Memahami Al-Isra Ayat 85: Hakikat Ruh

Ilustrasi Abstrak Pengetahuan dan Ruh ???

Ayat Inti: Al-Isra Ayat 85

Surah Al-Isra (atau Al-Isra’ wal-Mi’raj) adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an, yang menempati posisi penting dalam menyampaikan beberapa prinsip dasar akidah. Salah satu ayat yang sering menjadi bahan perenungan mendalam adalah ayat ke-85, yang membahas tentang hakikat ruh (jiwa) manusia.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan melainkan sedikit.'" (QS. Al-Isra: 85)

Konteks Turunnya Ayat

Menurut riwayat tafsir, ayat ini turun sebagai respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kaum musyrikin Mekah kepada Rasulullah ﷺ. Pertanyaan tersebut tampaknya bersifat menantang, berusaha untuk menguji atau menjebak Nabi Muhammad dalam hal-hal yang berada di luar jangkauan pengetahuan manusiawi biasa. Salah satu pertanyaan yang sering dikaitkan dengan ayat ini adalah mengenai hakikat ruh.

Pertanyaan tentang ruh sejatinya adalah pertanyaan filosofis yang telah menjadi misteri sejak zaman dahulu. Berbeda dengan aspek kehidupan lain yang bisa diamati atau dianalisis secara empiris, ruh—esensi kehidupan itu sendiri—tetap menjadi rahasia Ilahi.

Makna Mendalam "Ruh Itu Termasuk Urusan Tuhanku"

Jawaban Allah melalui lisan Nabi Muhammad ﷺ sangat tegas dan lugas: "Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku' (min amri Rabbī)."

Frasa "urusan Tuhanku" (أمر ربي) menandakan bahwa substansi dan hakikat ruh berada di bawah kendali penuh dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Ini adalah ranah ketuhanan (Ilahiyah) yang tidak dapat dijangkau oleh akal atau metode ilmiah manusia untuk mengungkapnya secara menyeluruh. Dengan jawaban ini, Allah menutup pintu bagi spekulasi tak berdasar dan menegaskan batasan pengetahuan manusia.

Para mufasir menjelaskan bahwa Allah menahan pengetahuan tentang ruh dari manusia bukan karena kekikiran, melainkan untuk menjaga kemuliaan tauhid. Jika manusia mampu menguasai rahasia ruh, ada kekhawatiran bahwa mereka akan mulai menyamakan diri dengan pencipta, atau setidaknya menganggap bahwa pemahaman mereka telah setara dengan kehendak Ilahi.

Keterbatasan Ilmu Manusia: "Tidak Diberikan Ilmu Kecuali Sedikit"

Bagian kedua dari ayat ini, "dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan melainkan sedikit," berfungsi sebagai penutup yang memberikan perspektif kosmologis terhadap posisi manusia di alam semesta. Ayat ini bukan berarti ilmu yang dimiliki manusia tidak berharga, melainkan menegaskan bahwa ilmu tersebut hanyalah setetes air di lautan ilmu Allah yang tak terbatas.

Ayat ini mengandung pelajaran penting mengenai kerendahan hati intelektual. Meskipun manusia telah mencapai kemajuan luar biasa dalam sains, teknologi, dan filsafat, inti dari eksistensi (seperti ruh, hakikat waktu, atau realitas alam gaib lainnya) tetap tersembunyi. Ilmu yang diberikan Allah kepada kita adalah cukup untuk menjalani kehidupan sebagai hamba-Nya, beribadah, dan memakmurkan bumi, namun tidak cukup untuk menguasai misteri penciptaan secara total.

Implikasi Teologis dan Filosofis

Bagi seorang Muslim, Al-Isra ayat 85 mengajarkan beberapa hal krusial:

  1. Menerima Keterbatasan: Mengakui bahwa ada hal-hal yang harus diserahkan kepada pengetahuan Allah. Ini mendorong penerimaan terhadap hal-hal gaib (ghaib) tanpa perlu pemahaman detail yang bersifat empiris.
  2. Fokus pada Ibadah: Karena ruh adalah urusan Allah, fokus manusia seharusnya adalah pada ketaatan terhadap perintah-Nya selama ruh itu masih berada dalam jasad, bukan tersesat dalam usaha yang sia-sia untuk memecahkan kode Ilahi yang tersembunyi.
  3. Menghargai Ilmu yang Ada: Meskipun ilmu kita sedikit, kita tetap diperintahkan untuk menuntut ilmu yang bermanfaat (selama tidak melampaui batas yang ditetapkan). Kemajuan dalam ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan tetap merupakan nikmat yang harus disyukuri.

Pada akhirnya, Al-Isra ayat 85 adalah pengingat abadi tentang keagungan Allah sebagai Sang Pencipta dan keterbatasan makhluk ciptaan-Nya. Ia membatasi ranah tanya jawab manusia pada batas yang diperbolehkan, sambil tetap memberikan penghargaan tinggi atas sedikit ilmu yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

🏠 Homepage