Memahami Janji Allah: Al-Isra Ayat 7

Janji Kebaikan

Ilustrasi janji kebaikan dan pertumbuhan.

Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 7

Surah Al-Isra (atau Bani Israil) ayat ke-7 adalah ayat yang penuh makna mengenai konsekuensi dari perbuatan manusia, baik itu kebaikan maupun keburukan. Ayat ini menjadi pengingat tegas tentang hukum sebab-akibat dalam pandangan Ilahi.

Arab (Kutipan Makna):

"Jika kamu berbuat baik, (maka kebaikan itu) untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri pula. Kemudian apabila datang janji (pelaksanaan hukuman) yang kedua, (Kami bangkitkan) musuh-musuhmu untuk menyuramkan muka-muka kamu dan untuk memasuki masjid (Baitul Maqdis), sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan segala sesuatu yang kamu kuasai dengan sehabis-habisnya."

(Catatan: Teks di atas adalah terjemahan inti dari Al-Isra ayat 7, merujuk pada konteks janji balasan pertama dan kedua.)

Makna Mendalam Tentang Dua Janji Balasan

Ayat ini secara fundamental berbicara tentang dua skenario utama yang akan dihadapi oleh Bani Israil (dan secara umum, umat manusia) sebagai konsekuensi dari tindakan mereka. Allah SWT memberitahukan bahwa setiap perbuatan akan memiliki dampak yang spesifik dan langsung kembali kepada pelakunya.

1. Balasan Kebaikan (Al-Ihsan)

Bagian pertama ayat menegaskan bahwa jika Bani Israil berbuat baik—yaitu dengan taat kepada Allah, menjalankan syariat-Nya, dan berlaku adil—maka kebaikan itu akan kembali kepada mereka dalam bentuk kemuliaan, keamanan, dan keberkahan hidup. Kebaikan adalah investasi yang hasilnya dinikmati oleh penanamnya sendiri.

2. Balasan Kejahatan (Al-Isra'ah)

Sebaliknya, jika mereka melakukan kerusakan (fasad), melanggar perjanjian, dan berbuat kezaliman, maka keburukan itu akan menimpa mereka sendiri. Ini bukan sekadar ancaman, tetapi sebuah deskripsi hukum alam spiritual yang ditetapkan Allah.

Janji Kedua: Konsekuensi yang Lebih Berat

Poin penting dalam Al-Isra ayat 7 adalah penekanan pada "janji yang kedua" (wa li-tasu'a wujuhakum). Para mufassir menafsirkan ini sebagai pengulangan atau eskalasi hukuman yang akan ditimpakan kepada Bani Israil jika mereka mengulangi kesalahan mereka setelah mendapatkan peringatan pertama.

Konsekuensi yang digambarkan sangat berat:

Pengulangan hukuman ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kesempatan untuk bertobat, namun jika peringatan pertama diabaikan dan kesalahan yang sama diulang, maka hukuman yang datang berikutnya akan jauh lebih dahsyat, menandakan bahwa kesabaran Ilahi telah mencapai batasnya terhadap pembangkangan yang berulang.

Relevansi Kontemporer Al-Isra Ayat 7

Meskipun ayat ini ditujukan secara spesifik kepada Bani Israil dalam konteks sejarah mereka, pelajaran yang terkandung bersifat universal dan abadi. Ayat ini mengajarkan prinsip akuntabilitas moral.

Setiap bangsa, komunitas, atau individu yang melupakan nilai-nilai keadilan, menyebarkan kerusakan, dan mengkhianati amanah, pasti akan menuai hasil dari perbuatannya sendiri. Tidak ada perbuatan baik yang hilang di sisi Allah, dan tidak ada kejahatan yang luput dari perhitungan-Nya.

Bagi umat Islam saat ini, ayat ini berfungsi sebagai pengingat penting bahwa kemajuan dan kemuliaan (izzah) hanya akan diraih melalui ketaatan kolektif dan kebaikan sosial. Sebaliknya, perpecahan, kezaliman internal, dan penyimpangan moral akan selalu mengundang kehinaan dan kesulitan eksternal, seolah-olah musuh terkuat kita adalah cerminan dari kerusakan yang kita ciptakan sendiri.

Oleh karena itu, memahami Al-Isra ayat 7 adalah memahami bahwa nasib kita berada di tangan tindakan kita sendiri. Kebaikan adalah jaminan keberkahan, sementara pengulangan keburukan adalah undangan bagi datangnya kehancuran yang telah digariskan.

🏠 Homepage