Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, menyimpan banyak pelajaran penting mengenai sejarah umat terdahulu dan janji-janji Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman. Salah satu ayat yang sering direnungkan adalah ayat ke-54, yang memberikan ketenangan dan semangat bagi setiap mukmin yang sedang menghadapi cobaan.
Ayat ini berbicara tentang kondisi manusia yang terkadang meragukan kekuasaan Tuhan ketika berada dalam kesulitan, namun Allah menegaskan bahwa pertolongan-Nya adalah kepastian mutlak bagi mereka yang tunduk.
Ayat 54 ini muncul setelah ayat-ayat yang membahas tentang kekuasaan Allah dalam menciptakan langit dan bumi serta bagaimana Dia memberikan rahmat kepada manusia. Secara umum, ayat ini merupakan tantangan tegas dari Allah kepada kaum musyrik (atau siapapun yang menyekutukan-Nya) untuk membuktikan kekuatan sesembahan mereka yang lain.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk berkata kepada mereka: "Panggillah semua 'tuhan' yang selama ini kalian banggakan, yang kalian jadikan sekutu bagi-Ku, dan mintalah mereka untuk menghilangkan kesulitan yang menimpa kalian."
Hasilnya, lanjut ayat tersebut, adalah kekosongan total. Sesembahan selain Allah:
Penekanan pada dua kata kunci ini, 'kashf' (menghilangkan) dan 'tahwil' (mengalihkan), menegaskan bahwa kekuatan sejati dan manajemen takdir hanya berada di tangan Allah. Kesulitan yang datang adalah izin-Nya, dan hanya Dia yang berhak memutuskan kapan dan bagaimana kesulitan itu dicabut atau dialihkan.
Meskipun konteks historisnya ditujukan kepada kaum musyrik Mekkah, relevansi Al-Isra ayat 54 ini tetap abadi. Dalam kehidupan modern, terkadang manusia cenderung bergantung pada 'sesembahan' baru: uang, jabatan, teknologi canggih, atau bahkan hubungan sosial yang kuat, sebagai penentu keselamatan mereka dari kesulitan.
Ayat ini mengingatkan bahwa ketika musibah besar datang—seperti pandemi global, krisis keuangan pribadi, atau penyakit yang tak tersembuhkan—semua sandaran material dan sosial akan terbukti lemah. Pada titik kritis itulah, iman sejati diarahkan kembali kepada sumber kekuatan yang sesungguhnya: Allah SWT.
Ketergantungan penuh (tawakkal) kepada Allah bukan berarti menolak usaha dan ikhtiar, melainkan mengakui batas kemampuan manusia. Kita berusaha sekuat tenaga, namun hasil akhirnya, penyingkiran atau pengalihan kesulitan, mutlak di bawah kendali Sang Pencipta.
Menariknya, ayat yang sangat menekankan kelemahan selain Allah ini sering kali berdekatan dengan ayat yang menjanjikan kemudahan. Meskipun ayat 54 ini merupakan tantangan, ayat-ayat sebelum dan sesudahnya (terutama ayat 53 dan 55) menekankan rahmat dan janji pertolongan Allah kepada Nabi dan orang beriman.
Ayat 55 berbunyi: "Mereka itulah yang diseru dan mereka itu (orang-orang yang berdoa) lebih dekat kepada Tuhan dengan wasilah, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Tuhan, dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya. Sesungguhnya siksa Tuhan itu adalah suatu hal yang patut ditakuti."
Kombinasi ayat ini menciptakan keseimbangan sempurna: penolakan tegas terhadap segala bentuk kesyirikan (Ayat 54) dan penegasan bahwa jalan menuju pertolongan adalah melalui kedekatan dan ketaatan kepada Allah (Ayat 55).
Al-Isra ayat 54 adalah pilar tauhid yang kokoh. Ayat ini adalah penegasan bahwa segala bentuk pertolongan, pencegahan, dan pengalihan kesulitan hanya berada dalam genggaman Allah. Ketika kita merasa terhimpit, Al-Qur'an melalui ayat ini mengajak kita untuk berhenti mencari penolong pada selain-Nya, dan memfokuskan seluruh doa, harapan, dan kepasrahan kita kepada Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Keyakinan ini bukan hanya doktrin, melainkan sumber ketenangan batin yang paling hakiki dalam menghadapi dinamika kehidupan.