian kedua dari ayat ini—yang sering dibahas dalam tafsir—berbicara tentang janji Allah akan mengirimkan hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan besar untuk menghukum mereka. Penghukuman ini datang sebagai konsekuensi langsung dari perbuatan fasad dan kesombongan mereka. Dalam catatan sejarah, peristiwa ini diinterpretasikan merujuk pada penaklukan oleh bangsa-bangsa kuat seperti Asyur dan kemudian Babilonia (Nebukadnezar), yang memicu pembuangan dan penderitaan panjang bagi Bani Israil.
Namun, janji Allah juga mencakup pemulihan. Setelah kegagalan pertama dan hukuman yang menyertainya, mereka diberi kesempatan kedua untuk bangkit dan mengelola kekuasaan di tanah suci. Janji ini menunjukkan sifat rahmat Allah yang berulang, namun rahmat tersebut selalu disertai dengan syarat kepatuhan terhadap nilai-nilai kebenaran.
Meskipun ayat ini berbicara spesifik tentang Bani Israil, prinsip yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan abadi. Setiap umat atau bangsa yang menerima karunia berupa kemakmuran, kekuasaan, atau keunggulan ilmu pengetahuan harus waspada terhadap dua jebakan utama: melakukan kerusakan di bumi dan jatuh dalam kesombongan kolektif.
Di era modern, 'kerusakan di bumi' bisa mengambil bentuk eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, ketidakadilan struktural, atau penyebaran kebohongan massal. Sementara 'kesombongan' termanifestasi dalam sikap menganggap remeh budaya lain, penolakan terhadap kritik konstruktif, atau keyakinan bahwa kemajuan teknologi menjamin superioritas moral.
Al Isra ayat 4 berfungsi sebagai pengingat bahwa nikmat keduniawian bersifat sementara dan dapat dicabut jika manusia menyalahgunakan amanah. Kehancuran yang datang bukanlah tanpa sebab, melainkan hasil logis dari penyimpangan moral yang dilakukan sendiri. Bagi umat Islam saat ini, ayat ini menekankan pentingnya menjaga integritas sosial dan spiritual, memastikan bahwa kekuatan yang dimiliki (baik individu maupun kolektif) digunakan untuk kebaikan, bukan untuk menindas atau menyebarkan kezaliman.
Kesimpulannya, pesan Al Isra ayat 4 adalah bahwa Allah memberikan kesempatan pemulihan, namun siklus kehancuran karena kesombongan dan kerusakan adalah pola yang berulang jika pelajaran sejarah diabaikan. Kembalinya kejayaan selalu bergantung pada sejauh mana umat mampu menundukkan ego dan menaati prinsip keadilan ilahi.