Makna Mendalam Al-Isra Ayat 7

Ilustrasi Kesempatan dan Janji Allah Janji Kedua

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran dan mukjizat, terutama yang berkaitan dengan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra Mi'raj). Salah satu ayat penting dalam surat ini adalah ayat ketujuh, yang berbicara tentang janji Allah SWT terkait konsekuensi dari perbuatan baik dan buruk umat manusia.

Teks Arab dan Terjemahan Al-Isra Ayat 7

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ ٱلْآخِرَةِ لِيَسُوءُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

(Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu adalah untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu akan kembali menimpamu). Kemudian apabila datang janji yang terakhir, (Kami datangkan musuhmu) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid (Baitul Maqdis) sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan segala sesuatu yang kamu kuasai dengan kebinasaan yang sehancur-hancurnya.

Penjelasan Mendalam Mengenai Janji Allah

Ayat 7 dari Surah Al-Isra adalah peringatan yang sangat tegas dan prinsip keadilan ilahi yang fundamental. Ayat ini terbagi menjadi dua bagian utama yang saling berkaitan, merangkum hukum sebab-akibat (karma) dalam perspektif Islam.

1. Konsekuensi Perbuatan (Kebaikan dan Kejahatan)

Bagian pertama ayat ini menegaskan prinsip dasar akuntabilitas pribadi: "Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu adalah untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu akan kembali menimpamu." Ini adalah pelajaran universal bahwa setiap tindakan, baik atau buruk, memiliki dampak langsung pada pelakunya, bukan hanya pada orang lain. Kebaikan akan menghasilkan ketenangan batin, pahala, dan balasan baik di dunia maupun akhirat. Sebaliknya, kejahatan akan mengotori jiwa dan membawa konsekuensi negatif.

2. Janji yang Terakhir (Al-Akhirah)

Bagian kedua ayat ini menjadi peringatan spesifik mengenai kehancuran yang akan menimpa Bani Israil (keturunan Ya'qub/Israel) karena pembangkangan dan kezaliman mereka terhadap para nabi dan kebenaran. Allah SWT berfirman, "Kemudian apabila datang janji yang terakhir..." Para mufasir menafsirkan "janji yang terakhir" ini merujuk pada kehancuran kedua yang dialami Baitul Maqdis (Yerusalem) oleh bangsa lain, yaitu penaklukan oleh Kekaisaran Romawi setelah mereka membunuh Zakaria dan melakukan berbagai kekejian lainnya.

Allah menggambarkan kehancuran itu dengan gamblang: wajah mereka disuramkan (menjadi sedih, hina, dan penuh keputusasaan), mereka diusir, dan musuh akan memasuki tempat ibadah mereka (Masjid Al-Aqsa) dengan arogansi yang sama seperti saat penaklukan pertama. Tujuan mereka adalah untuk "membinasakan segala sesuatu yang kamu kuasai dengan kebinasaan yang sehancur-hancurnya" (litu’abbirū mā ‘alaw tatbīrā).

Pelajaran Moral dan Relevansi Kontemporer

Meskipun konteks ayat ini secara historis merujuk pada Bani Israil di masa lalu, relevansi Al-Isra ayat 7 bersifat abadi bagi umat Islam dan seluruh umat manusia. Pesan utama yang dapat kita tarik adalah pentingnya menjaga integritas moral dan amal perbuatan.

Pertama, ayat ini mengajarkan tentang tanggung jawab individual. Tidak ada jalan pintas; amal saleh harus dilakukan murni karena Allah, bukan untuk pujian manusia, karena hasil akhirnya akan kembali kepada kita sendiri.

Kedua, ini adalah peringatan bahwa kezaliman dan pembangkangan terhadap hukum Tuhan akan selalu berujung pada kehinaan. Sejarah telah membuktikan berulang kali bahwa peradaban yang dibangun di atas penindasan dan penolakan kebenaran akan mengalami keruntuhan total, sebagaimana diisyaratkan dalam "janji yang terakhir" tersebut. Kehancuran ini bukan sekadar kehilangan kekuasaan, tetapi kehancuran moral dan spiritual yang terlihat jelas pada wajah mereka.

Dengan merenungkan Al-Isra ayat 7, kita diingatkan untuk selalu waspada terhadap perbuatan diri sendiri. Apakah kita menanam kebaikan yang akan kita tuai, atau kita menyebar kejahatan yang pasti akan kembali menghantui? Janji Allah dalam ayat ini adalah janji kepastian, baik itu janji pahala atas ketakwaan maupun janji hukuman atas kesesatan.

Oleh karena itu, mari jadikan ayat ini sebagai pengingat konstan untuk selalu berpegang teguh pada jalan kebenaran dan amal baik, sebab hasil akhir dari setiap tindakan kita sudah ditentukan oleh prinsip keadilan ilahi yang telah ditetapkan dalam firman-Nya.

🏠 Homepage