Memahami Keagungan Ilahi: Al-Isra Ayat 40

Simbol Ketuhanan dan Keunggulan Ilustrasi abstrak yang mewakili kebesaran Tuhan dan penolakan terhadap kemusyrikan, menggunakan bentuk geometris dan garis yang mengarah ke atas.

Al-Qur'an adalah pedoman hidup yang komprehensif, dan setiap ayatnya mengandung hikmah dan pelajaran mendalam. Salah satu ayat yang sangat tegas mengenai tauhid (keesaan Allah) adalah Surah Al-Isra ayat 40. Ayat ini memiliki posisi penting dalam menegaskan keunikan dan kemuliaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sambil secara eksplisit menolak segala bentuk persekutuan atau klaim ketuhanan lainnya.

Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 40

أَفَأَسْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِنَاثًا ۚ إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا
(1) Apakah Tuhanmu, (wahai orang-orang musyrik), mengkhususkan bagimu anak laki-laki, dan Dia mengambil untuk diri-Nya anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan perkataan yang sangat mungkar.

(QS. Al-Isra [17]: 40)

Konteks Penegasan Tauhid

Ayat 40 dari Surah Al-Isra (Bani Israil) ini merupakan bagian dari rentetan ayat-ayat yang membantah keyakinan kaum musyrik Mekah. Pada masa itu, banyak dari mereka yang masih memegang tradisi jahiliyah, termasuk menyematkan jenis kelamin tertentu kepada Allah SWT atau meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah. Keyakinan semacam ini adalah puncak dari kesesatan logis dan penodaan terhadap kesucian Sang Pencipta.

Allah SWT memulai ayat ini dengan kalimat tanya retoris yang sangat keras: "Afa asfaakum Rabbukum bil banin..." (Apakah Tuhanmu mengkhususkan bagimu anak laki-laki?). Pertanyaan ini berfungsi untuk menyadarkan mereka betapa absurdnya anggapan tersebut. Dalam budaya Arab jahiliyah, anak laki-laki lebih diunggulkan daripada anak perempuan. Dengan menuduh Allah memilih anak laki-laki bagi diri-Nya sendiri, mereka secara tidak langsung menggambarkan Allah seolah-olah memiliki preferensi duniawi dan kekurangan, sebuah anggapan yang sangat tercela.

Penolakan Keras Terhadap Klaim Malaikat sebagai Putri Allah

Puncak penolakan dalam ayat ini adalah tuduhan bahwa mereka menganggap malaikat sebagai anak perempuan Allah: "...wa attakhadha minal malaa'ikati inātha.". Dalam pandangan Islam, malaikat adalah makhluk mulia yang diciptakan dari cahaya (nur) dan bertugas murni untuk taat dan melaksanakan perintah Allah. Mengaitkan jenis kelamin pada malaikat, apalagi menjadikannya "putri" Allah, adalah tindakan kekufuran yang fatal.

Mengapa penolakan ini begitu penting? Karena klaim tersebut merusak konsep Asma'ul Husna dan Sifatullah. Allah SWT Maha Sempurna, tidak membutuhkan pasangan, tidak melahirkan, dan tidak dilahirkan. Menggambarkan-Nya memiliki anak—baik laki-laki maupun perempuan—adalah menyamakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya yang memiliki keterbatasan biologis dan kebutuhan akan keturunan untuk melanggengkan eksistensi.

"Qawlan 'Adziman" – Ucapan yang Sangat Mungkar

Ayat ini ditutup dengan peringatan tegas: "Innakum lataquuluuna qawlan 'adzima." (Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan perkataan yang sangat mungkar/besar dosanya). Kata 'adzim (besar) di sini menunjukkan betapa mengerikannya kedustaan tersebut di hadapan Allah. Ini bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan penyesatan akidah yang mengguncang fondasi iman.

Pelajaran penting dari Al-Isra ayat 40 adalah kewajiban umat Islam untuk senantiasa menjaga kemurnian tauhid. Kita harus menolak segala bentuk tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya. Allah tidak serupa dengan apa pun di dalam ciptaan-Nya, dan kesempurnaan-Nya tidak memerlukan atribut-atribut yang melekat pada makhluk fana seperti jenis kelamin atau keturunan.

Ayat ini menggarisbawahi bahwa akal sehat pun seharusnya menolak anggapan tersebut. Jika seseorang ditawari untuk mengambil yang terburuk (anak perempuan dalam konteks sosial jahiliyah) dan memberikan yang terbaik (anak laki-laki) kepada Tuhannya, ini menunjukkan betapa dangkal dan tercelanya pemikiran mereka yang justru menisbatkan hal yang paling rendah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, merenungkan ayat ini membantu memperkuat pemahaman kita bahwa ketaatan sejati hanya datang melalui pengenalan yang benar terhadap keagungan dan keunikan Allah.

🏠 Homepage