Al-Qur'an adalah pedoman hidup yang memuat kisah-kisah umat terdahulu sebagai pelajaran berharga bagi generasi sesudahnya. Salah satu ayat yang menyoroti konsekuensi dari perbuatan buruk umat terdahulu adalah Surah Al-Isra' ayat 5. Ayat ini secara spesifik berbicara tentang janji hukuman yang akan ditimpakan kepada Bani Israil (Israel) atas kezhaliman dan pembangkangan mereka terhadap perintah Allah.
"Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: 'Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar.'" (QS. Al-Isra: 5)
Konteks Historis dan Makna Ayat
Ayat kelima dari Surah Al-Isra' (juga dikenal sebagai Al-Isra' wal Mi'raj) ini menegaskan bahwa Allah telah menginformasikan melalui Taurat tentang dua kali kehancuran besar yang akan menimpa Bani Israil akibat pelanggaran mereka. Tafsir ulama umumnya sepakat bahwa "dua kali kerusakan" ini merujuk pada dua periode kehancuran fisik dan spiritual yang berbeda.
Kerusakan pertama sering dikaitkan dengan penyerbuan tentara asing yang menghancurkan Baitul Maqdis (Yerusalem) dan menawan sebagian besar penduduknya. Hal ini terjadi setelah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan mulai menyimpang dari ajaran yang lurus. Kehancuran ini ditandai dengan pengusiran dari tanah yang dijanjikan dan hilangnya kekuasaan.
Sifat Kerusakan: Melampaui Batas dengan Kesombongan
Poin krusial dalam ayat ini adalah penekanan pada kata "عُلُوًّا كَبِيرًا" (uluwwan kabira), yaitu "kesombongan yang besar" atau "keangkuhan yang melampaui batas." Kerusakan yang mereka lakukan bukanlah sekadar pelanggaran kecil, melainkan didasari oleh arogansi spiritual dan moral.
Kesombongan ini termanifestasi dalam berbagai bentuk: mengingkari ayat-ayat Allah, membunuh para nabi dan rasul tanpa alasan yang benar, serta merasa diri mereka lebih mulia dari manusia lainnya hanya karena keturunan. Ketika sebuah umat merasa dirinya kebal dari teguran ilahi karena status istimewa yang mereka klaim, maka ancaman kehancuran menjadi semakin nyata. Mereka lupa bahwa kemuliaan di sisi Allah diukur dari ketakwaan, bukan garis keturunan semata.
Pelajaran untuk Umat Kontemporer
Meskipun ayat ini ditujukan secara spesifik kepada Bani Israil, pelajarannya bersifat universal. Setiap kelompok, komunitas, atau bangsa yang diberi nikmat, kekuasaan, atau pengetahuan ilahi, namun kemudian jatuh ke dalam kesombongan, penindasan, dan kerusakan moral, berhak mendapatkan peringatan serupa.
Al Isra ayat 5 mengingatkan kita bahwa penyalahgunaan nikmat akan selalu berujung pada konsekuensi yang setimpal. Kehancuran tidak datang tiba-tiba tanpa sebab; ia adalah hasil akumulasi dari kezhaliman yang dilakukan berulang kali, yang puncaknya adalah kesombongan yang menutup pintu hati dari kebenaran dan nasihat.
Umat Islam hari ini wajib merenungkan pesan ini. Ketika kita merasa di atas angin, meraih kemajuan duniawi, atau mengklaim warisan spiritual, kita harus selalu menjaga kerendahan hati dan keadilan. Karena sejarah telah membuktikan, kesombongan adalah awal dari keruntuhan. Allah Maha Adil, dan janji-Nya pasti akan terwujud—baik dalam bentuk teguran yang mendahului kehancuran kedua, atau penegasan kembali bahwa kedudukan tertinggi hanya bagi mereka yang bertakwa dan menjauhi perbuatan kerusakan di muka bumi.
Memahami Al Isra ayat 5 adalah memahami siklus kekuasaan dan kejatuhan. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan sejati bukanlah pada kemampuan untuk menindas, melainkan pada kemampuan untuk tunduk pada hukum Tuhan dan menegakkan keadilan bagi sesama makhluk-Nya.