Peristiwa Isra' Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam, menunjukkan kedudukan tinggi Nabi Muhammad SAW serta kebesaran kuasa Allah SWT. Bagian awal dari perjalanan suci ini, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an, terutama dalam Surah Al-Isra (atau Al-Isra wal Mi'raj), menyoroti tujuan dan dampak spiritual dari perjalanan tersebut. Fokus kita kali ini adalah pada ayat 9 hingga 12 dari surah ini, yang memberikan panduan moral yang kuat bagi umat manusia.
Ayat kesembilan ini berfungsi sebagai fondasi naratif. Sebelum membahas perjalanan fisik Nabi, Allah SWT menegaskan sifat Al-Qur'an itu sendiri. Al-Qur'an adalah peta jalan utama yang menunjukkan jalan paling lurus, paling benar, baik dalam akidah maupun amal perbuatan. Bagi mereka yang memegang teguh petunjuk ini dan mengimplementasikannya melalui amal saleh—tindakan nyata kebaikan—dijanjikan balasan yang sangat agung. Ini mengingatkan bahwa mukjizat fisik (Isra' Mi'raj) selalu beriringan dengan petunjuk wahyu yang kekal.
Ayat 10 memberikan kontras tajam. Sementara orang beriman dijanjikan surga dan pahala besar, mereka yang menolak iman kepada Hari Pembalasan—hari perhitungan—diancam dengan siksaan yang menyakitkan. Ayat ini mempertegas prinsip dasar keadilan ilahi: setiap perbuatan, baik atau buruk, akan mendapatkan konsekuensinya di akhirat. Penolakan terhadap kebenaran yang dibawa Al-Qur'an, yang berakar pada keyakinan akan pertanggungjawaban akhirat, adalah dosa besar yang konsekuensinya serius.
Ayat 11 menawarkan wawasan psikologis yang mendalam tentang sifat dasar manusia. Kita cenderung meminta kebaikan (rizki, kesembuhan, kemudahan), namun karena sifat tergesa-gesa dan kurangnya kebijaksanaan, kadang-kadang kita tanpa sadar mendoakan keburukan bagi diri sendiri, misalnya ketika kita terlalu marah atau putus asa. Ayat ini adalah teguran lembut agar manusia senantiasa berhati-hati dalam setiap permohonan dan ucapan, sebab Allah mengabulkan permintaan (termasuk yang buruk) sebagaimana Dia mengabulkan doa kebaikan.
Ayat terakhir ini sangat kaya akan makna. Malam dan siang dijadikan dua ayat (tanda) kebesaran Allah. Pergantian siang yang terang memungkinkan manusia beraktivitas, bekerja, mencari rezeki ("mencari karunia Tuhanmu"). Lebih lanjut, tatanan malam dan siang memungkinkan manusia menciptakan sistem waktu, yaitu perhitungan tahun dan bulan (kalender), yang krusial untuk ibadah dan urusan duniawi.
Poin penutup ayat ini, "Segala sesuatu telah Kami terangkan dengan sedetail-detailnya," menegaskan bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya dalam kebingungan. Petunjuk, hukum, bahkan siklus alam semesta telah dijelaskan secara gamblang. Mukjizat Isra' Mi'raj adalah bukti nyata dari kuasa-Nya, sementara Al-Qur'an adalah bukti nyata dari petunjuk-Nya yang terperinci. Memahami Al-Isra ayat 9-12 membawa kita pada kesimpulan bahwa iman harus diwujudkan dalam amal, sekaligus menuntut kita untuk bertindak bijak dalam setiap permintaan, menyadari keteraturan agung yang telah ditetapkan Allah SWT melalui pergantian siang dan malam.