Konteks Penjelasan Ayat
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah dan pelajaran penting. Ayat ke-44 secara spesifik menegaskan salah satu prinsip fundamental dalam tauhid: kemahakuasaan dan penguasaan mutlak Allah SWT atas segala sesuatu di alam semesta. Ayat ini berfungsi sebagai bantahan terhadap anggapan bahwa ada kekuatan lain yang memiliki kendali independen atas sumber daya atau takdir.
Fokus utama ayat ini terletak pada dua klausa penting: kepemilikan khazanah (kekayaan) dan penetapan ukuran (ketentuan). Ketika Allah menyatakan bahwa khazanah segala sesuatu ada di sisi-Nya, ini mencakup tidak hanya harta benda materiil seperti emas atau perak, tetapi juga segala bentuk sumber daya: pengetahuan, hujan, kehidupan, kematian, dan bahkan keberadaan itu sendiri. Tidak ada satu pun entitas di bumi atau di langit yang memiliki cadangan tersembunyi yang tidak diketahui atau dikuasai oleh Allah.
Makna "Khazanah" (Kekayaan)
Konsep "khazanah" (خَزَاۤىِنُهٗ) seringkali diterjemahkan sebagai "perbendaharaan" atau "harta kekayaan". Dalam tafsir klasik, ini sering dikaitkan dengan kekayaan materi. Namun, para mufassir modern menekankan bahwa maknanya jauh lebih luas.
- Kekayaan Materi: Rezeki, minyak bumi, mineral, dan segala sumber daya alam. Semua itu berada dalam kendali penuh Allah.
- Kekayaan Ilmu dan Hikmah: Pengetahuan tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Allah adalah sumber tunggal ilmu yang hakiki.
- Kekuatan dan Otoritas: Kekuasaan untuk menghidupkan dan mematikan, memberi manfaat dan menolak bahaya, hanya milik Allah semata.
Ayat ini mengajarkan bahwa permintaan atau harapan untuk memperoleh sesuatu harus diarahkan kepada Sang Pemilik Hakiki, yaitu Allah. Menggantungkan harapan pada selain-Nya adalah bentuk kesyirikan yang halus.
Pentingnya "Qadar Ma'lum" (Ukuran yang Tertentu)
Klausa kedua, "dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu" (وَمَا نُنَزِّلُهٗٓ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُوْمٍ), melengkapi klausa pertama. Meskipun segala sesuatu ada di sisi Allah, bukan berarti Dia akan memberikannya tanpa batasan atau tanpa waktu. Segala sesuatu yang diturunkan (baik itu rezeki, wahyu, atau peristiwa) telah ditetapkan ukurannya oleh Allah.
Penetapan Ukuran (Qadar) ini memiliki implikasi mendalam bagi seorang Muslim:
- Ketenangan Hati: Jika rezeki kita terbatas, itu karena itulah ukuran terbaik yang Allah tetapkan untuk kita saat ini. Ini mendorong sikap qana'ah (merasa cukup).
- Ketepatan Hikmah: Setiap pemberian atau pencabutan memiliki tujuan yang pasti dalam kerangka waktu yang telah ditetapkan-Nya. Tidak ada yang terjadi sia-sia.
- Tanggung Jawab Ikhtiar: Meskipun ukurannya telah ditentukan, manusia tetap diperintahkan untuk berusaha (ikhtiar) karena usaha itu sendiri merupakan bagian dari ukuran yang telah ditetapkan tersebut.
Implikasi Spiritual Ayat 44 Al-Isra
Memahami Al Isra ayat 44 mendorong seorang mukmin untuk memiliki pandangan hidup yang teguh pada konsep tauhid al-asma was-sifat (mengimani nama dan sifat-sifat Allah). Ketika kita yakin bahwa kekayaan sejati dan pengelolaan alam semesta hanya ada di tangan Allah, secara otomatis pola pikir kita akan berubah. Kita akan berhenti mengejar dunia secara berlebihan karena kita tahu bahwa "stok" dunia itu terbatas dan dikelola oleh Sang Maha Kaya.
Sebaliknya, kita akan lebih giat berinvestasi pada hal-hal yang tidak memiliki batas ukuran di sisi Allah, yaitu amal saleh dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab, hanya rahmat dan karunia-Nya lah yang bisa diturunkan tanpa dibatasi oleh perhitungan material yang ketat—walaupun dalam konteks amal saleh, ganjaran di akhirat juga memiliki tingkatan mulia yang telah ditentukan oleh janji-Nya. Ayat ini adalah pengingat bahwa kepemilikan sejati adalah milik Ilahi, dan manusia hanya dipercaya sebagai pemegang amanah sementara.