Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran spiritual, sejarah, dan petunjuk moral. Di tengah ayat-ayat yang membahas perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra Mi'raj) dan kisah-kisah masa lalu, terdapat satu ayat yang secara khusus menyoroti status luhur manusia di mata Penciptanya, yaitu ayat ke-70.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Sesungguhnya telah Kami muliakan Bani Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra: 70)
Ayat ini diawali dengan penegasan kuat: "Sesungguhnya telah Kami muliakan Bani Adam." Kata "muliakan" (كَرَّمْنَا - Karrramna) menunjukkan bahwa penghormatan ini adalah pemberian langsung dari Allah SWT, bukan hasil usaha manusia semata. Kemuliaan ini meliputi aspek fisik dan spiritual. Secara fisik, manusia dibedakan dari makhluk lain dengan anggota tubuh yang berfungsi sempurna, terutama akal (intelek) dan kemampuan berbicara yang jelas.
Kemuliaan ini juga terwujud dalam pemberian kesempurnaan bentuk. Berbeda dengan banyak hewan yang merangkak atau berjalan dengan empat anggota tubuh, manusia diciptakan tegak lurus (berdiri), yang memudahkan mereka untuk berpikir, membawa beban, dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Bagian selanjutnya ayat 70 menjelaskan bagaimana Allah SWT memfasilitasi kehidupan manusia dalam mengemban amanah kekhalifahan:
Puncak dari ayat ini adalah penegasan superioritas manusia: "dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."
Frasa 'ala katsirin mimman khalaqna tafdhilan (atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan) sangat penting. Ini tidak berarti manusia lebih mulia daripada seluruh ciptaan, karena terdapat makhluk lain yang mungkin unggul dalam aspek tertentu (misalnya, kecepatan burung atau kekuatan gajah). Namun, secara kolektif, manusia diberikan kombinasi unik dari akal, kehendak bebas (ikhtiar), kemampuan berpikir logis, dan kemampuan menerima wahyu ilahi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.
Kemuliaan yang diberikan Allah ini membawa konsekuensi. Status yang tinggi menuntut pertanggungjawaban yang besar. Manusia, dengan akalnya, memiliki pilihan antara jalan kebaikan (yang membawa pada kemuliaan abadi di akhirat) dan jalan keburukan (yang meruntuhkan kemuliaan tersebut).
Ayat Al-Isra 70 berfungsi sebagai pengingat konstan tentang harga diri sejati seorang Muslim. Penghormatan ini bukan terletak pada kekayaan, keturunan, atau kekuasaan duniawi, melainkan pada fitrah kemanusiaan yang ditanamkan Allah sejak awal penciptaan.
Ketika seseorang menyadari bahwa ia telah dimuliakan oleh Sang Pencipta, ia akan cenderung menjaga kehormatan dirinya, menjauhi perilaku yang merendahkan martabat kemanusiaan seperti menipu, merendahkan orang lain, atau menyalahgunakan nikmat akal dan fasilitas duniawi. Ayat ini menggarisbawahi bahwa pemuliaan Allah harus direspons dengan ketaatan dan syukur, bukan dengan kesombongan atau kufur nikmat.
Dengan demikian, Al-Isra ayat 70 adalah deklarasi keistimewaan manusia di alam semesta, sekaligus janji bahwa fasilitas dan kelebihan yang diberikan adalah sarana untuk mencapai tujuan tertinggi, yaitu beribadah dan menjadi khalifah yang baik di bumi.